Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #5

Laki-Laki yang Terlalu Sempurna

Malam sudah lewat pukul sebelas. Dari dapur, terdengar bunyi panci beradu dengan wajan, lalu suara copper dinyalakan, lalu bunyi blender yang memekakkan selama empat detik penuh.

Luna berbaring di sofa dengan bantal menutupi wajahnya.

Dia tidak suka suara berisik. Tidak suka pengering rambut, tidak suka klakson, tidak suka sirine. Setiap habis mandi, dia lebih memilih duduk di depan kompor sambil mengusap rambut dengan handuk. Pelan-pelan. Sabar, daripada menyalakan benda yang bunyinya seperti mesin pesawat itu.

Tapi Bima di dapur. Jadi Luna bangkit.

*

Punggung Bima terbentang di depan kompor, cukup lebar untuk dijadikan sandaran kepala kalau Luna mau. Luna membuang napas di sana, mencium wangi pewangi pakaiannya. Lavender dan sesuatu yang lain, mungkin vanilla. Lalu, ia melongok dari bawah ketiaknya untuk melihat eksperimen malam ini.

Meja dapur sudah penuh. Jahe. Lengkuas. Kunyit. Serai. Kayu manis. Lemon beserta alat perasannya. Madu. Gula aren. Botol-botol kecil bertutup kayu seukuran ibu jari yang berjajar rapi seperti prajurit. Gelas ukur. Blender. Seperangkat pisau dengan berbagai ukuran. Buah pala. Kapulaga. Alang-alang.

Luna menatap semuanya sebentar.

"Kamu mau masak atau buka apotek?"

"Sebentar lagi, Sayang."

Luna mengambil gelas yang sudah jadi, mencicip sedikit, dan langsung mencari wastafel.

"Itu yang kemarin!" Bima cepat-cepat menyodorkan gelas lain yang sudah dicampur dua sendok madu. "Coba ini."

"Kenapa yang kemarin masih ada?"

"Karena belum sempurna." Bima mengaduk gelasnya sendiri dengan wajah serius seperti ilmuwan yang menunggu hasil reaksi kimia penting. "Kemarin aku campur semua biar semua khasiatnya jadi satu. Stamina, pencernaan, lambung, fertilitas, pereda stres, penyeimbang hormon—"

"Serakah banget."

"—ternyata cara mainnya gak gitu." Bima mengangguk dengan ekspresi orang yang baru dapat pencerahan. "Nanti aku bikin ekstrak tiap khasiat, disimpan di botol-botol ini. Kamu bantu namain satu-satu, ya. Tinggal ambil dari kulkas, tuang pakai air hangat, campur madu. Jangan gula, nanti diabetes. Aku gak mau kita bolak-balik rumah sakit waktu tua."

Luna menatap deretan botol kecil itu. "Kamu udah mikirin nama-namanya?"

"Belum. Makanya butuh kamu."

"Yang untuk stres namanya 'Raven'."

Bima mendongak.

"Biar aku inget efeknya."

Bima tertawa, kembali mengaduk ramuannya. Luna memerhatikan wajah bulatnya yang dibingkai jambang tipis. Tidak ada uban satu pun, padahal Luna sendiri sudah menemukan beberapa helai putih di kepalanya minggu lalu. Konon stres mempercepat uban. Konon juga orang yang hidupnya terlalu mudah tidak punya uban.

"Wajah kamu serius banget," kata Luna. "Makin ganteng."

Hidung Bima kembang kempis. "Aku mau bikin ramuan biar kita awet muda dan hidup seratus tahun."

"Kenapa harus selama itu? Pendek umur bagus. Bisa cepet masuk surga."

Bima menghentikan semua aktivitasnya dan menatap Luna dengan tatapan seorang ayah yang anaknya baru bilang hal tidak masuk akal. "Emang kamu gak betah di dunia?"

"Tergantung harinya."

"Aku betah." Bima kembali mengaduk. "Ada bidadari aku di sini."

Luna sudah beranjak ke halaman belakang sebelum kalimat itu selesai.

*

Luna masih di meja makan dengan piring setengah kosong waktu Bima ke dapur lagi untuk mengambil makanan penutup di kulkas. Ponselnya menyala. Nama Raven di kolom pesan.

Dia mengetik. Membaca. Menghapus.

Sudah kesekian kali dia melakukan ini. Tidak hanya malam ini. Ada kalimat-kalimat yang selalu mati di ujung jarinya sebelum sempat jadi pesan. Luna tidak pernah menghitung berapa banyak. Dia hanya tahu bahwa kotak ketiкnya selalu lebih penuh dari kotak terkirimnya.

Layar gelap. Nama Raven menghilang.

Lihat selengkapnya