Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Sebutir Biji Gandaria

Anatomi Sebutir Biji Gandaria dan Ketukan di Tengkuk Samsul

“Sebuah studi mengenai kerapuhan martabat priyayi, kelezatan yang tergesa, dan bagaimana sebutir biji asam-manis sanggup membongkar kepura-puraan sebuah peradaban kecil di beranda sore.”

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 01 : Beranda Lembap dan Godaan Jingga Kemilau

Ketika aroma tanah basah dan kesombongan priyayi bersekutu di atas meja jati

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Sore di Wates selalu memiliki perangai yang sama: lambat, basah, dan membujuk orang untuk menganggap remeh segala perkara fana. Hujan rintik baru saja mengundurkan diri ke punggung perbukitan Menoreh, menyisakan bau tanah basah yang liat—sejenis aroma humus dan lumut yang mengapung bersama kepulan uap hangat dari genteng tanah liat tua. Di beranda samping rumah panggungnya yang berdinding papan jati kusam, Samsul Hadiwibowo duduk memangku harga diri dengan punggung tegak lurus seolah-olah kursi rotan yang didudukinya adalah singgasana pengadilan tingkat kasasi.

Samsul adalah pria berusia empat puluh delapan tahun yang menghabiskan paruh baya hidupnya merapikan berkas di bagian kearsipan kantor kecamatan. Di mata para tetangga dan kerabat, ia adalah lambang dari ketertiban sipil: kemeja batik luriknya selalu diseterika dengan garis lipatan yang begitu tajam hingga konon sanggup membelah tahu sutra; kumisnya dicukur dengan simetri geometris yang kaku; dan cara ia menyeruput kopi tubruk selalu diatur sedemikian rupa agar desis uapnya tidak melanggar batas sopan santun priyayi rendahan. Bagi Samsul, dunia luar boleh saja karut-marut oleh inflasi, sengketa tanah kas desa, atau cuaca pancaroba yang tak beradab, tetapi di beranda ini, kendali mutlak berada di tangannya.

Namun sore itu, ketertiban semesta Samsul digoyahkan oleh kehadiran sebakul anyaman bambu kecil di atas meja. Di dalam bakul beralas daun pisang layu itu, bertengger belasan buah gandaria berukuran lonjong kemerahan. Kulitnya tipis, mengilat tersiram sisa cahaya matahari yang merekah jingga keemasan. Buah-buah langka itu adalah kiriman keponakannya dari Bogor—sebuah komoditas nostalgia yang sulit dicari di pasar-pasar lokal Jawa bagian selatan.

"Kalau orang kota makan gandaria, Sam, mereka cuma cari sensasi asamnya buat rujakan," gumam Lik Karso dari sudut amben bambu di seberang meja. Karso, pensiunan jagawana perhutani yang usianya delapan tahun lebih tua, duduk dengan sarung Samarinda lusuh yang ditarik hingga sebatas dada. Matanya sipit, menyipit tenang seperti kura-kura sungai yang sedang mengamati lalat di atas daun teratai. Lik Karso memegang sebatang rokok kretek tingwe yang ujungnya terus berasap tipis. "Mereka tidak tahu kalau gandaria yang betul-betul ranum itu punya titik balik. Ada sekejap rasa manis yang teramat halus, sebelum rasa asamnya kembali menikam di pangkal lidah. Seperti hidup kita, Sam. Manisnya sak klepatan, sepetnya awet berbulan-bulan."

Samsul tersenyum tipis. Sebuah senyum yang dirancang untuk memperlihatkan bahwa ia memaklumi filsafat jalanan sahabatnya, namun tetap memposisikan dirinya setingkat lebih tinggi dalam hal kecermatan rasa. "Sampeyan ini selalu mengaitkan buah dengan nasib, Lik. Ini soal tata cara, soal adab mengecap kenikmatan. Orang rakus akan mengunyahnya seperti kambing merumput. Orang yang beradab membiarkan daging buahnya luruh di rongga mulut, memisahkan sari pati manisnya dari serat yang liat tanpa perlu membuat berisik langit-langit mulut."

Samsul mengulurkan tangan kanannya yang bersih. Jarinya memilih sebutir gandaria yang paling montok, kulitnya telah meregang keemasan dengan semburat ungu samar di bawah permukaan—tanda bahwa biji di dalamnya telah mengeras sempurna menjadi ruang penyimpan racun dan daya hidup yang rapat. Dengan ujung kuku jempolnya, Samsul mengoyak kulit ari buah itu. Semerbak wangi manis yang pekat, masam, dan sedikit bergetah langsung menyeruak memenuhi udara teras yang dingin. Air liur Samsul terbit tak tertahankan. Pada detik itu, ia lupa pada seluruh teori tata krama yang baru saja ia khotbahkan.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 02: Saat Dosa Kecil Tergelincir di Rongga Mulut

Retrospeksi masa kecil dan kelalaian nafsu yang berbuah luncuran biji licin

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Ketika daging buah gandaria yang basah dan licin itu menyentuh ujung lidah Samsul, dunia di sekitarnya seolah mendadak diredam. Ada ledakan kesegaran tropis yang sangat liar—perpaduan antara manis mangga muda, kecut plum hutan, dan aroma resin pinus yang eksotis. Rasa asam yang tajam memicu kelenjar ludahnya bekerja gila-gilaan, mengirimkan sengatan kenikmatan yang menelusup hingga ke balik pelipisnya.

