Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #14

Teman Pertama yang Setia

Ayah pergi membawa koper dan semua perlengkapan kameranya. Entah ke mana. Mungkin bersama sopir truk kenalannya itu, mungkin juga ke tempat lain yang tidak perlu Luna ketahui.

Di kamar, Ibu menangis dengan celak yang luntur sampai membuat garis hitam di pipinya seperti karakter film action yang baru selesai dihajar. Dandanan Marilyn Monroe-nya sudah tidak dipakai lagi karena tidak ada yang perlu dibuatnya terkesan. Luna melewati pintu kamar Ibu berkali-kali, berhenti sebentar, lalu melanjutkan langkah karena tidak tahu harus mengatakan apa.

Ini bukan situasi yang ada jawabannya di buku pelajaran mana pun.

*

Tujuh hari berturut-turut, Ibu menyapu halaman lalu mencari batu di sekitar pohon kersen. Memilah-milahnya. Membuang yang bentuknya tidak sempurna, ke arah yang tidak selalu aman untuk kaca tetangga.

Luna membolos sekolah untuk menjaga Ibu.

Hari ketujuh, hujan deras baru saja mereda jadi rintik. Luna duduk di teras dengan perhitungan sederhana: tidak mungkin Ibu mau keluar kalau tanah seperti ini.

Luna keliru.

Tapi belum saatnya. Ibu masih berdiri di dalam, memandangi jendela sambil memilin-milin ujung rambutnya.

Luna menatap halaman yang sepi. Lalu dari balik pagar, terdengar suara.

"Krrr... Hss..."

Seekor kucing. Kurus sekali. Tulang bahunya kelihatan dari jarak tiga meter. Bulunya kusam, antara oranye dan cokelat, seperti jeruk yang tidak jadi matang. Matanya bulat dan nyalang, menatap Luna dengan ekspresi siapa kamu dan apa urusanmu.

Luna tidak bergerak. "Jangan kabur."

Kucing itu berhenti. Menatap Luna. Mundur satu langkah.

Luna tetap diam. Di kepalanya sedang berlangsung negosiasi satu pihak yang intens. Terlalu cepat, mereka kabur. Terlalu dekat, mereka cakar. Strategi terbaik: pura-pura tidak terlalu tertarik.

"Aku gak punya apa-apa, sih," kata Luna pelan, seolah sedang menjelaskan situasi keuangan keluarganya. "Nanti kita lihat dulu di dapur."

"Grrr."

"Iya, iya. Sabar."

*

Luna kembali dengan sisa ikan dari mangkuk dekat kompor. Tidak banyak, tapi cukup untuk dijadikan alasan diplomatis. Diletakkannya di lantai teras. Mundur dua langkah. Duduk. Pura-pura menatap genteng tetangga.

Kucing itu menatap ikan. Metatap Luna. Menatap ikan lagi.

Tidak bergerak.

"Kamu lucu juga, ya," kata Luna.

Kucing itu langsung merendahkan tubuhnya. "SHHH!"

"Oke, oke! Itu pujian!"

Kucing itu tidak terkesan. Tetap di posisinya, siap tempur tapi tidak benar-benar menyerang, waspada tapi tidak pergi. Di garis batas yang dia tentukan sendiri dengan standar yang hanya dia yang tahu.

Luna menatapnya lama. "Kalau kamu manusia, kamu pasti kayak Ibu. Bilang gak butuh Ayah, tapi tetap nunggu Ayah datang."

Kucing itu menoleh ke arah lain, ke arah pohon kersen, dengan gaya seseorang yang mendengar sesuatu terlalu tepat dan memilih untuk tiba-tiba sangat tertarik pada hal lain.

Mereka duduk seperti itu cukup lama. Ikan di antara mereka sudah mulai mengering. Tidak ada yang memakannya.

*

Dari pintu samping, Ibu muncul.

Bertelanjang kaki. Langsung menuju halaman yang berlumpur.

"IBU!"

Terlambat. Ibu sudah jongkok di tengah halaman yang basah, tangannya mengaduk-aduk tanah dengan ekspresi seorang ahli geologi yang sedang menemukan sesuatu penting. Luna berlari, meraih handuk dari jemuran, lalu ikut jongkok di lumpur karena kalau tidak bisa menghentikan seseorang, kadang yang bisa dilakukan hanya ikut bersamanya sampai selesai.

Hujan yang tadi hampir berhenti memutuskan untuk tidak berhenti.

Deras lagi.

Luna dan Ibu kuyup dalam hitungan detik. Luna menangis, tapi air matanya hilang di antara air hujan di pipinya. Dari teras, kucing kurus itu memperhatikan dua manusia yang kehujanan dengan ekspresi ini bukan urusan aku, tapi dia tidak pergi.

Luna menemukan batu yang paling bulat sempurna di antara lumpur dan hujan. Diangkatnya tinggi-tinggi. "Bu, ini dia. Yang paling bagus. Aku yang jagain."

Ibu berdiri. Memeriksa batu di tangan Luna seperti memeriksa buah di pasar. Mengangguk.

Mereka masuk ke teras bersama-sama, sama-sama berlumpur, sama-sama kuyup. Luna membalut handuk ke bahu Ibu, mengucak-ngucak rambutnya pelan, seperti yang dulu Ibu lakukan ke rambutnya sendiri setelah mandi.

Dari sudut teras, kucing itu mengeong sekali. Pelan. Satu suku kata yang terasa seperti: selesai juga.

*

Beberapa hari kemudian, kucing itu kembali. Lebih dekat dari sebelumnya, satu langkah, tapi tetap di luar jangkauan tangan. Luna pura-pura tidak melihat, menggeser wadah ikan ke tempat yang lebih mudah dijangkau, lalu duduk menghadap arah lain.

Kucing itu mendekati wadah. Makan sedikit. Berhenti. Menatap Luna.

"Gak apa-apa," kata Luna. "Pelan-pelan aja."

"Mreow." Singkat. Tidak meminta pendapat.

Kucing itu pergi sebelum Luna sempat mengulurkan tangan. Tapi kali ini tidak kabur, lebih seperti berjalan pulang karena urusan sudah selesai.

Luna menatap wadah yang ikannya berkurang separuh.

Kemajuan.

*

Ibu perlahan kembali ke ritme yang lama. Mengangkat jemuran. Menyapa tetangga yang lewat seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Melipat baju sambil menghafal dialog sinetron seperti sedang belajar ujian. Sesekali mengajari Luna merajut, dengan tingkat kesabaran yang berbanding terbalik dengan kerumitan benang wol.

"Luna, benangnya digulung dulu, bukan dipelintir!"

"Ini sama aja, kan, Bu?"

"Beda!"

Lihat selengkapnya