Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #6

Rumah dan Tempat Persembunyian

Menjelang subuh, Luna belum tidur.

Lampu kamar sudah dimatikan sejak tadi, tapi matanya tetap terbuka ke langit-langit. Di samping bantal, ponselnya menunjukkan angka 04:17. Luna menatapnya sampai angka itu berubah jadi 04:18, lalu membalik ponsel menghadap kasur.

Di kamar mandi tadi, saat Bima terlelap, dia menggunting rambutnya sendiri. Tangannya butuh sesuatu untuk dilakukan selain mengepal. Hasilnya: panjang sebelah. Sisi kanan lebih pendek hampir dua sentimeter. Luna melihatnya di cermin, memutuskan itu cukup, lalu meletakkan gunting di wastafel.

Setidaknya sesuatu sudah selesai malam ini.

Dia berbaring lagi. Matanya meram. Dan di antara sadar dan tidak itu, datanglah laki-laki dengan pisau. Datanglah kucing yang digorok. Datanglah ular belang yang membelit wajahnya, memaksa masuk ke mulut sampai Luna tersedak—

Kedua kakinya menegang seperti penari balet yang melupakan caranya mendarat.

Luna tersentak. Duduk. Napasnya berantakan.

Dia meraih bantal dan membenamkan wajahnya ke dalamnya, lalu berteriak sepuas-puasnya. Tanpa suara yang keluar ke mana-mana. Hanya kain katun yang menyerap semuanya.

"Ba-ji-ngan!"

Bima bergerak di sampingnya. "Sayang?"

Luna tidak menjawab.

Tapi Bima sudah menyalakan lampu tidur, sudah membuang selimutnya ke lantai, sudah duduk tegak dengan wajah yang, dalam cahaya oranye redup itu, terlihat seperti seseorang yang baru menyadari ada kebakaran kecil di sudut ruangan.

"Kamu kenapa?"

"Gak kenapa-napa."

Bima menatap rambut basahnya yang tidak simetris. Menatap matanya yang merah. Menatap bekas air mata di pipinya yang sudah mengering tapi meninggalkan jejak.

"Itu gak kelihatan kayak 'gak kenapa-napa'."

Luna tertawa kecil. Jenis tertawa yang tidak sampai ke matanya. Bima hafal bedanya. Ada tertawa yang membuat sudut matanya ikut berkerut. Ada tertawa yang hanya menggerakkan bibir saja. Ini yang kedua.

"Aku peluk, ya." Bima membuka kedua tangannya.

Luna menggeser duduknya. Sedikit, hanya sejengkal. Tapi cukup jelas.

Tangan Bima berhenti di udara. Dia menurunkannya pelan.

"Jangan peluk aku."

"Kenapa?" Itu senjata andalan aku, batin Bima.

Luna tidak menjawab. Matanya tersangkut di karpet di bawah ranjang. Warna karpet itu sudah kusam, pasti berdebu, dan Luna baru ingat bahwa dia belum beli penyedot debu. Dia sudah merencanakan beli yang otomatis, yang jenis bulat pipih itu, yang bisa jalan sendiri menyusuri ruangan seperti punya agenda tersendiri.

"Keti mana?"

Hening sesaat. Hanya suara jarum jam di dinding.

Bima mengangguk pelan. Jenis anggukan orang yang sedang belajar memahami sesuatu di luar kemampuannya. "Oke. Sebentar."

Dia bangkit, keluar kamar dengan langkah hati-hati supaya tidak membangunkan tetangga, dan kembali dalam beberapa detik dengan Keti di pelukannya. Kucing bermata satu itu mengeong dengan nada yang persis seperti protes. Siapa yang berani membangunkan aku jam segini?

"Nih."

Keti tidak bergumam protes lagi setelah itu. Dari pelukan Bima, dia hanya diam. Satu matanya yang kuning menyapu ruangan dengan tenang. Udara kamar ini berbeda dari biasanya. Bukan bau yang buruk, tapi lebih tajam dari malam-malam lain. Seperti tanah kering yang tiba-tiba tegang menjelang hujan.

Keti mengendus sekali, pelan, lalu menoleh ke arah Luna. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi sesuatu di dalam dadanya, naluri kecil yang lebih tua dari bahasa, membuat dia tidak bergerak dan tidak mengeong.

Kucing itu menunggu.

Luna langsung membuka tangannya.

Keti mendarat di pangkuannya dan, tanpa basa-basi, tanpa baca situasi, berbalik badan tiga kali, mencakar sedikit celana piyama Luna untuk memastikan teksturnya memuaskan, lalu melingkar dan rebah. Berat tubuhnya hangat dan nyata.

Lihat selengkapnya