Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Anatomi Telapak Tangan yang Khilaf

Anatomi Telapak Tangan yang Khilaf

"Tragedi Kangkung, Ilusi Keakraban, dan Kedaulatan Pundak Asing di Lorong Tiga"

Sebuah eksplorasi naratif jenaka nan menyayat tentang Baskara—seorang pemuda yang menderita kebiasaan menepuk pundak lawan bicara tanpa filter kognitif. Berakar dari persahabatan masa lalunya bersama Rania, gestur tersebut berujung bencana moral di tengah hiruk-pikuk Pasar Beringharjo ketika telapak tangannya mendarat di atas pundak seorang wanita asing yang sedang khusyuk menawar kangkung.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 01: Anatomi Sebuah Telapak Tangan yang Terkutuk

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Disregulasi Sensorimotorik: Ketika saraf motorik melompati penilaian kognitif prafrontal, menghasilkan ilusi keintiman sepihak yang berbahaya.

Ada misteri biologis yang celaka pada telapak tangan kanan saya. Jika filsuf Aristoteles pernah menyebut tangan sebagai organ dari segala organ—alat perkakas pencipta peradaban, penanda keagungan akal budi manusia—maka tangan kanan saya tampaknya mengalami defisit peradaban yang memalukan. Di ujung jemari saya tidak bersemayam bakat melukis ala Basoeki Abdullah, bukan pula ketangkasan merangkai dawai biola. Yang tersimpan di sana hanyalah sebuah dorongan motorik purba, sebuah kebiasaan laknat yang bekerja lebih lekas daripada kalkulasi otak besar: refleks menepuk pundak perempuan.

Jangan salah sangka dulu. Ini bukan tentang motif mesum atau intrik cabul para penjahat kelamin di angkutan kota. Ini jauh lebih absurd, lebih menyedihkan, dan sekaligus menggelikan: sebuah kebiasaan sok akrab yang berakar dari sindrom hiperkinetik sosial. Setiap kali saya bertemu dengan teman perempuan—siapa saja yang namanya pernah mampir di kontak ponsel saya lebih dari tiga pekan—tangan kanan saya otomatis terangkat ke udara. Telapak tangan itu melayang dengan lintasan parabola presisi, lalu mendarat dengan bunyi debukan berongga yang mantap di atas tonjolan skapula mereka. "Plak!" Disertai cengiran bodoh dan sapaan tanpa dosa: "Eh, kebetulan banget ketemu di sini!"

Saya mengira gestur itu adalah stempel emas persahabatan. Saya mengira ia adalah jembatan penghangat kecanggungan kota yang dingin. Padahal, jika dibedah dengan kacamata psikologi kepribadian yang jujur, sentuhan itu adalah arogansi ruang. Saya telah mengklaim hak teritorial atas tubuh orang lain tanpa pernah meminta surat izin mendirikan bangunan keintiman. Pundak adalah sebuah benteng pribadi. Di atas pundak manusia modern, bersandar beban cicilan rumah, trauma masa kecil, ketegangan otot leher akibat lembur delapan jam di depan layar monitor, dan sejuta rahasia yang tak ingin diguncang oleh telapak tangan seorang pemuda berkemeja flanel kumal.

Namun, selama dua puluh lima tahun hidup, saya bebal. Saya menepuk pundak teman kuliah, menepuk pundak sepupu jauh, menepuk pundak rekan kantor magang yang baru tiga hari masuk kerja, hingga akhirnya alam semesta jenuh melihat kebiasaan saya dan memutuskan untuk menggelar sebuah sidang peradilan moral di tempat yang paling tidak romantis di muka bumi: sebuah gang becek di kedalaman Pasar Beringharjo.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 02: Retrospeksi di Bawah Rindang Mahoni Sekolah

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Pengondisian Operan (Operant Conditioning): Pembentukan kebiasaan tanpa koreksi di masa remaja yang membeku menjadi pola perilaku kaku di masa dewasa.

Segala bencana ini sejatinya bermula dari seorang gadis bernama Rania. Tujuh tahun silam, di pelataran SMA Negeri 3, di bawah rindang pohon mahoni yang getahnya kerap menetes ke atap motor bebek saya. Rania adalah anomali paling menyenangkan dalam masa remaja saya yang canggung. Dia bertubuh semampai, mengenakan kerudung segiempat warna biru laut, bersuara serak khas perokok pasif terminal bus, dan memiliki selera humor segetir kopi tubruk tanpa gula.

Kala itu, pengumuman kelulusan baru saja ditempel di papan mading kaca yang berdebu. Jantung saya berdegup seperti knalpot bajaj bocor. Nama saya bertengger di nomor urut tiga puluh dua dari bawah, tetapi lulus adalah lulus. Dalam euforia kepulan asap terompet plastik dan robekan kertas binder, saya melihat punggung Rania. Dia berdiri membelakangi saya, kepalanya tertunduk menatap selembar kertas rapor.

Tanpa menimbang etika gender atau tata krama pergaulan timur, telapak tangan saya meluncur bebas. "BUM!" Saya menghantam pundak kirinya begitu keras sampai bahunya miring lima belas derajat. Rania terperanjat, melompat setengah jengkal, lalu berbalik dengan mata mendelik garang. Tetapi ketika melihat wajah saya yang menyeringai seperti keledai dungu, tawanya pecah.

"Gila ya lu, Bas!" teriak Rania sambil meninju bisep saya. "Pundak gue lu kira samsak tinju pasar malam? Tapi alhamdulillah, gue lulus Matematika!"

Detik itulah malapetaka kognitif saya dipahat. Otak reptil saya merekam sebuah kesimpulan fatal: menepuk pundak perempuan sama dengan penerimaan tawa. Menepuk pundak adalah sertifikat kelulusan pertemanan. Reaksi Rania yang santai dan membalas dengan tinjuan hangat membuat saya merasa bahwa batas antara tubuh laki-laki dan perempuan hanyalah sekat rapuh yang bisa diruntuhkan dengan satu tepukan maskulin yang ramah.

Seiring berjalannya tahun, Rania merantau ke Surabaya untuk bekerja di firma arsitektur, sementara saya terjebak di kota ini sebagai penulis draf iklan obat kumur yang kesepian. Kami jarang bertukar kabar, kecuali ucapan selamat ulang tahun yang kian kaku di kolom komentar media sosial. Namun, hantu dari tepukan mahoni itu tidak pernah mati di dalam diri saya. Setiap kali saya melihat siluet perempuan yang memancarkan aura keakraban, saraf bahu saya berkedut. Tangan saya gatal. Saya selalu ingin membuktikan bahwa saya bukan orang asing di tengah kerumunan yang semakin sunyi.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 03: Ekosistem Riuh di Lorong Tiga

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Lihat selengkapnya