Pintu itu ditutup.
Bima duduk kembali di kursi plastik. Jam di dinding berdetak. Di seberangnya, seorang perempuan tua membaca majalah yang sudah terlipat di sudutnya. Di sebelah kiri, seorang laki-laki muda melihat ponselnya tanpa ekspresi.
Bima menatap tangannya sendiri.
*
Ia tidak tahu ada berapa kali ia sudah mencuci tangannya malam itu.
Tiga kali. Mungkin empat. Sabunnya berbusa, lalu hilang ke saluran wastafel, lalu ia menuangnya lagi. Tangannya sudah tidak berbau apa-apa sejak lama, tapi gerakannya belum berhenti.
Setelah memperbaiki engsel pintu, ia berdiri di depan pintu kamar mandi. Suara ambulans sudah pergi sejak setengah jam. Atau satu jam. Ia tidak tahu. Jam di ponselnya tidak sempat ia lihat sejak ia membacakan alamat ke operator layanan darurat dengan suara yang terdengar seperti milik orang lain.
Ia ingat suaranya sendiri malam itu. Terlalu tenang. Seperti sedang memesan makanan. "Jalan Kenari Dalam nomor dua belas. Iya. Lantai satu. Pintu biru."
Ia tidak menangis. Tidak malam itu.
Ia mematikan keran.
Di cermin, ada wajahnya. Ia tidak mengenalinya terlalu lama sehingga ia harus mengedip dua kali untuk yakin bahwa yang ia lihat adalah dirinya sendiri. Kaos yang tadi ia kenakan terburu-buru setelah pintu kamar mandi itu terbuka dan ia melihat—
Ia memalingkan wajah dari cermin.
Yang ia lihat setelah itu, ia tidak pernah menceritakannya ke siapa pun. Bukan karena tidak ingin. Tapi karena ia tidak punya bahasa untuk itu. Semua kata yang ia tahu runtuh begitu ia melihat Luna di lantai kamar mandi malam itu.
Kata-kata tidak berguna di sana.
Jadi ia hanya berlutut. Memeluk. Itu yang bisa ia lakukan.
Ia duduk di tepi kasur, malam itu. Kasur yang masih rapi karena Luna tidak sempat tidur di sana, dan itu terasa salah, terlalu rapi, seperti sebuah bukti.
Di lacinya, tidak ada lagi perkakas dan benda tajam yang biasa ia simpan karena ada-ada saja yang perlu diperbaiki di rumah itu. Ia sudah memindahkan semuanya sejam sebelumnya, ke kotak kardus, ke bagasi mobil. Tidak dibuang. Hanya dipindahkan.
Ia tidak tahu kenapa penting membedakan dua hal itu. Mungkin karena membuang terasa seperti mengakui sesuatu. Bahwa rumah itu tidak aman. Bahwa ia tidak cukup memperhatikan.
Tiga minggu sebelum malam itu, Luna pernah bilang sesuatu.
"Kayaknya aku lagi capek jadi manusia."
Bima pikir itu bercanda. Ia menjawab, "Nanti aku ajarin jadi kucing. Lebih enak. Tidur dua puluh jam sehari."
Luna tertawa.
Setelahnya, ia juga bilang, "Aku mau tidur terus tanpa bangun lagi."
Kalau dihitung-hitung, Luna pernah mengatakan kalimat itu tiga kali. Dan Bima selalu berhasil mengubahnya menjadi lelucon.
Itu adalah keahliannya. Sama seperti memperbaiki engsel pintu begitu mendengar bunyinya macet—kebiasaan yang dimulai bertahun-tahun lalu, waktu ia menemani Luna kembali ke rumah kakeknya yang gerbangnya tak pernah benar-benar bisa ditutup. Ia tidak pernah bilang ke Luna kenapa itu penting baginya.
Bima juga bisa mengosongkan laci. Bisa meracik herbal yang tepat, bisa menghafal jadwal minum obat, bisa pulang lebih awal karena firasat di dadanya.
Tapi ia tidak bisa masuk ke dalam kepala istrinya. Dan malam itu, ia harus duduk dengan kenyataan itu. Bahwa semua yang ia lakukan selama ini mungkin bukan karena ia tahu cara mencintai Luna dengan benar, tapi karena ia takut duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Karena diam berarti ada ruang untuk pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.
Apakah ini salahku?
Kalau aku gak ngajak bercanda terus, kalau malam itu aku nanya sekali lagi soal ke mana ia mau menghilang, apakah keadaannya akan berubah?
Ia rebah di kasur, menatap langit-langit. Di luar, kota masih berbunyi—motor, suara tetangga yang terlambat pulang, seseorang yang tertawa di jalan. Dunia tidak tahu apa yang terjadi di sana. Dunia tidak pernah tahu.
Dari ambang pintu, ada gerak kecil—Keti berhenti sebentar, mengendus engsel yang baru saja diperbaiki, seperti memeriksa hasil pekerjaan seseorang. Lalu ia masuk.
Di tengah gelap itu, Keti melompat ke kasur.