Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #3

Perempuan Aneh Bernama Raven

Pada suatu siang di sebuah agensi periklanan, Luna bertemu seorang perempuan yang membuatnya teringat akan kucingnya yang mati.

Dia memperkenalkan diri, singkat. Namanya Raven. Ravensa Helga. Sudah, itu saja. Seakan dia tidak ingin diusik dari mana dia berasal, dari mana latar belakang pendidikannya, di mana dia tinggal, berapa menit ke kantor, dan menggunakan kendaraan apa hari ini untuk menembus kemacetan.

Ini hari pertama Raven masuk ke tim account manager. Awalnya, lowongan di kantor ini hanya untuk account executive karena perusahaan ingin memperluas market. Namun, entah kenapa, begitu portofolio Raven masuk, dia dipertimbangkan menjadi salah satu junior account manager, pengganti salah satu rekan kerja yang mendadak resign. Luna mengernyit setiap kali mengingat itu, tapi memilih diam. Bukan urusannya.

Sebagai orang baru, Raven tidak berusaha berbaur. Saat yang lain bergerombol di meja makan siang membahas drama kantor, Raven memilih sudut paling jauh dari pintu, membuka laptop, dan tidak menoleh sekali pun ke arah suara tawa. Dalam tiga hari, dua orang sudah berbisik-bisik di toilet tentang dia.

Luna duduk satu meja dengan dua rekan kerja yang sibuk membahas portofolio Raven yang katanya terlalu mulus untuk seorang fresh graduate. Salah satu dari mereka menyenggol lengan Luna. "Lo denger gak, sih, gosip dia deket sama CEO?" 

Luna hanya mengangkat bahu, tapi matanya melirik ke arah meja Raven, mengukur ulang. Postur duduknya terlalu tegak. Stiker laptopnya kosong melompong, tanpa satu pun tempelan receh seperti milik anak kantoran kebanyakan.

Kakinya sudah bergerak. Ke pantri. Sengaja lewat meja Raven. Pura-pura ada keperluan di sana, padahal gelasnya masih setengah penuh.

Baru satu hari, dan aku udah pengen tahu semuanya soal dia, pikir Luna. Kepo banget, sih.

Raven juga ke pantri. Ia berdiri sebentar untuk mengambil air. Dua petugas kebersihan lewat membawa troli. Raven berhenti, membungkuk kecil ke arah mereka. Bukan sekadar anggukan, tapi bungkukan sungguhan, lengkap dengan jeda sebelum melangkah lagi.

Luna, yang sedang menoleh untuk hal lain, ikut menoleh ke belakang, mengira ada orang penting lewat. Tidak ada siapa-siapa selain dua petugas kebersihan itu.

Semua orang sedang makan siang pada jam istirahat.

Raven duduk sendiri sambil menatap layar ponsel dan menggigit sebelah bibir. Tidak ikut bercanda. Tidak ikut memperkenalkan diri.

Hanya sesekali mengetik cepat dengan jari-jari yang menggulirkan layar.

Luna memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya. Lebih lama dari yang pantas ditujukan ke orang asing. Raven menggaruk pergelangan tangannya sendiri tanpa sadar, satu kali, dua kali, lalu berhenti saat menyadari apa yang dilakukannya.

Ia ingin menjauh. Tapi kakinya tidak bergerak.

"Aku Luna."

Raven mengangkat kepala sebentar.

"Raven."

Lalu matanya fokus kembali ke ponsel.

Hening.

Luna menunggu. Biasanya orang akan balik bertanya. "Oh, Luna bagian apa? Udah lama kerja di sini? Rumahnya di mana?"

Lihat selengkapnya