Udara pagi di kantor itu terasa biasa saja. AC sudah diperbaiki minggu lalu, tapi entah kenapa dinginnya masih terasa sama. Terlalu steril, terlalu rapi, tidak punya kepribadian. Monitor menyala. Kopi Luna sudah dingin sejak tadi karena lupa diminum. Deadline menumpuk di sudut layar seperti tagihan yang sengaja diabaikan.
Tapi yang paling berubah bukan suhunya.
Luna dan Raven masih duduk di meja yang berdekatan. Masih sering ada kopi satu liter rendah gula di mejanya tiap pagi. Tanpa nama, hanya kata-kata kecil seperti 'Semangat, ya!' di sticky note. Luna sudah hafal tulisan tangannya. Namun, setiap kali mata mereka hampir bertemu, Raven lebih dulu mengalihkan pandangan. Entah ke layar, ke gelas kopinya, ke mana saja yang bukan ke arah Luna.
*
Hari ulang tahun Luna, Raven menelepon duluan.
Bukan pagi-pagi. Jam sembilan malam, saat Luna sudah setengah tertidur dengan masker wajah yang mengering di pipi. Suara Raven terdengar sedikit terburu-buru, seperti orang yang baru ingat sesuatu di detik terakhir.
"Eh—mau nanya soal revisi brief. Tapi... hari ini tanggal berapa?"
Luna menahan tawa. "Kenapa?"
"Selamat ulang tahun."
"Baru ingat?"
"Baru ngecek kalender."
"Jujur sekali."
Dari sana, obrolan itu berlangsung sampai jauh malam, melewati topik brief yang terlupakan, melewati bos mereka yang punya ego selebar konferensi room, sampai ke kejuaraan anggar yang Raven ikuti waktu SMA, artis Hollywood yang dia favoritkan sejak masih pakai seragam putih biru, dan keponakannya yang minta dibelikan satu set pensil warna edisi khusus.
Sampai mereka tiba di sebuah obrolan tentang siapa yang paling tidak disukai di kantor. Luna menyebut nama. Kakak tingkatnya waktu sekolah, kepala divisi tim kreatif di kantor. Luna ingat, sewaktu dia terpojok di bawah meja karena cacian dan tendangan membabi buta, ada tangan yang dikiranya akan membantu, tapi tangan itu malah menyeretnya pada komplotan para perundung yang sedang tertawa-tawa. Tangan itu milik Nataya.
Luna bersumpah untuk tidak akan berurusan dengannya lagi. Nataya hanyalah seorang pengkhianat. Itu yang Luna selalu percayai dan tidak pernah berubah.
“Kenapa?” tanya Raven kaget.
Dan Luna menjawab, “Pokoknya, dia jahat.”
“Tiba-tiba dia ada di barisan pembully saat dia udah aku anggap sahabat,” ungkit Luna lagi.
Luna berbaring di kasur dengan kaki bersandar di dinding. Dia bercerita pada Raven dengan cara yang jarang dia lakukan di kantor. Tidak berjaga-jaga, tidak memilih-milih kata.
Di tengah obrolan, Raven menyebut keluarganya dengan frasa yang membuat Luna terdiam sebentar. Terlalu positif. Bukan harmonis atau bahagia, tapi terlalu positif. Seperti orang yang menggambarkan manisan yang kemanisan sampai membuat gigi ngilu. Luna ingin bertanya lebih jauh, tapi sesuatu di nada suara Raven membuatnya urung.
Raven juga mendengarkan. Sungguh mendengarkan. Dia diam bukan karena tidak tertarik, tapi karena sedang menyimak. Luna bercerita soal kamar gelap ayahnya. Mesin cetak foto yang mirip gurita. Baki-baki berisi cairan kimia berbau betadine. Kertas putih yang perlahan-lahan berubah menjadi wajah-wajah orang. Luna berkelakar bahwa ruangan itu sekarang sudah layak jadi lokasi siaran uji nyali.
"Kapan-kapan aku mau ke sana," kata Raven.
"Kalau berani."
"Aku selalu berani."
"Gitu kata semua orang sebelum lihat sendiri."
Suara Raven tertawa pelan di ujung telepon. Kemudian diam sebentar, seperti sedang memilih sesuatu. "Kalau gak ada orang kayak kamu di kantor," katanya akhirnya, dengan napas yang sedikit tidak rata, "aku mungkin gak akan bisa setenang ini." Jeda pendek. "Jangan kemana-mana, ya. Aku butuh kamu."
Luna menatap langit-langit kamarnya.
Besok, dia tahu, Raven akan masuk kantor dengan wajah biasa saja. Beku, sedikit ketus, seolah percakapan ini tidak pernah terjadi. Tapi malam itu, Luna menyimpan kalimat itu rapi di suatu tempat di dalam dadanya. Seperti surat yang terlalu penting untuk dibuang, terlalu pribadi untuk ditunjukkan ke siapa pun.
Pintu kamar terbuka pelan. Bima masuk sambil membawa buket bunga dan sekotak cokelat, mengintip dengan wajah setengah minta izin. Melihat Luna masih di telepon, dia hanya menaikkan alis. Mau ditaruh di mana? Luna menunjuk meja rias dengan dagunya. Bima meletakkan semuanya, mengedipkan satu mata, lalu keluar dengan langkah jinjit yang sama sekali tidak senyap karena dia tersandung kaki meja.
Luna menggigit bibir menahan tawa. Di telepon, Raven berkata, "Kamu ketawa kenapa?"
"Bima abis nabrak meja."
"Bilang, hati-hati."
“Udah terjadi.”
Luna tidak jadi mengatakan apa-apa lagi setelah itu. Dia hanya menutup telepon dengan "Sampai ketemu di kantor!"
*
Besoknya, dan besoknya lagi, ada kejutan kecil di meja Luna. Sebotol kopi satu liter rendah gula. Kacamata renang dengan tutup telinga. Sebuah gantungan kunci dengan bunyi alarm kecil. Luna memang sering lupa menaruh kunci dan Raven rupanya memperhatikan hal itu lebih lama dari yang perlu. Tanpa nama. Hanya sticky note dengan tulisan yang Luna sudah hafal bentuk hurufnya.