Yang membuat Luna ingat kamera itu bukan kejadian di pantri. Bukan kalimat Raven. Tapi cara Raven merebut buku itu dari tangannya. Cepat, refleks, seperti orang yang sudah terlatih melindungi sesuatu. Luna mengenal gerakan itu. Dia pernah melakukannya sendiri, bertahun-tahun lalu, tapi terlambat.
*
Rumah terasa panas. Kipas angin di sudut ruang tamu berputar pelan. Cukup untuk menggerakkan rambut. Langit di luar sudah mulai keemasan.
Luna duduk di lantai dekat meja kerja Ayah, menopang dagu, memandangi etalase kaca di ujung ruangan dengan ekspresi seorang ilmuwan yang sedang memikirkan percobaan berbahaya.
Di dalam etalase itu: kamera.
Ayah sedang tidak ada. Mungkin di tepi kolam ikan. Mungkin main kartu di warung. Luna tidak tahu dan tidak terlalu berusaha mencari tahu, karena kalau Ayah ada, kamera itu tidak akan bisa didekati dalam radius dua meter.
Luna berdiri. Mendekati etalase. Membuka pintunya perlahan. Bunyinya seperti sendi lutut orang tua. Dia mengambil kamera itu dengan dua tangan seperti membawa mangkuk berisi sup panas.
Beratnya lumayan. Luna mengalungkannya ke leher, naik ke kursi untuk melihat cermin yang dipasang terlalu tinggi, dan bergaya seperti fotografer yang pernah dia lihat di majalah bekas. Satu mata dipicingkan. Kepala dimiringkan.
Profesional sekali.
*
Yang terjadi selanjutnya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.
Pengikat kamera ternyata tidak sekuat penampilannya.
Kamera jatuh.
Bunyinya keras sekali. Luna kaget sampai ia merasa perutnya turun beberapa sentimeter. Lensanya pecah. Tutup lensanya patah di satu sisi. Luna melompat turun dari kursi, jongkok di depan kamera itu, dan memeriksa kerusakannya dengan wajah seorang dokter yang sudah tahu diagnosisnya tapi belum siap mengumumkan.
Dia mencoba menyalakannya. Mati.
Mengetuk-ngetuknya ke meja. Masih mati.
Membuka rol filmnya, memeriksa bagian dalam, memasangnya kembali dengan cara yang, belakangan akan dia ketahui, terbalik. Tetap mati.
Luna merogoh saku, mengeluarkan permen karet yang sudah dikunyah, dan mencoba merekatkan tutup lensa yang patah ke tempatnya.
Tidak berhasil. Tapi sudah dicoba.
Dia berdiri. Menatap kamera itu. Kamera menatap balik, atau setidaknya begitu rasanya, dengan lensa yang retak.
Berapa uang jajanku sebulan? Berapa lama sampai cukup buat servis ini?
Luna sedang menghitung dalam kepala ketika pintu depan terbuka.
Suara langkah kaki yang sangat dia kenali.
Luna memutar badan, menyandarkan punggungnya ke etalase kaca, dan tersenyum ke arah Ayah yang baru masuk dengan wajah orang yang baru pulang dari pertemuan panjang dan belum makan siang.
"Ayah pulang."
Ayah mengangguk, meletakkan tas, dan masuk ke dalam tanpa mencurigai apa pun.
Luna menghembuskan napas pelan. Dia berhasil mendudukkan kamera ke posisi semula sebelum Ayah sempat melihat.
Satu hari lagi. Dia hanya butuh satu hari lagi untuk memanggil tukang servis kenalan Ayah dan membereskan semuanya secara diam-diam menggunakan tabungan celengan ayam yang sudah dia kumpulkan sejak kelas dua.
*
Di minggu pagi, Luna sedang menonton kartun kesukaannya. Ini bagian paling seru, saat tokoh utamanya hampir menang. Saat itulah, Ayah keluar dari ruang gelap membawa kamera itu.
"Siapa yang nyentuh barang milikku?"
Kartun itu tiba-tiba tidak penting lagi.
Luna berdiri. Mengangkat tangan. "Aku. Aku gak sengaja, Yah. Apa kamera itu beneran rusak? Apa masih bisa dihidupkan?"