JUDUL: GULA JAWA MELEDAK DI MULUT AMRULLAH
SUBJUDUL: Sebuah Novel Komedi Psikologis, Retrospeksi Emosional, dan Martabat Bocah Perantau.LATAR: Desa Datar Lebuay, Lampung Barat / Tanggamus, Maret 1973
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
BABAK I: HIMPITAN MARTABAT DAN SEBUTIR BOM HIJAU PANDAN
Ketika aroma gula kelapa yang mendidih meruntuhkan wibawa seorang bocah Lubai di atas tikar pandan
∘₊✧──────✧₊∘
Pada suatu senja yang basah di bulan Maret tahun 1973, dunia terasa berputar jauh lebih cepat daripada detak jantungku sendiri. Namaku Amrullah Ibrahim. Di kartu ujian sekolah dasar berstempel tinta ungu luntur, aku tercatat sebagai murid kelas lima Sekolah Dasar Negeri Datar Lebuay. Namun di balik seragam putih kelabu yang sudah mulai kehilangan kancing bawahnya, aku hanyalah seorang bocah suku Lubai yang masih menatap dunia baru ini dengan mata menyipit penuh kecurigaan. Kami sekeluarga belum genap setahun menjejakkan kaki di tanah berdebu Datar Lebuay—sebuah lembah yang dipagari punggung bukit berhawa lembap, tempat percampuran antara para perambah kebun kopi Semende, pendatang Lubai dari hilir, serta beberapa keluarga Jawa transmigran yang bicaranya selalu terdengar berbisik santun bagai air pancuran bambu.
Tantangan hidup terbesarku di lembah ini bukanlah menghafal peta buta Pulau Sulawesi pada pelajaran ilmu bumi, ataupun meringkuk ketakutan saat guru matematika memukulkan mistar kayu panjang ke papan tulis hitam karena perkalian tujuh yang membingungkan. Bukan itu. Ujian terberat bagi seorang anak laki-laki Lubai berusia sebelas tahun adalah menavigasi rimba adat, tatakrama, dan perangkap linguistik di tanah orang lain. Di rumah kami di dusun asal, berbicara keras adalah tanda kejujuran dada; tetapi di Datar Lebuay, suara yang terlalu lantang dianggap tanda kurang ajar atau orang yang sedang kesurupan jin hutan. Ayahku, Ibrahim—lelaki dengan urat leher sekeras akar rotan dan sorot mata kelam yang tak pernah meneteskan air mata—telah menancapkan petuah keramat itu ke tempurung kepalaku sebelum kami berangkat: "Amrul, di mana bumi dipijak, di situ langit kau junjung tinggi-tinggi. Jangan pernah kau buat malu nama suku Lubai. Di rantau orang, kalau kau lapar, telan liurmu sendiri sampai kenyang; jangan pernah tampak melarat atau rakus di depan hidung tetangga!"
Dan malam itu, petuah keramat Ayah sedang dipertaruhkan di atas selembar tikar pandan yang anyamannya terasa menggores kulit betisku.
Malam Jumat itu adalah peringatan tahlilan hari ketujuh berpulangnya Pak Kades Datar Lebuay. Seluruh lelaki di desa berkumpul di rumah panggung berdinding kayu jati tua yang megah itu. Bau minyak tanah dari lampu petromax yang mendesis di langit-langit bercampur dengan kepulan asap rokok linting cengkih daun nipah, aroma kemenyan samar, dan keringat puluhan pria dewasa yang duduk berdesakan bersila. Aku duduk di barisan belakang dekat tiang penyangga tengah, dihimpit oleh dua karibku: Udin, bocah kurus kerempeng yang peci beludrunya selalu miring lima belas derajat ke kiri seakan kepalanya ditarik medan magnet bumi, serta Joni, bocah berpipi gembil bagai bakpao kukus yang lubang hidungnya selalu kembang kempis setiap kali mencium bau makanan.
Sejak lepas waktu salat asar tadi, perutku sejatinya sudah melantunkan gending penderitaan. Di gubuk kami, periuk nasi hanya menyisakan kerak kering yang bahkan ayam jantan Ayah pun enggan mematuknya. Aku hanya sempat meminum tiga teguk air kendi dingin yang berbau tanah liat dan menelan sejumput garam dapur untuk mengelabui rasa mual. Kini, setelah hampir satu jam kami menundukkan kepala, mengalunkan kalimat tahlil bersama Pak Kiai yang bersuara serak-serak basah, aroma dari arah dapur belakang kian membabi-buta mengoyak benteng ketahanan jiwaku.
"Amrul..." bisik Joni dengan sudut bibir yang nyaris tak bergerak, pandangannya lurus ke depan seolah sedang khusyuk bertafakur, padahal matanya berkilat liar. "Kau cium itu? Itu bau santan kental yang baru mendidih... Demi Tuhan yang menguasai kebun kopi, kalau doa ini lewat sepuluh menit lagi, lambungku akan mencerna usus buntuku sendiri."
