Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #7

Topeng yang Retak

Jika ada selain kucing yang membuat Luna cukup marah dan khawatir, itu adalah manusia bernama Raven. Sekarang, bahkan, dia pindah ke meja kerja lain dekat para senior, seakan diistimewakan.

Aturan kantor tidak pernah adil buat Luna sejak kedatangan Raven. Raven selalu dikecualikan jika melanggar sesuatu. Termasuk tidak masuk kerja selama berhari-hari. Bahkan, tanpa surat sakit atau cuti.

Apakah dia memang benar orang titipan dan simpanan bos? Ataukah dia sebenarnya intelejen? Apa tujuan penyamarannya?

Luna benci menebak-nebak. Tapi semua tebakan itu ingin dia pastikan dengan bertanya atau menyelidikinya sendiri.

Kantor sudah hampir kosong. Hanya suara pendingin ruangan dan keyboard yang sesekali terdengar. Luna berdiri di meja Raven. Raven tidak menoleh. Tangannya tetap mengepal mouse, seolah kehadiran Luna hanyalah distraksi seperti iklan di Youtube.

Luna menatapnya cukup lama. "Raven."

"Hm."

"Udah jam pulang."

"Memang."

"Kamu masih… sibuk?"

Raven akhirnya menoleh sekilas. "Kalau iya, kamu bakal pergi?"

Luna tersenyum kecil. "E-enggak."

Raven mengedikkan bahu dan kembali ke layar monitornya. "Berarti enggak sibuk."

Luna setengah bersorak mengarahkan tinju ke udara, lalu buru-buru menyembunyikannya di balik punggung saat sadar Raven bisa saja menoleh lagi kapan saja.

Hening sebentar saat Luna menarik kursi dan duduk tanpa diundang. Raven menghela napas pelan, panjang, seperti orang yang baru saja menerima kenyataan bahwa hujan tidak akan berhenti hari ini.

"Hidung kamu… kenapa?"

Raven meraih hidungnya. "Kejeduk," katanya pendek.

"Kejeduk apa?"

"Benda keras."

Luna memicingkan mata. Terima kasih, informasi yang sangat berguna.

"Orang-orang di kantor sempat khawatir, tahu. Kebiasaan ngilang. Kalau aku yang ngilang pasti kena tegur. Tapi kamu beda."

"Jadi kamu mau nanya atau mau protes?" sela Raven sambil terus mengetik.

"Kamu mau cerita kemarin ke mana dan ngapain aja?"

Raven berhenti mengetik. Menatapnya. "Enggak."

Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu datar. Luna mengernyit. "Kenapa?"

"Karena gak ada yang perlu diceritain."

"Kamu serius mau bertahan dengan cara kayak gitu?"

"Kayak gitu gimana?"

"Gak percaya siapa pun."

"Kenapa harus percaya?"

Luna menarik napas panjang. Ya ampun, anak ini. Tapi ia ingat dirinya sendiri dulu dan seorang perawat yang mendobrak pertahanannya dengan sabar sampai ia akhirnya tahu arti kepercayaan.

Luna mencondongkan badan. "Kamu gak butuh temen atau gimana? Kok apa-apa disimpen sendiri?"

"Siapa bilang?" Raven kembali ke layar dan berkelit. "Aku punya temen."

"Siapa?" tantang Luna.

"Banyak."

"Terus kenapa kamu kayak gak punya siapa-siapa?"

Raven diam. Membuang napas berat satu kali. 

Luna lalu bersandar ke kursi. Diam selama tiga detik yang terasa seperti tiga menit.

“Kamu gak perlu cerita apa-apa,” ujar Luna sambil mencondongkan tubuh, “Tapi kamu tahu gak, setiap kali ada yang nanya dan kamu jawab 'gak ada yang perlu diceritain'—itu bukan jawaban. Itu tembok."

Raven menatap layarnya.

Lihat selengkapnya