Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Kultus Validasi

KULTUS VALIDASI: HIKAYAT PEMBURU LIKE TERAKHIR

Liturgi Secangkir Kopi Dingin dan Ilusi Like Terakhir. Tema: Kultus Validasi, Disosiasi Identitas, & Komodifikasi Penderitaan Manusia Modern

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 01: LITURGI SECANGKIR OAT MILK DINGIN DAN 53 KALI JEPRETAN CANDID

Ketika kepedihan lambung dikorbankan demi saturasi warna cokelat hangat di Senopati

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Busa susu gandum itu telah mati sejak dua puluh menit yang lalu.

Ia tidak lagi berbusa anggun membentuk lekuk daun pakis yang simetris, melainkan menyusut menjadi selaput keriput serupa kulit kadal yang dehidrasi di atas cairan cokelat keruh bersuhu kamar. Namun, Bramasta masih melarang Reno menyentuh sendok kecil berbahan kuningan daur ulang tersebut. Di kafe bertembok semen ekspos dengan pencahayaan suram yang mematok harga satu cangkir kopi setara cicilan kompor induksi ini, makanan dan minuman bukanlah asupan biologis; mereka adalah properti liturgi penyerahan diri kepada sang berhala visual.

"Tahan, Ren. Cahaya dari celah kerai kayu jati itu baru kena tulang pipi kanan gue," bisik Bramasta nyaris tanpa menggerakkan bibir, mempertahankan sudut dagu terangkat empat puluh lima derajat—pose yang di dalam kepalanya merepresentasikan kepasrahan seorang biarawan Tibet, kendati di mata pelayan kafe ia hanya tampak seperti pemuda yang lehernya mendadak terkilir saat hendak bersin.

"Bram, demi tuhan dan seluruh malaikat pencatat amal sia-sia," dengus Reno, kedua tangannya yang memegang gimbal kamera seberat dua kilogram mulai bergetar hebat seperti mesin cuci rusak pada putaran pengering. "Ini take ke-54. Kopi lo udah dingin kayak tatapan mantan. Tadi ada semut mau nyeberang di bibir cangkir sampe putar balik saking dinginnya itu piring. Kalo lo masih nyuruh gue 'tahan napas biar stabil', paru-paru gue bakal meletus di tempat ini, dan gue ogah mati syahid cuma buat video reels sepuluh detik berlatar musik piano sedih."

"Lo nggak paham vibrasi emosionalnya, Ren!" sela Bramasta dengan desisan tajam yang sarat histeria tertahan. Matanya tetap terpaku pada pantulan bayangan dirinya di layar ponsel Reno. "Reels kemarin engagement-nya anjlok sebelas koma dua persen! Algoritma lagi nuntut nuansa 'vulnerability'. Netizen udah nggak percaya sama senyum pepsodent. Mereka mau liat luka batin seorang pria modern yang tetap anggun merangkul sepi! Nah, sepi itu warnanya krem keabuan, Ren! Sepi itu butuh kontras bayangan yang dramatis di area kantung mata!"

Lidah Bramasta sesungguhnya berdenyut nyeri. Di balik kemeja linen longgar berwarna pasir gurun—yang label harganya masih terselip rapi di kerah belakang agar bisa dikembalikan ke butik esok lusa dengan dalih 'salah ukuran'—lambungnya sedang melolongkan protes keras. Asam lambungnya bergolak hebat, mengirimkan rasa pahit asam ke pangkal tenggorokan. Lidah Bram sejatinya merindukan kopi saset tubruk cap Singa seharga tiga ribu perak yang diseduh air termos berkerak di pos ronda dekat kosannya. Kopi hitam manis pekat yang tidak pernah menuntut siapa pun untuk merenungkan makna keberadaan kosmos di setiap tegukannya.

Namun, pengakuan itu terkubur jauh di bawah tumpukan topeng tebal berlabel @BramZenith. Di hadapan 482 ribu pasang mata yang mengonsumsi asupan ketenangannya tiap subuh, Bramasta adalah seorang pertapa urban yang telah menaklukkan segala nafsu duniawi. Bahwa ia belum membayar uang sewa kos selama dua bulan dan bahwa ponselnya bergetar tiap tiga puluh menit karena teror pesan penagih pinjaman online, adalah detail remeh-temeh fana yang tak layak mencemari kisi-kisi sembilan kotak estetiknya.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian II: RETROSPEKSI KUAH BAKSO DAN DOSA FILTER CLARENDON

Nostalgia tahun 2017 ketika manusia masih sanggup menikmati kuah sumsum tanpa rasa cemas akan sudut pandang

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Di sela-sela pergantian lensa kamera, ketika Reno sedang mengelap peluh di keningnya dengan kaus oblong lusuh, kesadaran Bramasta terlempar mundur melintasi jurang waktu tujuh tahun.

Tahun 2017. Masa ketika dunia belum disekap oleh demam pencahayaan warm-tone dan manusia belum merasa berdosa jika memakan gorengan berminyak di pinggir selokan. Di warung tenda 'Bakso Urat Mas Kumis' di pojok gang Rawamangun, Bramasta pernah menjadi manusia yang bernapas bebas. Di sana, di atas bangku plastik biru yang salah satu kakinya diganjal sobekan kardus mie instan, ia duduk berhadapan dengan Maya.