Dan bersamaan dengan lelehan air buah itu, sebuah pintu ingatan di benak Samsul terayun terbuka lebar.

Tahun 1984. Samsul baru berusia delapan tahun. Musim kemarau panjang membuat buah-buahan di pekarangan kampung menjadi barang mewah yang langka. Di belakang rumah Mbah Wiryo, seorang janda sepuh yang disegani karena ketajaman kutukannya, tumbuh sebatang pohon gandaria tua yang rindang berlumut. Samsul kecil bersama gerombolan bocah kampung sering memandangi buah-buah jingga di dahan tinggi itu dengan mata lapar dan kerongkongan perih. Suatu siang yang terik, ketika Mbah Wiryo tengah lelap tidur siang bertemankan desau daun kelapa, Samsul nekat memanjat pagar bambu duri, menyelinap dengan lutut gemetar, lalu memetik tiga butir gandaria ranum.

Ia memakannya sendirian di bawah rindang rumpun bambu dekat sendang keramat. Saat itu, ibunya memergokinya dengan noda kuning getah di sudut bibir. Sang ibu tidak memukulnya dengan sapu lidi, melainkan menatapnya dengan pandangan sedih yang jauh lebih menyakitkan daripada lecutan rotan. 'Samsul,' bisik ibunya kala itu sambil mengusap ubun-ubunnya dengan jemari kasar penjual tape, 'buah yang dicuri tanpa izin itu rasanya manis di lidah, tapi dia punya biji yang berat. Sekali kau telan dosanya, biji itu akan bersarang di dadamu sampai kau lupa cara bernapas dengan jujur.'

Kini, empat puluh tahun berselang di beranda yang tenang ini, bayangan tatapan ibunya tiba-tiba melintas dengan kejernihan yang menakutkan. Mengapa ingatan itu muncul sekarang? Apakah karena rasa asam gandaria ini persis sama dengan gandaria curian di rumpun bambu empat dekade silam? Samsul berusaha mengusir lintasan pikiran itu dengan memejamkan mata dan menikmati serat-serat terakhir yang masih membalut biji buah di dalam mulutnya.

Di hadapannya, Lik Karso masih mengoceh tanpa henti tentang silsilah ayam bangkok tetangga sebelah rumah. Samsul ingin menimpali dengan kelakar tajam, ingin membuktikan bahwa ia sedang menikmati buah ini dengan penuh keanggunan seorang aparatur sipil negara teladan. Maka, alih-alih meludahkan bijinya ke piring seng kecil yang telah disediakan, Samsul memutuskan untuk membersihkan sisa daging buah di permukaan biji dengan sapuan lidah yang terlampau bertenaga.

Ia menyedotnya. *Sluuuurrrp!*

Nahas. Biji gandaria bukanlah biji apel yang pipih bersahaja, bukan pula biji pepaya yang mudah diremukkan gigi geraham. Biji gandaria berukuran lonjong padat sebesar kelereng aduan, berlapis selaput getah bening yang licin luar biasa, dan begitu daging buahnya terlucuti, ia bertingkah bagai belut sawah yang tersiram air sabun.

Dalam sebuah kekhilafan mekanis anatomi yang berlangsung kurang dari seperseratus detik, lidah Samsul kehilangan cengkeraman friksinya. Rongga mulutnya melakukan gerakan menelan yang tak disengaja bertepatan dengan tarikan napas pendek untuk mempersiapkan tawa. Biji itu tergelincir dari pangkal lidah, melompati uvula, dan meluncur bebas ke arah tabung laring—menghantam persimpangan suci tempat udara dan makanan semestinya saling berpamitan dengan tertib.

*Glek!*

Luncuran itu terhenti mendadak. Biji gandaria itu tidak turun ke lambung, tidak pula terlempar keluar. Ia tersangkut. Melintang kaku di batas antara kerongkongan dan katup epiglotis. Dunia Samsul Hadiwibowo berhenti berputar.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 03: Perang Dingin di Persimpangan Dua Saluran

Dilema eksistensial: dibuang menabrak martabat, ditelan memicu petaka

─── ⋆⋅☆⋅⋆ ───

Sensasi pertama yang menyergap Samsul adalah rasa dingin yang menjalar dari tengkuk ke tulang ekornya. Sebutir benda padat, bulat, berlendir getah, dan keras sedang menduduki persimpangan napasnya seperti batu ganjal lokomotif mogok di tengah perlintasan sebidang.

Lihat selengkapnya