"Diam kau, Joni!" tukas Udin dengan desisan tajam dari balik peci miringnya. "Jaga martabatmu. Di sampingmu itu ada Pak Guru Madi. Kalau beliau mendengar perutmu bersiul, besok pagi kau disuruh lari keliling lapangan upacara sambil menggendong batu bata!"
Aku melirik ke sisi kiriku. Di sana duduk Bapak Madi. Beliau adalah guru kelasku, seorang pria berusia empat puluhan dengan guratan wibawa yang tak terbantahkan, kemeja safari lengan pendek abu-abu yang disetrika rapi dengan arang, dan tatapan mata elang yang mampu mendeteksi murid yang sedang menyontek dari jarak sepuluh meter. Namun di balik ketegasannya, seluruh murid tahu beliau menyimpan sepasang mata yang selalu geli melihat tingkah laku manusia. Saat itu beliau sedang menunduk, butir-butir tasbih kayu gaharu berputar pelan di jemarinya yang kokoh.
Doa penutup akhirnya berkumandang. Kata 'Aamiin' yang diserukan ratusan mulut lelaki terdengar bagai pelepasan beban berat dari pundak bukit. Seketika itu pula, suasana hening yang sakral mencair menjadi dengungan obrolan desa yang hangat. Dan dari balik tirai dapur bertaplak kain mori putih, muncullah iring-iringan ibu-ibu desa membawa nampan-nampan seng besar bermotif kembang teratai merah menyala.
Duniaku seketika mengerucut menjadi lingkaran nampan yang diletakkan tepat di hadapan kelompok kami. Di atas nampan itu terhidang secangkir kopi hitam mengepul untuk Pak Guru Madi, beberapa potong pisang rebus, kacang tojin, dan di tengah-tengahnya... sebuah gundukan megah berisi bulatan-bulatan kue berwarna hijau pandan pekat, terselimuti parutan kelapa muda kukus yang putih bersih laksana salju di buku geografi.
"Kelepon ubi kayu..." bisik Joni dengan nada pemujaan yang nyaris menangis.
Itu bukan klepon tepung ketan biasa seperti yang pernah kulihat di pasar pekan. Ini adalah penganan khas para perintis hutan Lebuay: parutan singkong mukibat pilihan yang dipadatkan dengan sari perasan daun pandan hutan, dikukus hingga kenyal liat, dan di perutnya dibenamkan sebongkah gula merah aren pekat yang konon dimasak langsung dari bumbung sadapan pohon enau di tepi jurang.
Pergolakan jiwaku mencapai puncak klimaks yang mencekam. Di telinga kananku, suara bariton Ayah bergema bagai petir kemarau: *'Orang Lubai punya harga diri! Jangan ulurkan tanganmu sebelum tetua mengambil bagiannya!'* Namun di telinga kiriku, iblis kelaparan berwujud seringai Joni berbisik manis: *'Ambil, Amrul! Lihat kelapa parutnya yang gemuk itu! Siapa cepat dia kenyang, di dunia ini orang sopan mati kelaparan!'*
Aku melirik orang-orang tua. Mereka masih asyik menyalakan rokok dan bertukar kabar tentang harga getah karet yang anjlok di Telukbetung. Tidak ada satu pun tangan dewasa yang bergerak ke nampan. Pak Guru Madi sedang menepuk bahu seorang tetua kampung di sampingnya, tertawa kecil membahas panen lada. Ini kesempatanku. Ini celah takdir yang sempit. Jika aku mengambilnya dengan gerakan secepat kilat halilintar, tak seorang pun akan menyadari bahwa bocah Lubai ini telah mendahului adat.
Jemariku bergerak. Dingin dan gemetar. Aku mencomot satu bulatan hijau yang paling montok, paling basah oleh parutan kelapa. Teksturnya terasa kenyal, hangat membara, dan luar biasa memikat di ujung kulit jariku. Tanpa membuang tempo satu detik pun—tanpa mengamati bahwa kue itu masih mengeluarkan kepulan asap setipis benang sutra—aku langsung menjejalkannya ke dalam mulutku dan mengatupkan gigi taring serta gerahamku dengan segenap tenaga keputusasaan.
---
BLESSEK... CRRRRROOOOOSSSSHHH!
---
Itu bukan suara gigitan makanan normal. Itu adalah suara detonasi tabung gas mini yang meledak di dalam rongga mulut!
Gula aren cair berkadar panas mendekati titik didih yang terperangkap di ruang hampa kue ubi itu pecah tak terkendali. Alih-alih mengalir ramah membasahi lidah, ia menyembur laksana geyser belerang kawah Sinila! Cairan karamel hitam pekat yang mendidih membakar langit-langit mulutku seketika. Dalam kepanikan biologis murni—refleks antara bertahan hidup dan rasa sakit yang menyengat saraf—mulutku ternganga secara otomatis untuk membuang hawa panas.
Dan saat itulah bencana kosmik terjadi.
