INSIDEN PIRING TERBANG DI TANJUNG KARANG (1981)
Pengembangan Novel: Kisah Nyaris 'Mendahului Makan' di Acara Selamatan. Penutur/Tokoh Utama: Amrullah Ibrahim (Suku Lubai). Latar Tempat: Enggal, Tanjung Karang, Lampung (Agustus 1981)
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
--- ANGIN KERING TELUK BETUNG DAN KERONCONGAN KOS-KOSAN ---
(Tanjung Karang, medio Agustus 1981)
∘₊✧──────✧₊∘
Bulan Agustus tahun 1981 di Tanjung Karang tidak pernah benar-benar sejuk. Angin kemarau yang berhembus dari arah Teluk Betung membawa uap asin samar, bercampur baur dengan debu tanah merah proyek pengaspalan Jalan Kartini yang belum tuntas. Pada jam lima petang, langit kota kerap berubah menjadi jingga keunguan yang menyengat mata, seakan-akan matahari terbenam dengan rasa dongkol yang dipendam seharian penuh. Namun di dalam bilik kos berukuran tiga kali tiga meter berdinding papan kapur di bilangan Enggal, duniaku jauh lebih sempit dan muram daripada cakrawala Lampung: duniaku hanya berkisar pada bunyi gemuruh di lambung kiri bawahku.
Keroncongan itu bukan lagi sekadar getaran lapar biasa; ia adalah orkestra pemberontakan biologis. Bunyinya seperti dengkur seekor anak kucing hutan yang terkunci di dalam kaleng biskuit Khong Guan berkarat. Sejak azan subuh berkumandang, saluran pencernaanku hanya menerima upeti berupa sebungkus mi instan rebus tanpa telur yang kuahnya sengaja kubuat sebaskom agar terasa mengenyangkan, ditambah sebutir kerupuk putih seharga lima perak yang sudah melempem disapa udara lembap lemari kayu Ibu Ida.
Namaku Amrullah Ibrahim. Usiaku baru menginjak tujuh belas tahun, duduk di kelas dua SMA Nasional Tanjung Karang, dan menyandang predikat yang di desaku terdengar gagah namun di kota terasa memilukan: anak rantau. Aku datang dari marga Lubai, sebuah pelosok berair tenang di hulu pedalaman Sumatera Selatan, tempat di mana rumpun bambu masih menyapa sungai dan tatakrama kekerabatan ditegakkan sekaku batang pohon ulin. Di desa kelahiranku, semua orang mengenal kakek buyutku, silsilah keluargaku, dan tabiat sapiku. Tetapi di Tanjung Karang—kota persinggahan yang sedang menggeliat congkak dengan deru motor bebek Honda bebek Astrea dan bising bioskop misbar—aku hanyalah seorang bocah kurus berkulit sawo matang terbakar matahari yang selalu cemas bila harus menyapa supir angkot.
Tinggal di rumah kos milik Ibu Ida, seorang janda pensiunan pegawai jawatan kereta api yang telinganya setajam radar kapal selam bila mendengar kran air bocor barang setetes, menuntut keahlian bertahan hidup tingkat tinggi. Menjelang akhir bulan, kiriman uang wesel pos dari dusun sering terlambat seperti kereta api uap jurusan Kotabumi. Dalam kondisi perut compang-camping begitulah, secercah mukjizat sosial turun pada suatu sore yang berdebu.
Pak Rahmad, tetangga depan kos yang baru saja diangkat menjadi pejabat kelurahan dan baru merampungkan renovasi rumah batunya yang mentereng, berdiri di pagar teras seraya mengibaskan sarung Samarindanya.
"Amrul! Bocah Lubai!" panggilnya dengan suara bariton yang berat dan renyah. Giginya yang disepuh emas di sudut kiri berkilat menyilaukan tertimpa bias senja. "Nanti malam, bada Isya, datang ke rumah baru Bapak ya. Ada selamatan rumah dan sedekah tolak bala. Jangan sampai tidak datang! Sekalian kamu kenalan sama orang-orang tua terpandang di kelurahan sini. Biar pergaulanmu tidak cuma dari buku fisika sama Ibu Ida yang cerewet itu!"
Demi mendengar kata 'selamatan', saraf-saraf di sekujur tubuhku yang tadinya layu mendadak berbaris tegak seperti tentara upacara tujuh belasan. Dalam benak anak kos yang kekurangan gizi, kata 'selamatan' bukan sekadar upacara kultural; itu adalah padanan dari kenduri surgawi, sebuah konvoi protein hewani dan karbohidrat bersantan yang halal, suci, dan mutlak gratis!
"Siap, Pak Lurah! Insya Allah saya hadir paling awal!" jawabku dengan nada suara yang berusaha kubuat sesopan priyayi, padahal di balik kerongkongan, jakunku sudah naik turun menelan liur angan-angan.
Namun nasib anak muda sering kali ditentukan oleh apa yang tidak ia ketahui di balik pintu ruang tamu bertirai satin.
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
--- BABAK I: BATIK SESAK DAN AROMA SURGA DI BAWAH PETROMAX ---
(Ketika aroma rempah membongkar pertahanan iman seorang perantau)
∘₊✧──────✧₊∘
Pukul setengah delapan malam, aku berdiri di depan cermin lemari pakaian Ibu Ida yang sudah berjamur di bagian sudutnya. Pilihan busanaku untuk menghadiri perhelatan akbar kaum elite kelurahan ini sangat terbatas, atau lebih tepatnya tragis: hanya ada satu kemeja batik katun lungsuran dari Paman Bakar yang tinggal di Prabumulih. Batik itu bermotif parang rusak berwarna cokelat sogan tua, berbahan tebal kaku seperti terpal becak, dan yang paling celaka, ukurannya dibuat untuk paman yang bertubuh buntet. Di badanku yang cungkring dan bertulang iga menonjol, lingkar dadanya pas-pasan, tetapi panjang lengannya menggantung canggung tepat tiga jari di atas mata pergelangan tangan.
