Telepon itu selesai dalam empat belas menit.
Raven tahu persis berapa lama karena dia memperhatikan jam di sudut layar ponselnya. Kebiasaan lama, dari masa ketika setiap menit percakapan terasa seperti utang yang harus dilunasi tepat waktu. Setelah suara di seberang memutus sambungan, dia duduk di studio yang sunyi itu sendirian. Lampu kedua masih menyala. Busa kedap suara di dinding masih robek di sudut yang tadi disentuh Luna.
Raven tidak langsung berdiri.
Dia menatap mikrofon bengkok yang sudah dia betulkan tadi. Sekarang lurus lagi, tepat di tengah, seperti tidak pernah tersenggol. Raven suka hal-hal yang bisa dikembalikan ke posisi semula. Sayangnya tidak banyak hal di dunia yang bisa.
Dia mematikan lampu kedua. Lalu lampu pertama. Keluar dari studio dengan kunci yang dikembalikan ke laci kepala tim kreatif. Lorong sudah kosong. Lift diam tanpa berhenti di lantai mana pun.
Udara terasa lebih besar dari malam-malam sebelum ini.
*
Apartemennya di lantai sembilan. Raven hafal berapa langkah dari lift ke pintunya. Dua belas, kadang sebelas kalau dia lupa memperlambat. Malam ini sebelas. Dia membuka pintu, menyalakan lampu lorong, dan melepas sepatunya tanpa menyentuh dinding.
Dia masuk ke dapur, mengambil segelas air. Berdiri di depan wastafel, menatap keran yang tidak dia nyalakan.
Di kulkasnya ada tiga kotak makanan berlabel nama dan tanggal, ditulis dengan spidol hitam di selotip putih. Raven selalu melabeli makanannya, meski dia tinggal sendiri. Meski tidak ada orang lain yang akan salah mengambil. Kebiasaan itu dimulai dulu, waktu ada orang yang sering lupa makanan mana miliknya dan milik siapa, yang selalu bilang sori, kirain punya aku dengan tawa yang tidak pernah terasa seperti permintaan maaf sungguhan.