Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #2

Tidak Semua Harus Diceritakan

Malam itu tenggorokannya terasa penuh. Luna tergopoh-gopoh ke wastafel, tapi hanya batuk yang keluar. Bukan kata-kata, bukan suara, hanya batuk yang terasa seperti menghukum dirinya sendiri.

Dia melorot ke lantai dan meraih ponsel yang hampir terlepas dari genggaman. Menekan satu nama. Ponsel jatuh sebelum tahu apakah tersambung.

Suara renovasi dari tetangga membuat dadanya membentur sesuatu yang keras. Luna masuk ke lemari, menutup pintu geser, menempelkan kedua tangan ke telinga. Berisik di kepalanya tidak juga berkurang. Tangannya naik ke rambut sendiri dan menarik, berharap semua akarnya lepas sekaligus.

Gelap. Cahaya tipis dari sela kayu.

Di pangkuannya sudah ada kertas-kertas kecil, spidol hitam dan merah, sebotol tinta. Entah sejak kapan semuanya ada di sini, tapi Luna tidak bertanya pada dirinya sendiri. Tangannya mulai menulis.

Gak semua harus diceritakan.

Satu lembar. Lalu lembar berikutnya. Dan lagi, sampai huruf-hurufnya tampak seperti cakar dan tinta menembus ke belakang kertas dan ia tidak lagi tahu apakah sedang menulis atau sedang menghukum.

Tangannya berhenti. Ponsel diraih lagi. Nama seseorang. Aplikasi pesan.

Aku mau cerita sesuatu.

Jarinya diam di atas tombol kirim selama tiga detik, dan kemudian menghapusnya. Spidol kembali ke kertas.

*

Suara pintu dibuka dengan panik.

"Sayang?"

Luna memejamkan mata dan tidak menjawab. Langkah kaki mendekat. Pintu lemari bergeser.

Bima berjongkok. "Ketemu."

Begitu lemari terbuka penuh, semua yang dijejalkan di dalamnya tumpah ke wajahnya. Peralatan camping, selimut, handuk, sarung bantal tercecer di lantai seperti isi kepala Luna yang semrawut, yang sekarang berusaha dibongkar oleh orang yang paling tidak tahu harus diapakan. Bima melihat kertas-kertas itu. Membaca tulisan yang sama berulang kali. Tidak bertanya apa-apa. Hanya duduk di lantai dan membuka kedua tangannya.

Luna membenci dirinya sendiri karena langsung merangkak masuk ke pelukannya.

"Aku butuh gunting."

"Buat apa?"

"Rambutku ketebelan."

Bima diam sesaat. Lalu berdiri, mengulurkan tangan, mengajaknya ke sofa tanpa banyak bicara.

*

"Hei..."

Bima menggendongnya ke sofa. Menyediakan air hangat. Bernyanyi kecil tanpa tahu apa yang dinyanyikan.

Luna menatap gelasnya. Uapnya naik pelan.

"Udah berapa lama kamu di lemari itu?"

Luna mengedikkan bahu. "Gak lihat dan gak hitung jam. Lupa."

"Gak lupa jam minum obat?"

"Aku udah gak butuh obat. Udah bisa tidur, kok."

"Masa?"

"Asal tidurnya di lemari."

"Ngawur," sembur Bima.

Bima kemudian membimbing Luna minum obat. Satu tenggak. Obatnya tertelan.

"Kamu gak malu nikah sama orang depresi?"

"Ayo depresi bareng."

Luna tertawa pendek di sela tangis. "Kamu gak lucu."

"Sial." Bima menyenggol bahunya. Dua kali, pelan. "Aku udah gak lucu."

Lihat selengkapnya