Luna tak akan lupa malam itu.
Ayah membangunkannya jam sebelas, mengetuk pintu kamarnya tiga kali. Biasanya Ibu yang akan bilang makan sudah siap atau ada tamu. Tapi kali ini Ayah.
Luna mengucek mata, duduk, dan menemukan Ayah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tidak marah dan tidak juga terlalu ramah.
"Temani Ayah."
*
Ruangan itu berukuran satu kali dua meter. Lampunya merah redup. Baunya seperti betadine yang lupa dibilas, dicampur sesuatu yang kimia tapi tidak bisa diidentifikasi lebih lanjut tanpa gelar sarjana.
Luna pernah dikurung di sini sebelas jam.
Tapi malam itu, dia masuk dengan sukarela. Duduk di pangkuan Ayah, memerhatikan mesin besar di tengah ruangan yang kalau dilihat dari sudut tertentu memang mirip gurita hasil modifikasi. Luna memutuskan untuk tidak mengatakannya karena sepertinya bukan komentar yang disambut baik di tengah pekerjaan.
Ayah mulai bekerja.
Negatif film dijepit, diproyeksikan, cahayanya diatur dengan kartu buram yang digeser pelan-pelan. Lalu kertas putih dicelupkan ke baki hitam berisi larutan pengembang. Dan di sanalah sihirnya: wajah-wajah muncul dari ketiadaan, perlahan, seperti seseorang yang ragu-ragu keluar dari balik pintu.
Wajah-wajah mungil seusia Luna.
Satu anak rambutnya belah tengah tapi tidak simetris, sisi kiri lebih banyak dari sisi kanan. Satu lagi memakai dasi yang miring hampir empat puluh lima derajat, dan tampaknya tidak ada yang memberitahunya. Yang paling lucu: seorang anak dengan gigi ompong di depan, tersenyum lebar sekali seolah justru itu yang ingin dia tunjukkan ke kamera.
Luna menahan tawa, lalu tidak tertahan lagi. "Ayah, ini anaknya siapa?"
"Sudah, jangan keras-keras."
Luna menutup mulut dengan dua tangan. Bahunya masih naik turun.
Dagu Ayah menempel di rambutnya. Pelukannya sedikit mengencang saat membuka amplop berisi setrip film berikutnya. "Ini bagian terbaiknya," katanya pelan.
Luna berhenti tertawa. Memerhatikan.
Kertas yang lebih besar sekarang. Wajah-wajah yang berbeda. Bukan anak sekolah, tapi orang-orang di jalanan kota lain, di pasar, di tepi sungai. Orang-orang yang tidak tahu mereka sedang dipotret, atau tidak peduli. Seorang nenek tua yang tertawa sampai matanya menghilang. Dua orang laki-laki bermain catur di bawah pohon dengan wajah sangat serius seperti sedang memutuskan nasib negara.
"Ayah ke sana kapan?"
"Sebelum kamu lahir."
"Sama siapa?"
"Teman Ayah. Sopir truk."
Luna memandangi foto-foto itu. Di bumi ini, ternyata ada belahan lain yang isinya manusia dengan kebiasaan berbeda, wajah berbeda, cara tertawa berbeda. Dan semuanya masuk ke dalam kertas kecil ini, dibawa pulang, disimpan di ruangan merah sempit ini.
Mereka menghabiskan malam itu di sana. Ayah bekerja, Luna bertanya macam-macam tentang kota-kota di foto, Ayah menjawab dengan versi pendek yang selalu membuat Luna punya lebih banyak pertanyaan. Di luar ruangan itu, rumah senyap. Hanya suara jangkrik dan sesekali kucing lewat.
Luna tidak buang air kecil sampai jam satu malam.
Demi ini, rasanya cukup sepadan.
*