Gym sedang lengang. Hujan turun begitu deras di luar, seperti seseorang menjatuhkan seluruh isi ember langit sekaligus. Kaca jendela dipenuhi bulir-bulir air yang berlomba mengalir ke bawah.
Bima keluar dari ruangan sambil membawa dua gelas rempah-rempah panas seperti seorang pelayan bintang lima yang tidak tahu cara tersenyum profesional. Tangannya sedikit gemetar menahan panas, tapi dia tetap berjalan dengan tenang menuju anak tangga teras tempat Luna duduk.
"Booster energi," katanya, menyodorkan gelas yang lebih ramping kepada Luna. Seperti biasa, seakan minuman itu baru saja dapat izin edar dari BPOM.
Luna menerima gelasnya. Dua jarinya memegang pinggang gelas. Panas sekali. Asap mengepul dari permukaan. Dia meniupnya pelan, lalu bibirnya menempel di pinggir gelas.
Bima menunggu reaksi Luna saat meminumnya. Mata dan bibirnya membulat. Menunggu Luna menyesap. Dua detik, tiga, empat—ia menghitung tanpa sadar, menunggu ekspresi di wajah Luna berubah menjadi sesuatu yang ia bisa baca sebagai cukup. Sebagai baik. Sebagai bukti bahwa setidaknya ramuannya berhasil, bahwa ia bisa memperbaiki sesuatu hari ini.
Luna meniup asap dari permukaannya. Tidak berkata apa-apa.
“Enak?”
Luna mengangguk. Manisnya pas. Sedikit asam. Tidak terlalu pahit.
Bima tersenyum puas lalu menyesap miliknya sendiri. Terlalu cepat. Lidahnya sedikit terbakar.
Bima duduk di sampingnya, meneguk minuman pekatnya dalam tiga kali tegukan seolah sedang minum air mineral biasa. Luna menggeser posisi duduknya sedikit, mendekatinya. Bahu mereka bersentuhan. Di luar, hujan terus memukul-mukul jalanan parkiran yang kosong.
Bima melirik wajah istrinya dari sudut mata. Sebentar saja, lalu kembali menatap hujan. "Kamu lagi mikirin Raven."
Luna menoleh. "Ketahuan, ya?"
"Aku hafal." Bima bangkit berdiri di anak tangga paling bawah, mengulurkan tangan. "Ayo, ke dalam. Di sofa lebih nyaman."
*
Di ruang tamu front office, mereka berjalan sambil membawa masing-masing gelasnya. Luna melangkah sambil masih menatap ke bawah. Pikirannya entah ke mana, sampai ujung kakinya tersangkut pinggiran keset.
Gelasnya lepas lebih dulu dari tangannya. Ramuan rempah menyebar di karpet dalam satu cipratan.
"Aduh! Maaf—"
Bima memungut gelas yang sudah kosong itu. Menatap karpet. Menatap serbuk yang kini meresap ke serat-seratnya. Dia menelan ludah pelan. Berpuluh menit dia habiskan untuk meramu itu. Tapi wajahnya tidak berubah.
"Tenang," katanya, meletakkan gelas ke kabinet. "Karpetnya udah lama juga minta dicuci. Kamu baru aja kasih alasan bagus." Dia menoleh ke Luna. "Mau aku buatin lagi? Atau mau minum punyaku? Masih ada setengah."
"Gak usah." Luna menggeleng, lalu meliukkan lehernya menatap cermin besar di hadapannya. Ada kantong gelap di bawah matanya. Pipinya terlihat lebih tajam dari minggu lalu. Tiga hari susah tidur, nafsu makan entah kabur ke mana. "Aku kelihatan capek banget, ya?"
"Kelihatan kerja keras."
Luna memerengut. "Bukan itu yang kutanya."
Dia maju satu langkah, memperhatikan detail kecil di wajahnya. Ada setitik hitam di cermin. Dia meniupkan uap ke permukaan kaca, lalu menggosok-gosokkan ujung lengan bajunya. Ternyata sebuah goresan, bekas kuku, di cermin itu. Bukan di wajahnya.
"Apa aku—"
"Cantik."
Luna berbalik dengan ekspresi datar. "Bima."
"Ya?"
"Aku belum selesai nanya."
"Aku udah selesai jawab."
Luna mendelik, tapi telinga dan ujung hidungnya memerah. Dia berbalik lagi ke cermin, pura-pura sibuk merapikan kemeja panjangnya yang ketumpahan tadi. Bima sudah mencabut tisu dari kotak di kabinet, mengelap sisi kemeja Luna, turun ke celana, tanpa banyak komentar.
"Mati lampu pun kamu bakal bilang hal yang sama," gumam Luna.
"Karena jawabannya masih sama."
*
Mereka duduk di sofa. Hujan membawa guntur sekarang, sesekali menyalak keras dari jauh.
"Kayaknya seru kalau kita makan malam di luar," kata Bima.
Luna tertawa kecil. "Kamu mau ngajak aku hujan-hujanan?"