Minyak cabai merah mengapung liar di atas kuah keruh berkaldu sumsum sapi asli. Asap panas mengepul tanpa tata krama, meniup poni basah Maya yang sedang tertawa terbahak-bahak sampai tersedak remah pangsit goreng. Tidak ada yang peduli tentang komposisi sepertiga bidang datar. Tidak ada kecemasan apakah kuah bakso itu tampak 'organik' atau 'earthy'. Bramasta saat itu hanya tahu bahwa bibir Maya yang kepedasan berwarna merah ranum alami, dan tawa perempuan itu adalah satu-satunya frekuensi suara yang sanggup meredam bising knalpot mikrolet di aspal luar.

Lalu musibah suci itu datang.

Bramasta, yang baru saja membeli ponsel pintar cicilan pertamanya, memotret mangkuk bakso itu dari atas. Ia menggeser tuas filter bawaan aplikasi—sebuah filter bernama Clarendon yang mengubah warna kuah menjadi kebiruan surealis—dan menambahkan sebaris sajak cengeng hasil plagiasi dari penyair Amerika Latin: 'Di balik pedasnya kuah, ada rindu yang mendidih tanpa arah.'

Sepuluh menit kemudian, layar ponselnya berdenyut. Sebuah notifikasi berbentuk hati merah meletup di pojok kanan atas. Lalu satu lagi. Lalu belasan. Puluhan. Ratusan. Dalam tempo tiga jam, unggahan konyol itu dihujani seribu suka. Teman-teman kampusnya yang dulu mengabaikannya mendadak meninggalkan komentar: 'Gila, puitis banget lo, Bram!', 'Aesthetic parah!', 'Ajarin tone warnanya dong!'

Sensasi itu... Tuhan ampuni jiwanya, sensasi itu terasa lebih dahsyat daripada ciuman pertama. Ada sengatan listrik manis yang merayap dari ujung telunjuk kanannya, menjalar lewat urat nadi, lalu meledakkan kembang api dopamin di dasar tengkoraknya. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh satu tahun hidupnya yang hambar sebagai anak yatim piatu penjaga rental komik, Bramasta merasa dilihat. Ia merasa diakui keberadaannya oleh semesta.

Dan itulah awal dari kematiannya sebagai manusia biasa. Sejak malam itu, setiap kali sendok menyentuh makanan, matanya tidak lagi menghitung rasa, melainkan menghitung sudut pantulan cahaya. Setiap kali Maya menangis menceritakan ibunya yang sakit, tangan Bramasta secara otomatis meraba saku celana, menimbang-nimbang apakah kesedihan di pelupuk mata gadis itu cukup fotogenik untuk diunggah sebagai konten refleksi diri.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian III: TEROR METRIK DINI HARI DAN PERTENGKARAN DI BAWAH JEMURAN LEMBAP

Ketika angka interaksi anjlok 42 persen dan aroma cucian apek menjadi vonis mati eksistensial

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Pukul dua dini hari di lantai tiga kos-kosan kawasan Tebet Barat, ilusi keanggunan Zen itu terbakar habis tanpa sisa.

Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu berbau seperti percampuran antara minyak kayu putih, cucian kaus kaki yang gagal kering karena hujan seminggu penuh, dan sisa bungkus nasi padang kemarin siang. Di sudut ruangan, sebuah ring light berdiameter empat puluh sentimeter berdiri timpang karena salah satu kakinya diikat tali rafia ke ujung ranjang besi. Di tengah lantai karpet plastik bergambar kayu jati tiruan, Bramasta duduk bersila dengan hanya mengenakan celana kolor motif kura-kura ninja.

Wajahnya diterangi pendar putih kebiruan dari layar gawai. Bola matanya merah berurat, membelalak menatap satu pemandangan paling mengerikan dalam hidupnya: grafik analytics akun @BramZenith berwarna merah menyala yang menukik tajam ke dasar jurang, bagai hidung pesawat tempur yang kehilangan mesin di tengah badai.

"Minus empat puluh dua koma delapan persen..." gumam Bramasta, suaranya parau bergetar, menyerupai erangan pasien terminal yang baru saja mendengar vonis dokter. "Jangkauan akun gue... anjlok hampir setengah juta orang dalam tujuh hari. Ren, mereka nggak peduli lagi. Dosa apa yang gue perbuat ke algoritma minggu ini? Apakah karena hari Selasa kemarin gue unggah video jam sembilan lewat tujuh menit, bukannya jam sembilan pas?!"

Reno, yang sedang berbaring miring di kasur busa tipis sambil asyik mengunyah rempeyek kacang sisa kenduri tetangga kos, bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar televisi tabung empat belas inci yang menayangkan siaran ulang tinju dunia.

"Dosa lo bukan di jam tayang, Bram," sahut Reno datar, giginya menggiling rempeyek dengan suara kriuk yang memekakkan telinga. "Dosa lo adalah lo ngebosenin. Orang-orang udah enek liat lo tiap pagi nyeduh teh krisan sambil mandang jendela kayak pujangga abad pertengahan yang kena tipus. Sekarang zamannya brutal. Tuh liat akun si @KevinBarbar, umurnya baru sembilan belas tahun, tadi sore dia live streaming makan terasi mentah sambil nangis minta maaf ke tanaman hiasnya, dapet satu koma dua juta views dalam dua jam! Endorse-nya langsung masuk enam belas biji!"

"Gue nggak mungkin makan terasi mentah, Reno!" pekik Bramasta seraya menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Keringat dingin merembas di pelipisnya. "Brand positioning gue adalah mindfulness! Ketenangan batin! Harmoni alam semesta! Kalau gue makan terasi di siaran langsung, kontrak gue sama produsen bantal lateks organik bakal diputus sepihak!"

Lihat selengkapnya