Cerita LUCU

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Cerek dan Jam Dinding

DILEMA CEREK PEMIKIR DAN JAM DINDING YANG MERAJUK

Tentang Jarum Jam yang Melipat Waktu, Bakwan Dingin Mak Tejo, dan Seni Menertawakan Kehilangan. Karya: Laras Waktu di Gang Glatik

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 01: Simfoni Gir Berkarat dan Hidung yang Gatal

Ketika waktu disamakan dengan kain jarik tua yang robek di bagian selangkangan

∘₊✧──────✧₊∘

Ada tiga hal di kolong langit Kampung Glatik yang mustahil dipaksa sepakat: perkiraan cuaca dari televisi tabung empat belas inci, arah kiblat musala saat terpal hajatan dipasang miring, dan ketukan detak tiga puluh tujuh jam dinding di bengkel reparasi milik Pak Broto.

Bagi orang luar yang tersesat mencari tambal ban lalu terdampar di ruangan pengap beraroma minyak zaitun basi dan tembakau Srintil itu, kebisingan tersebut terdengar seperti paduan suara katak tuli yang berdebat soal warisan sawah. Tik-tok-klok-ting. Ada detak yang pincang seperti langkah marbot terantuk sandal jepit, ada dentang kuningan yang batuk kering seakan kekurangan vitamin C, dan ada pula jam kukuk Swiss tiruan buatan Cirebon yang burung kayunya enggan keluar sarang kecuali jika pintu sangkarnya disogok dengan tetesan minyak singer.

"Waktu itu bukan kereta ekspres Argo Bromo, Le," gumam Pak Broto seraya membetulkan letak kacamata berlensa ganda yang tangkainya disambung karet gelang kolor bekas bungkus nasi bungkus. Di ujung pinset baja berkarat miliknya, bergetar sebuah roda gir kuningan sebesar biji sawi. "Orang-orang modern di Jakarta itu sengsara karena mengira detik jam adalah cambuk kompeni. Kalau telat lima menit, serasa kiamat lokal. Padahal detik itu cuma kesepakatan sopan santun antara matahari dan tukang cetak kalender."

Pak Broto menghela napas. Hembusan angin dari paru-parunya yang sarat nikotin menggoyangkan sarang laba-laba di sela bandul jam lemari bertahun 1928. Di balik kacamata pembesarnya yang membuat bola matanya tampak melotot seperti ikan mas koki kembung, tersimpan pergulatan batin yang ia tutup rapat-rapat selama hampir satu dekade: kenyataan getir bahwa ia adalah seorang lelaki tua yang pandai membangkitkan jam mati, tetapi gagal mencegah detik-detik hidupnya sendiri merosot ke dalam jurang penyesalan.

Setiap kali tangannya menyentuh per pegas arloji, memori Pak Broto terlempar mundur secara paksa—sebuah retrospeksi yang selalu menyengat ulu hatinya seperti sengatan tawon tanah. Ia teringat hari ketika putrinya, Ratna, mengenakan kebaya pengantin putih di kota seberang. Hari itu, Broto tidak duduk di kursi wali nikah. Ia justru meringkuk di bawah menara jam balai kota yang macet, berkeras bahwa bila jarum raksasa kota itu berhenti berputar, seluruh berkah pernikahan anaknya akan layu. Ia menukar pelukan seorang ayah dengan derit gir berlumur gemuk hitam. Sebuah kebodohan heroik yang hingga kini hanya bisa ia tebus dengan cara berbicara sendiri kepada arloji-arloji sekarat.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Bagian 02: Badai Rolex Senen dan Jas Hujan Kresek Robek

Masuknya Mat Soleman dengan terengah-engah membawa petaka seharga kredit panci

∘₊✧──────✧₊∘

Pintu triplek bengkel mendadak terhempas oleh tendangan tumit yang tak beradab, disusul deru angin basah yang membawa cipratan air got. Sesosok makhluk jangkung dengan jas hujan dari kantong plastik kresek kuning robek di bagian ketiak menyeruak masuk ke dalam ruangan.

"Pak Broto! Gawat darurat tingkat kelurahan! Kalau jarum jam ini tidak berputar dalam empat puluh menit ke depan, ginjal kanan saya bakal digadaikan ke koperasi simpan pinjam!" seru Mat Soleman dengan napas memburu seperti ayam jago habis dikejar anjing herder. Rambutnya yang tipis melekat di dahi seperti rumput laut hanyut, dan sepasang matanya berputar liar menatap sekeliling.

Dari balik saku celana komprangnya yang basah kuyup, Soleman mengeluarkan sebuah kotak beludru merah yang bulunya sudah rontok di sudut-sudutnya. Di dalamnya terbaring sebuah arloji berwarna keemasan menyilaukan—begitu berkilau sampai-sampai Pak Broto harus menyipitkan mata agar retinanya tidak terbakar oleh kepalsuan logam murahan.

"Rolex Oyster Perpetual," bisik Soleman dengan takzim, seolah baru saja menemukan fragmen tengkorak manusia purba. "Asli buatan tangan insinyur Jenewa... cabang Glodok lorong empat."

"Jarum panjangnya nyangkut di angka sebelas lewat empat puluh delapan menit, Pak," lanjut Soleman dengan intonasi meratap yang sengaja ia buat jenaka. "Masalahnya, jam ini punya Koh Alim. Si raja kredit wajan anti-lengket yang kalau menagih utang bisa membuat malaikat pencabut nyawa merasa sungkan. Beliau mau pakai jam ini malam ini juga ke pesta reuni paguyuban burung kenari. Kalau sampai jarumnya tetap membeku di angka sebelas empat delapan, motor bebek Astrea Grand saya yang giginya suka lompat sendiri dari gigi dua ke gigi mundur bakal diangkut pikap!"

Pak Broto bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari meja kerja. Ia meraih kaca pembesar monokelnya dengan ketenangan seorang biksu yang sedang mencuci mangkuk sup. "Soleman, motormu itu tidak perlu diangkut pikap. Cukup ditiup angin barat daya juga sudah rontok bautnya. Lagipula, kenapa jam Koh Alim bisa ada di tanganmu? Sejak kapan kamu beralih profesi dari pengangguran berwibawa menjadi kurir perhiasan bajakan?"

Soleman tersedak ludahnya sendiri. Di balik senyum cengengesan yang ia pamerkan, dadanya sesak. Retrospeksi pahit kembali menikam benaknya tanpa permisi: tiga bulan lalu, di pelataran toko swalayan berlampu neon remang, Ningsih—perempuan berlesung pipi yang pernah ia janjikan surga duniawi berupa rumah subsidi tipe 21—mengembalikan sepasang sandal jepit tali jepang pemberiannya. Ningsih memilih naik ke atas sedan hitam milik juragan beras yang tangannya selalu beraroma parfum vanila impor. Sejak malam itu, Soleman bersumpah akan membuktikan bahwa ia bukan lelaki pecundang. Dan langkah pembuktian konyol itu membawanya menjadi pesuruh serabutan Koh Alim demi komisi lima puluh ribu per hari.

═━═━═━═ Cerita Lucu ═━═━═━═


Lihat selengkapnya