Semburan lahar gula jawa itu melesat keluar dari bibirku! Garis magma manis nan panas itu memancar melengkung di udara: sebagian menampar daguku sendiri hingga melepuh perih, semburan kedua menghantam telak bagian dada kemeja putih lungsuran milikku—meninggalkan pulau noda cokelat kehitaman yang melebar mengerikan—dan sisanya, dengan ketepatan bidikan yang terkutuk, menciprat deras mendarat di atas paha celana kain abu-abu milik Bapak Madi!
Keheningan seketika menyapu ruangan seluas enam puluh meter persegi itu.
Lantunan obrolan tentang harga getah karet lenyap tak berbekas. Desisan lampu petromax mendadak terdengar sepuluh kali lebih memekakkan telinga. Joni mematung dengan mulut melongo lebar menyerupai ikan mas koki kehabisan air, sedangkan Udin secara perlahan dan teratur menggeser pantatnya menjauh dariku sejauh setengah meter di atas tikar pandan, seolah-olah ia baru saja duduk di sebelah penderita penyakit lepra stadium akhir.
Aku membeku. Air mata pedih akibat lidah yang melepuh bercampur dengan keringat dingin yang mengalir deras di pelipisku. Gula merah cair masih menetes lambat dari ujung daguku ke pangkuan: *tik... tik... tik...*
Bapak Madi menoleh perlahan ke arah celananya yang ternoda, lalu mengalihkan tatapannya lurus ke mataku. Sorot matanya yang tajam menembus langsung ke bilik jantungku yang berdegup liar bagai genderang perang suku terasing. Malu yang kurasakan bukan lagi sekadar warna merah di pipi; itu adalah rasa malu yang sanggup meruntuhkan silsilah keluarga besar Ibrahim hingga tujuh turunan ke belakang.
Namun sebelum Bapak Madi sempat mengeluarkan satu patah kata pun, tiba-tiba terdengar suara derit engsel kayu yang berkarat dari arah bilik kamar tengah almarhum Pak Kades—pintu yang sejak awal acara telah digembok rapat dengan rantai besi tua. Pintu itu kini menganga dua jengkal.
Dari celah kegelapan bilik yang pekat tanpa penerangan lentera itu, sepasang mata tampak menatap lurus ke arah nampan kue kami, disusul sekelebat tangan kurus berselubung kain kafan putih yang terulur perlahan ke luar lantai papan!
Ledakan gula merah mengotori segalanya, namun derit pintu bilik almarhum membuka kemunculan bayangan misterius berbungkus kain putih kafan!
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
BABAK II: PENGADILAN RUANG GURU DAN BAYANG-BAYANG LILIN MALAM
Ketika kepedihan lidah yang melepuh mengungkap rahasia masa silam di balik laci tua Bapak Madi
∘₊✧──────✧₊∘
Malam kelabu di rumah duka itu memang akhirnya pecah oleh tawa gemuruh para bapak-bapak setelah Bapak Madi menepuk pundakku dan mencairkan suasana dengan kelakarnya yang melegenda: *"Amrullah, Amrullah... lain kali kuenya dibagi dua dulu, jangan langsung diterkam begitu. Gula jawanya 'kan masih panas!"* Namun bagiku, kepedihan itu tidak berakhir saat tawa mereka reda. Sepanjang sisa malam, aku terjaga di atas dipan bambu gubuk kami, menatap atap rumbia yang bocor disinari rembulan pucat, sambil meraba langit-langit mulutku yang mengelupas kasar.
Di dalam dadaku, sebuah perang saudara berkecamuk hebat. Mengapa aku begitu lemah di hadapan sebutir kue ubi? Apakah darah Lubai yang mengalir dalam nadiku ini memang ditakdirkan untuk selalu kalah oleh rasa lapar yang hina? Aku teringat hari pertama kami tiba di Datar Lebuay setahun silam. Gerobak sapi yang mengangkut dua peti kayu pakaian dan perkakas tani kami terperosok ke dalam kubangan lumpur merah sedalam lutut di batas desa. Puluhan pasang mata penduduk lokal berdiri di pematang sawah, menonton kami dalam diam tanpa ada yang mengulurkan tangan. Ayahku tidak meminta tolong. Dengan bahunya yang liat, Ayah mendorong roda gerobak itu sendirian hingga urat-urat di keningnya menonjol ungu kehitaman, sementara aku dan adikku menangis ketakutan di balik karung jagung. Ketika gerobak itu akhirnya terangkat, Ayah menyeka lumpur di wajahnya dan berkata dengan suara parau: *"Tegakkan kepalamu, Amrul. Jangan biarkan mereka melihat air matamu setetes pun. Di tanah ini, orang yang lemah akan dimakan oleh bayang-bayangnya sendiri."*
Dan kemarin malam, aku justru menyemburkan gula jawa ke celana seorang guru di hadapan puluhan pasang mata yang sama!
Keesokan paginya di sekolah, kabut tebal dari Gunung Tanggamus masih menggantung malas di pucuk-pucuk pohon sengon ketika bel besi—potongan rel kereta api tua yang digantung di dekat tiang bendera—dipukul tiga kali oleh penjaga sekolah. *DANG! DANG! DANG!* Suaranya menggema di lembah, mengabarkan dimulainya hari pembalasan.