Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #11

Tutup Mulut

Kalimat Raven di pantri tadi tidak langsung pergi. Dia dibawa pulang, duduk di kursi bus, masuk ke dalam mimpi. Dan ketika Luna terbangun keesokan harinya, yang ada bukan wajah Raven. Tapi cahaya lain, dapur lain, usia yang berbeda.

Yang Luna ingat kemudian hanya pecahan-pecahan: cahaya merah berpendar. Bau minyak panas dan ranti yang digerus di cobek batu. Suara televisi yang berganti-ganti mood dari ruang tamu. Rok polkadot dengan terusan legging krem dan lengan berenda keriting yang dia pakai ke mana-mana karena itu satu-satunya baju yang ibunya jahit sendiri. Kakinya yang lebam, yang dia kompres sendiri di bawah kaki ibu yang sedang memasak.

Gak semua harus diceritakan.

Dulu ibunya bilang itu sambil berlutut, memegang kedua pundaknya, berbisik seperti memohon. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena dunia yang mereka tinggali tidak punya cukup ruang untuk semua yang dirasakan anak kecil itu.

Luna waktu itu mengangguk. Menghapal kalimat itu seperti menghapal pelajaran sejarah sebelum ujian besok pagi. Komat-kamit sendiri. Dia ingin naik kelas. Dia ingin pindah sekolah. Dia ingin bertemu teman-teman yang tidak mendorongnya sampai tersungkur. Dia ingin—

Sebuah panci jatuh di dapur. Dua ekor kucing berlarian di langit-langit rendah. Ibu berteriak. Ayah datang. Sabuk terlepas.

Luna kecil berdiri di sudut, menempel di dinding seperti cicak. Mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara.

*

Pukul sepuluh pagi, Luna pulang sekolah dengan kondisi yang membuat tetangga di gang depan rumah cepat-cepat menutup pagar.

Sepatunya dijinjing. Engkelnya cedera. Seragamnya kusut dan, ini bagian yang paling tidak menyenangkan, berbau pesing. Rambutnya berantakan di satu sisi. Di lututnya ada bekas goresan panjang yang sudah membiru. Ranselnya kotor penuh lumpur. Talinya hampir putus, dan Luna menggenggam sisa tali itu dengan ekspresi orang yang baru selesai berperang dan belum yakin siapa yang menang.

Ibu duduk di ruang tamu, menggunting foto-foto anak sekolah satu per satu, ketika bayangan Luna muncul di ambang pintu.

Ibu mengangkat kepala. Menurunkan gunting. Tidak langsung bertanya. Ia berdiri, mengambil handuk basah dari kamar mandi, dan berlutut di depan Luna. Membersihkan lutut yang tergores itu pelan-pelan, seperti ritual.

"Kenapa?" tanya Luna akhirnya.

"Kenapa apa?"

"Kenapa ibu gak tanya apa yang terjadi?"

Ibu mengusap sisa darah kering di bawah lutut itu. "Nanti juga ibu tanya." Suaranya rendah. "Tapi kalau ibu tanya sekarang, kamu nangis dulu sebelum sempat bersih."

Luna diam.

"Gak semua harus diceritakan sekarang," kata ibunya. "Ada waktunya. Ada caranya."

Waktu itu, Luna pikir itu kebijaksanaan. Ia tidak tahu bahwa 'waktunya' tidak pernah benar-benar datang.

Luna berdiri di sana sebentar. Dia memeriksa sekeliling, memastikan tidak ada Ayah. Bahunya turun sedikit. Bukan banyak. Hanya sejengkal, seperti sesuatu yang selama ini ditahan akhirnya diizinkan untuk istirahat sebentar.

Lalu ia masuk sambil menjinjing sepatunya dengan gaya orang yang sedang membawa barang bukti.

Lihat selengkapnya