Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Teologi Secangkir Americano

Teologi Secangkir Americano Dingin dan Dukacita Kota yang Tak Pernah Berdoa

"Kesepian Eksistensial di Tengah Hingar-bingar Kota Metropolitan, Ditertawakan oleh Realitas Dompet yang Sekarat"

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 01: Teologi Americano Dingin dan Seni Menghabiskan Es Batu

∘₊✧──────✧₊∘

Di kota yang dibangun dari beton, klakson, dan cicilan kendaraan bermotor ini, satu-satunya hal yang berdiri kokoh di antara diriku dan kepunahan eksistensial adalah sebongkah es batu sebesar jempol kaki yang mulai kehilangan martabatnya di dasar gelas Americano.

Sudah dua jam dua puluh menit aku duduk di sudut Kedai Karsa & Renjana. Posisi dudukku adalah hasil kalkulasi geometris yang matang: tepat di belakang pilar semen berdebu agar terlindung dari tatapan menghakimi para barista, namun masih dalam jangkauan radar stopkontak yang longgar dan aroma wangi pengharum ruangan rasa vanila sintetis yang memabukkan.

Gelas di depanku sudah lama kehilangan warnanya yang pekat. Dari hitam legam menyerupai malam tanpa bintang di kampung kelahiranku, ia kini bermutasi menjadi cokelat transparan yang menyedihkan—seperti air cucian kuas cat air anak TK. Namun, pantang bagiku melepaskan sedotan plastik itu dari bibir. Selama ujung sedotan masih berderak menyedot buih udara bercampur lelehan air es, status hukumku di kedai ini sah: aku adalah pelanggan yang membayar tiga puluh delapan ribu rupiah, bukan gelandangan intelektual.

"Mas Fadhilul," suara berat dan datar memecah lamunanku. Itu suara Mas Bagus. Mas Bagus adalah kepala barista yang memiliki kumis melengkung seperti tanda kurung buka dan kurung tutup yang gagal, serta dua lengan yang dipenuhi tato kutipan filsuf Stoik yang kemungkinan besar ia kutip dari utas Twitter.

Mas Bagus berdiri di samping mejaku sambil memegang lap kain mikrofiber basah. Pandangannya meluncur lambat ke arah gelasku yang sudah kosong melompong sejak azan Asar tadi.

"Ada apa, Mas Bagus? Sedang mengagumi keheningan senja?" tanyaku dengan senyum yang kuusahakan sefilosofis mungkin, meskipun lututku sedikit bergetar di balik celana jins robek yang robeknya bukan karena tren fesyen, melainkan karena tersangkut pagar besi stasiun kemarin lusa.

"Bukan keheningan senja, Amal," sahut Mas Bagus tanpa mengedipkan mata. "Saya sedang mengagumi daya tahan lambungmu. Es batumu itu sudah mencair sampai ke tingkat atom molekuler. Mau nambah manual brew Ethiopia Guji yang floral, atau mau saya bawakan air keran hangat biar meditasimu makin afdal?"

"Kopi dingin adalah metafora waktu, Mas," balasku cepat, mencoba menyelamatkan martabatku dengan tameng intelektualisme murahan. "Setiap tetes yang mencair mewakili usia kita yang luruh tanpa sempat kita mintai pertanggungjawaban. Apakah Kierkegaard pernah menagih royalti saat manusia modern merasa cemas? Tidak, kan?"

Mas Bagus menghela napas panjang. Napas seorang pekerja industri jasa yang sudah terlalu sering mendengar igauan anak-anak muda berkantong cekak tapi berkepala penuh retorika. "Kierkegaard nggak punya utang sewa ruko sepuluh juta sebulan, Mal. Pesan lagi, atau kursimu mau saya berikan ke mbak-mbak konsultan yang sudah berdiri celingukan di dekat pintu sejak tadi?"

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 02: Anatomi Manusia Asing dan Layar 14 Inci Mbak Wiwid

∘₊✧──────✧₊∘

Aku akhirnya terpaksa memesan satu porsi donat kampung bertabur gula halus seharga dua belas ribu rupiah—pengeluaran darurat yang memangkas anggaran makanku besok siang menjadi sekadar sebungkus mi instan kuah rasa kari ayam. Namun donat itu memberiku dispensasi diplomatik selama satu jam ke depan.

