Geger di Los Bumbu & Seni Membaca Batas
Sebuah Eksplorasi Jenaka tentang Bahu, Kedaulatan Ruang, dan Labirin Pasar Tradisional
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian 01: Sengatan Terasi dan Telapak Tangan yang Menggantung
Lorong Bawang, Tawar-Menawar Sengit, dan Hantu Spontanitas Kinestetik
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Pagi di Pasar Bering Anyar tidak pernah menyambut siapa pun dengan keramahan yang steril. Ia menerjang pancaindra seperti seember air cucian beras dingin yang dilemparkan tepat ke muka: aroma pekat terasi udang sangrai yang beradu dengan anyir usus ayam, desing lalat hijau di atas kepala tongkol, dan jerit para bakul sayur yang melengking melebihi sirene ambulans gawat darurat.
"Dua puluh ribu sekilo? Mbok Nem, sampeyan ini jualan cabai rawit apa jualan batu permata akik peninggalan Majapahit?" Ghani bersedekap, dadanya dibusungkan ke depan di hadapan gundukan cabai merah keriting yang menyala bagai lahar dingin Gunung Merapi. Wajahnya dipasang pada setelan paling congkak, meski kami bertiga tahu isi dompetnya hanya memuat dua lembar uang lima ribuan lecek dan selembar karcis parkir kedaluwarsa.
Mbok Nem—wanita paruh baya dengan konde miring berbalut handuk basah dan celemek bernoda kunyit—bahkan tidak repot-repot mengangkat kepalanya dari ulekan batu. Golok kecil di tangan kanannya bergemeretak di atas talenan kayu jati. "Ghani, le! Kalau mau cabai gratisan, petik saja lidahmu sendiri yang pedas itu! Sudah untung tak kucelupkan kepalamu ke gentong bumbu rendang!"
Tawa spontan meledak dari dadaku. Itu adalah jenis tawa renyah yang meletup tanpa sensor, tawa yang biasanya segera mencari jangkar fisik ke dunia nyata untuk berbagi vibrasi kebahagiaan. Dan seperti biasa, mekanika tubuhku bekerja lebih cepat daripada sirkuit kesadaran di korteks serebralku: tangan kananku terangkat ke udara. Telapak tanganku terbuka, siap meluncur turun menepuk bahu Rania—teman baikku yang berdiri setengah jengkal di samping kiriku—untuk merayakan kekalahan diplomasi Ghani.
Namun, tepat dua sentimeter sebelum ujung jemariku menyentuh kain rajut sweater abu-abu yang membungkus bahu Rania, waktu mendadak membeku menjadi kristal es yang dingin.
Sebuah sengatan listrik rasa bersalah menghantam tengkukku. Ingatan kelam dari tiga bulan silam menyeruak naik seperti uap busuk comberan: sebuah sore yang gerimis di sebuah kedai kopi kampus, gelak tawaku yang ceroboh, dan telapak tanganku yang kala itu mendarat santai di pundak Rania. Dan apa yang kuterima saat itu? Bukan tawa balasan, melainkan sentakan bahu yang dingin—sebuah gerak mundur mikro yang begitu cepat, di mana Rania memiringkan badannya sejauh lima belas derajat, pupil matanya mengecil, dan bibirnya terkunci rapat dalam kebisuan yang membekukan darahku. Sejak detik itu, rasa tidak enak membakar rongga dadaku seperti bara sekam yang tak kunjung padam: *Apakah aku seorang bajingan yang melanggar batas? Apakah kehangatanku selama ini sebenarnya racun yang menjijikkan bagi teman-temanku?*
Kini, di tengah hiruk-pikuk tawar-menawar cabai Mbok Nem, tanganku membeku di udara. Jemariku menggantung kaku di samping telinga Rania, mirip cakar kepiting rebus yang lumpuh tersengat minyak tanah.
Rania menoleh perlahan. Matanya yang bulat melirik ke atas, menatap tanganku yang gemetar di dekat bahunya, lalu beralih menatap mataku dengan tatapan menyelidik yang sanggup merontokkan bulu kuduk. "Arga," suaranya datar, tenang, namun menusuk tulang rusukku. "Tanganmu itu mau menepuk bahuku, mau menjambak rambutku, atau sedang mempraktikkan jurus bangau mabuk melihat matahari?"
Ghani menoleh, langsung menyambar dengan seringai serigala lapar. "Jangan didekati, Ran! Arga itu kalau tertawa memang punya kelainan transmisi saraf motorik. Bahu orang dianggapnya sandaran mikrolet!"
═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═
Bagian 02: Insiden Lele Glodok dan Misteri Gerak Menjauh
Kekacauan di Los Basah, Pelarian dari Bakul Ikan, dan Luka Introspeksi
─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───
Kecanggungan itu belum sempat mengendap ketika bencana yang sesungguhnya meledak di ujung lorong los basah.
Ghani, yang rupanya tersinggung karena Mbok Nem menolak menurunkan harga cabai seribu perak pun, melangkah mundur dengan lagak sok dramatis bagai pangeran terbuang. Sayangnya, pasar tradisional bukan panggung teater opera Wina. Di lantai semen berlumut yang basah kuyup oleh lelehan es batu dan lendir insang, kaki kiri Ghani yang beralaskan sandal jepit swallow tipis menginjak kulit pisang ambon busuk.
"Woooiii—astaghfirullah!" pekik Ghani.
Keseimbangan tubuhnya lenyap seketika. Kedua tangannya mengayun liar di udara bagai kincir angin Belanda diamuk badai topan. Dalam upaya kalap mempertahankan gravitasi, sikunya menghantam ujung ember seng hitam milik Kang Udin, juragan lele dumbo paling disegani di seantero pasar barat.
Dua puluh lima kilogram lele hidup ukuran lengan anak kecil tumpah ruah ke lantai.
"Lelekuuuu! Ya Gusti, lele pesanan katering Bu Camat kabur kabeh!" lolong Kang Udin dengan suara serak melengking, sembari mengacungkan jaring seser berkarat ke udara.
Lantai los basah seketika berubah menjadi arena sirkus amfibi paling gila dalam sejarah peradaban manusia modern. Ratusan lele hitam berlendir meliuk-liuk liar di sela-sela jempol kaki para pembeli. Seorang ibu berdaster batik kencana ungu memekik histeris ketika seekor lele montok berpatil tajam meluncur melewati sela betisnya, membuat belanjaan tahu sutranya terlontar melayang menghantam dahi seorang kakek penjual tempe mendoan.
"Lariii!" teriak Ghani tanpa rasa berdosa sedikit pun, sudah lebih dulu melesat seratus meter ke depan, meninggalkan sandal jepitnya yang terdampar di kubangan lumpur hitam.
Di tengah kepanikan massal itu, gelombang manusia panik berdesakan ke arah kami. Naluri protektifku langsung menyala merah menyala. Aku melihat seekor lele raksasa melompat dari lantai setinggi lutut, meluncur tepat ke arah rok panjang Rania, sementara seorang kuli panggul berkarung kentang terhuyung mundur ke arahnya.
Tanpa berpikir panjang, aku berniat merengkuh lengannya untuk menariknya ke sisi tembok semen yang aman. "Rania, awas!" seruku.