Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #4

Dia Tidak Pernah Bercerita

Jarum jam sudah menunjuk pukul tujuh. Lift berbunyi berkali-kali. Orang-orang berangsung turun ke lantai satu, membawa tas, membawa jaket, membawa wajah yang sudah siap pulang sejak tiga jam lalu.

Sekarang tinggal mereka berdua.

Luna membuka bekalnya. Satu telur dadar, dua potong sosis, nugget yang gosongnya tidak merata. Ada juga tumbler berisi herbal yang, setelah dia coba teguk, ternyata terlalu kecut dan terlalu banyak rempahnya. Bima pasti buru-buru masak pagi tadi. Lupa madu. Lupa saus. Mungkin juga lupa bahwa makanan seharusnya punya rasa yang bisa diidentifikasi.

Luna manyun menatap bekalnya.

Lalu hidungnya menangkap sesuatu. Raven baru masuk dari luar, meletakkan kantong plastik di mejanya. Onigiri dan sekotak susu dari supermarket. Masih dingin. Kemasannya masih rapi.

"Kayaknya punyamu enak."

"Aku cuma beli satu."

"Kalau tahu ke supermarket, aku titip beli jus kemasan sama saus."

"Memang harus laporan?"

Luna mendelik, melonggarkan kerah kemejanya yang rasanya semakin mencekik sejak tadi. Dia menggigit nugget gosongnya dengan pasrah.

"Aku curhat dikit, ya?"

Raven tidak mengangkat kepala. Membetulkan kacamata, menekuni sesuatu di layar laptopnya yang berkedip-kedip dan tampak sangat serius. "Terserah."

Luna menganggap itu izin.

"Suamiku aneh."

Raven mengangkat mata. Sekilas, tapi cukup untuk Luna tangkap. Kata aneh rupanya punya daya tarik tersendiri.

"Dia punya timbangan badan di tiga tempat."

Raven kembali ke layarnya. "Oh, ya?"

"Satu di kamar."

"Hm."

"Satu di gym."

"Hm."

"Satu lagi di bagasi mobil."

Raven berhenti mengetik.

"Berat badannya naik 0,1 kg tiap kemana-mana pakai mobil. Jadi harus selalu dicek. Kalau naik lebih dari itu, dia jalan kaki keliling stadion sambil gendong tas isi barbel."

Raven memejamkan mata. Lalu tertawa. Benar-benar tertawa, bukan sekadar hembusan napas dari hidung.

Luna menunjuk ke arahnya. "Nah. Aku suka itu."

"Apa?"

"Kamu ketawa."

"Jangan dibiasakan."

"Biasakan apa?"

"Cerita."

"Katanya boleh?"

"Kalau gak penting, jangan.”

Luna menutup mulutnya dengan tangan, baru sadar bahwa sudah hampir tiga puluh menit dia berbicara. Dan Raven, yang katanya tidak mau mendengar hal tidak penting, tidak pernah sekali pun menyuruhnya berhenti.

*

Lihat selengkapnya