Jam sepuluh malam, dan Damar sedang menyaksikan sesuatu yang—kalau ada juri Olimpiade untuk drama domestik—pasti sudah dapat skor sepuluh dari sepuluh negara, termasuk negara yang belum merdeka.
"Itu jemuran SAYA," kata Mbak Wulan, menunjuk seprei bermotif kembang yang menggantung di tali jemuran lantai dua seperti bendera kemenangan yang salah perang.
"Sejak kapan tali jemuran punya sertifikat hak milik?" balas Bang Robi, yang entah sejak kapan berdiri di situ dengan gaya orang yang baru pulang rapat penting, padahal dia cuma turun dari kamar pakai sarung dan kaos partai politik tahun 2014 yang sudah luntur jadi abu-abu misterius.
Damar menonton dari tangga, posisi strategis seorang pengecut yang ingin tahu tapi tidak ingin terlibat. (Ini posisi favoritnya. Kalau ada gelar akademik untuk "Sarjana Nonton Doang", dia sudah lulus cum laude sejak semester tiga.)
"Robi, jemuran ini sudah saya pasang dari jam tujuh pagi," Mbak Wulan bersikukuh. "Tujuh pagi itu artinya saya yang berhak. Hukum jemuran, internasional."
"Hukum jemuran internasional itu nggak ada, Mbak. Yang ada cuma hukum siapa cepat dia dapat, dan kebetulan tadi saya cepat."
"Cepat ngambil tali orang, maksudnya."
Di titik ini, Mas Yoga keluar dari kamar dengan wajah orang yang baru bangun tidur tapi dipaksa jadi mediator PBB. "Udah, udah. Ini—ini kenapa sih?"
"Suamimu," kata Bang Robi, menunjuk Mas Yoga seolah dia barang bukti, "nyuruh aku gantung jaket ojolnya di situ. Jadi aku gantung. Terus seprei Mbak Wulan harus mengalah."
"KAMU GESER SEPREI SAYA TANPA IZIN."
"Aku nggak geser, Mbak. Aku—relokasi. Demi kepentingan bersama."
Damar mencatat dalam hati: ini sudah perang dunia ketiga, dan senjata pemusnah massalnya adalah satu jaket ojol dan satu seprei kembang. Kalau Marvel butuh ide untuk Avengers lima, dia punya bahan baku.
Dari bawah, terdengar suara langkah yang membuat seluruh penghuni lantai dua otomatis diam. Bukan karena hormat. Tapi karena refleks bertahan hidup.
Bu Darsih muncul di ujung tangga, membawa ember, dengan ekspresi orang yang sudah menyaksikan tiga generasi penghuni kontrakan berkelahi soal hal-hal yang—kalau dipikir lagi—tidak ada satu pun yang sepadan dengan energi yang dikeluarkan.
"Ini jam sepuluh malam," kata Bu Darsih, datar, seperti pembaca berita yang sudah bosan dengan beritanya sendiri. "Jemuran nggak akan kering jam segini. Kalian berantem soal jemuran yang fungsinya udah selesai sejak jam lima sore."
Keheningan. Jenis keheningan yang biasanya muncul setelah seseorang menyadari mereka baru saja berdebat panjang soal sesuatu yang sudah tidak relevan—semacam orang yang baru sadar sudah marah-marah ke kasir minimarket soal kembalian seratus rupiah selama lima belas menit.