Tiap kali aku merentangkan siku, terdengar bunyi derit benang jahit ketiak yang mengerang menahan beban robek. Ditambah minyak rambut Lavender sisa seperempat botol yang membuat jambulku licin berkilap seperti kepala belut sawah, aku melangkah keluar kos dengan keyakinan goyah seorang serdadu tak terlatih yang dikirim ke medan diplomasi tingkat tinggi.
Malam itu, kediaman baru Pak Lurah Rahmad benderang benderang laksana istana di tengah rimba. Dua buah lampu petromax berdaya lima ratus lilin tergantung di balok plafon teras, mendesis-desis tegang bagai sepasang ular sendok yang sedang menjaga sarang. Bau spirtus bakar bercampur dengan harum kapur sirih, asap rokok kretek Gudang Garam Merah, dan semerbak minyak wangi melati non-alkohol yang dipakai bapak-bapak terhormat sekampung.
Begitu melintasi ambang pintu berukir jepara, nyaliku langsung ciut seketika. Ruang tamu itu beralaskan tikar pandan anyaman tebal yang masih berbau getah daun segar. Di atasnya, bersila rapat sekitar dua puluh orang pria dewasa. Mereka bukan orang sembarangan: ada bapak ketua RW yang berpeci hitam miring dengan kumis tipis ala diplomat zaman Sukarno, ada mantri kesehatan kelurahan yang selalu berkacamata bingkai tanduk tebal, ada para saudagar toko kelontong Pasar Bawah, dan tentu saja sang empu hajat, Pak Rahmad, yang duduk bersila anggun memakai baju koko sutra putih gading.
Aku adalah satu-satunya entitas biologis di ruangan itu yang belum memiliki KTP seumur hidup dan masih terdaftar sebagai pemegang kartu pelajar SMA. Dengan langkah merayap bagai kadal rumpun pisang, aku menyelinap ke saf paling belakang, mepet ke dinding bata yang catnya masih terasa dingin lembap.
"Duduk sini, Amrul! Jangan menyendiri macam anak ayam hilang induk," bisik Pak Rahmad dari kejauhan seraya melambaikan tangannya dengan murah hati. Tamu-tamu lain menoleh sejenak. Aku tersenyum kaku selebar daun jarak, mengangguk berkali-kali hingga leherku pegal, lalu bersila di pojok kanan.
Tepat di sebelah kiriku, duduk seorang pria paruh baya bertubuh gempal kekar. Dadanya bidang terbungkus safari abu-abu dinas, dan di bawah hidungnya membentang kumis hitam lebat yang ujungnya melengkung turun bagai ekor musang garang. Matanya sipit tajam, urat-urat di lehernya mencuat kokoh. Dari lencana kecil yang tersemat di kerahnya, aku tahu beliau adalah figur yang sangat disegani: Pak RT Hasan, pensiunan tentara teritorial yang terkenal tak pernah tersenyum di sembarang tempat. Kehadiran beliau di sebelahku seketika menurunkan suhu tubuhku sebanyak dua derajat Celsius.
Namun segala rasa gentar terhadap Pak RT Hasan lenyap tersapu badai ketika empat orang pemuda karang taruna melangkah masuk membopong nampan seng besar. Di atas nampan itu tersusun piring-piring porselen putih ceper dengan tutup tudung saji mini yang teranyam rapi dari bilah bambu dicat merah marun.
Piring itu diletakkan tepat di depanku. Jaraknya hanya sejengkal dari lutut celana abu-abu SMA-ku.
Dan ya Tuhan di langit ketujuh... aroma yang merembes keluar dari celah anyaman tudung saji itu adalah simfoni nafsu makan paling kejam yang pernah diciptakan manusia. Harum kunyit segar berpadu dengan gurih santan kelapa tua yang dimasak arang, wangi daun pandan dan serai yang membius indra, serta semerbak minyak ayam kampung goreng bumbu ketumbar. Dari celah bawah tudung saji, terlihat pendar kuning keemasan butiran nasi pulen yang mengepulkan uap tipis, ditemani selendang telur balado berminyak merah pedas, irisan tempe orek berkilat kecap manis cap Sate, dan secuil sambal terasi matang yang aromanya sanggup membangkitkan orang mati suri.
Di sebelah piring, segelas es teh manis bergula tebu asli berdiri tegak dengan bulir-bulir embun dingin yang meleleh malas di dinding kaca. Bunyi derik es batu yang perlahan mencair berdentang di telingaku bagai seruan lonceng katedral kebahagiaan.
Lambungku meraung. Jeritannya begitu nyaring di ruang batinku, hingga aku bersumpah takut getarannya terdengar oleh Pak RT Hasan di sebelahku. 'Makan aku, Amrul,' bisik kepulan uap nasi kuning itu dalam halusinasiku. 'Untuk apa kau tunggu lagi? Bukankah Pak Lurah mengundangmu untuk makan? Tuhan tidak menciptakan nasi selezat ini untuk dibiarkan dingin dan masuk angin!'
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
--- BABAK II: PERGOLAKAN BATIN, DOA YANG PANJANG, DAN CENGKERAMAN TAKDIR ---
(Detik-detik paling dramatis antara adab kesopanan dan dorongan hewani)
∘₊✧──────✧₊∘