Aku membuka buku catatan bersampul kulit kusamku. Kertasnya kekuningan, dipenuhi coretan tinta hitam yang berantakan: fragmen kalimat, observasi visual, dan sketsa wajah orang-orang yang tak pernah kukenal namanya. Bagiku, kafe ini adalah amfiteater ketidaksengajaan. Orang-orang datang ke sini membawa topeng terbaik mereka, lalu tanpa sadar melucutinya lapis demi lapis di bawah temaram lampu gantung bergaya industrial.

Tiga meter di depanku, duduklah sosok yang sejak tadi menyita perhatian batiniahku: Mbak Wiwid. Tentu saja namanya bukan Wiwid saat ia berada di lingkungan korporat SCBD; mungkin ia dipanggil Audrey atau Patricia. Namun kartu lanyard yang tergantung di lehernya dengan tali sutra biru bertuliskan 'Prita Wiwid Utami – Senior Risk Analyst'.

Mbak Wiwid sedang terlibat dalam pertempuran hidup-mati melawan layar ultrabook 14 inci miliknya. Kacamata berbingkai bulat tanduknya sudah melorot hingga ke ujung hidung. Jari-jarinya mengetik tuts keyboard dengan kecepatan yang mengingatkan kita pada rentetan tembakan senapan mesin di film perang Normandia. Setiap kali ia menekan tombol 'Enter', bibirnya mengerucut tajam, seolah tombol itu adalah leher atasannya yang ingin ia cekik pelan-pelan.

Tiba-tiba jari-jarinya terhenti. Layar ponselnya yang tergeletak di atas meja menyala terang. Sebuah notifikasi pesan muncul. Aku, dengan refleks seorang pengamat kehidupan yang tak tahu malu, menyipitkan mata untuk membaca pantulannya di permukaan meja kaca: 'Sayang, malam ini aku lembur lagi sama tim legal ya. Jangan tungguin.'

Detik itu juga, seluruh konstruksi profesionalitas Mbak Wiwid runtuh. Bahunya yang tegak seketika merosot turun seperti adonan kue yang gagal mengembang. Ia melepaskan kacamatanya, menyandarkan punggung ke kursi empuk, lalu memejamkan mata rapat-rapat.

"Miko..." gumamnya lirih, begitu lirih hingga nyaris tertelan suara desisan mesin susu uap Mas Bagus. "Kira-kira kalau aku mati besok di depan pivot table, kamu bakal nangis apa cuma bingung siapa yang bukain kaleng Whiskas salmon-mu?"

Hatiku terenyuh mendengar monolog itu. Ada jurang kepedihan yang sangat purba dalam keluhan tentang kucing dan lembur itu. Mbak Wiwid adalah potret ribuan manusia di kota ini: manusia-manusia yang setiap pagi menukar detak jantung dan kemerdekaan jiwanya dengan angka-angka digital di rekening bank, hanya untuk pulang ke kamar apartemen seluas 21 meter persegi dan mendapati bahwa satu-satunya makhluk yang menyambut mereka adalah bayangan lampu jalanan yang menari di tirai jendela.

Aku mencatat di bukuku: 'Kota ini tidak membunuhmu dengan racun atau peluru. Ia membunuhmu dengan jadwal harian yang begitu padat sampai kamu lupa kapan terakhir kali kamu memandang langit senja tanpa menghitung berapa jam lagi sisa waktu tidurmu.'

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 03: Frekuensi yang Hilang dan Kaset Pita Pak Hartono

∘₊✧──────✧₊∘

Sebelum aku sempat meromantisasi kesedihan Mbak Wiwid lebih jauh, sebuah keributan akustik yang luar biasa aneh meledak dari meja nomor dua di sudut jendela kaca besar.

Di sana duduk Pak Hartono. Beliau adalah pria paruh baya berusia sekitar enam puluh tahunan, mengenakan kemeja batik sogan lengan panjang yang warnanya sudah memudar karena ratusan kali dicuci dengan sabun colek. Di atas mejanya tidak ada laptop tipis atau gawai canggih, melainkan sebuah tape recorder kaset mini bermerek Sony keluaran akhir dekade 1980-an dengan antena teleskopik yang ujungnya sudah diganti peniti karatan.

Pak Hartono sedang mengarahkan kacamata plus-nya ke secarik kertas kecil berisi tulisan tangan Mas Bagus: 'Password WiFi: sastradanluka2024'.

"Nak... Mas... Mas Barista," panggil Pak Hartono dengan suara bergetar santun khas orang Jawa pedalaman. "Ini saya sudah pencet tombol panah ke atas tiga kali, kok lagunya Bu Waldjinah belum keluar juga ya? Yang keluar malah gambar anak-anak muda joget-joget nggak pakai celana panjang."

Lihat selengkapnya