Cerita Rumah Kita

Gun Kuntara Adhiarta
Chapter #2

Bab 2: Pagi yang Tidak Baik-Baik Saja

Pagi setelah pengumuman, Damar bangun bukan karena alarm, tapi karena suara seseorang—dia belum bisa identifikasi siapa—berteriak dari dapur seperti baru menemukan mayat. Ternyata cuma Mas Yoga, menatap kompor gas yang apinya biru kecil, seolah itu metafora hidupnya sekarang.

"Kompor ini," kata Mas Yoga, ke Damar yang baru turun dengan rambut mirip sarang burung yang kena angin topan, "tinggal beberapa bulan dipakai juga, kan? Terus habis itu kompor ini ke mana? Aku ke mana? KITA SEMUA KE MANA, DAMAR?"

"Mas, ini baru jam tujuh pagi."

"Krisis eksistensial nggak kenal jam, Dam."

Damar menuangkan air ke gelas, pura-pura tidak mendengar, strategi andalan yang sudah dia kembangkan sejak SMP saat ibunya marah soal nilai rapor. Tapi pagi itu sepertinya strategi itu tidak akan mempan untuk siapa pun di Wisma Bahagia.

Mbak Wulan duduk di ruang tengah dengan laptop terbuka, tab browser sebanyak dua puluh tiga—Damar menghitung dari balik bahunya, refleks kepo yang tidak pernah hilang—semuanya bertuliskan variasi dari "hak penyewa saat kontrakan dijual" dan "bisa gugat pemilik kontrakan?" dan, entah kenapa, satu tab tentang "cara pindahan murah tanpa drama."

"Riset," kata Mbak Wulan, tanpa menengok, nada suara orang yang sudah menyusun argumen di kepala sejak jam empat pagi. "Aku riset semalaman. Ternyata ada pasal-pasal yang—Damar, kamu dengerin nggak?"

"Dengerin, Mbak." (Dia tidak dengerin. Dia sedang menghitung berapa banyak mi instan yang tersisa di rak, perhitungan yang jauh lebih genting baginya saat ini.)

Dari balik pintu kamar yang setengah terbuka, terdengar suara Bang Robi sedang menelepon seseorang dengan nada yang—kalau Damar boleh menebak—diset sengaja lebih berat dari biasanya, semacam orang yang ingin terdengar seperti CEO padahal baru bangun dan masih pakai sarung.

"Ya, Bro. Ini soal Wisma Bahagia. Gue lagi—gue lagi handle ini dari sisi strategis," kata Bang Robi, berjalan mondar-mandir di kamarnya yang ukurannya tidak memungkinkan untuk mondar-mandir lebih dari tiga langkah ke satu arah. "Lo masih kenal orang developer kan? Yang waktu itu lo certain di acara kondangan?"

Hening sejenak. Lalu—

"Lah, dia bukan orang developer? Dia—oh, dia cuma yang nyewain tenda kondangan. OKE. Oke, nggak masalah, masih—masih bisa dimanfaatin jaringannya."

Lihat selengkapnya