Langit pagi itu terlalu terang untuk kabar yang akan datang. Teras rumah masih basah karena sisa-sisa embun. Luna duduk dengan mangkuk makanan di tangannya. Seperti biasa. Seperti hari-hari sebelumnya. Tapi Simba belum kunjung datang.
"Simba…" Luna memanggil pelan dari arah semak sambil menjentikkan jemarinya.
Tidak ada kibasan ekor yang mencurigakan.
Luna menunggu.
Lima menit. Sepuluh. Lalu dari balik semak, Simba muncul. Tapi jalannya berbeda. Lebih lambat dan berat.
Luna langsung berdiri. "Kamu kenapa?"
Simba berhenti, menatap Luna. Tidak ada jarak siaga. Tidak ada geraman. Hanya diam. Tapi Luna tahu, Simba hendak mengatakan sesuatu yang sulit dikatakan. Luna melangkah sedikit ke depan. "Simba?"
Kucing itu mengedip. Pelan. Seperti lelah. Ia mendekat. Bukan mendekat seperti dulu yang ragu dan mencakar. Tapi mendekat seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu. Ia duduk di dekat kaki Luna. Tidak makan. Hanya duduk.
Luna berjongkok. "Kamu sakit?" Simba tidak menjawab. Tapi matanya tidak lepas dari Luna.
Angin bertiup pelan. Daun jatuh satu. Simba berdiri sebentar. Lalu kembali duduk, seolah tubuhnya tidak lagi sepenuhnya miliknya.
Luna menelan ludah. "Aku harus bawa kamu ke dokter?"
Simba berkedip, lambat. Lalu dia memalingkan wajahnya sedikit, ke arah pagar. Luna diam. "Aku gak ngerti… dan gak tahu harus apa," bisiknya putus asa.
Simba mengeong pelan. Bukan seperti minta makan. Bukan seperti marah. Lalu ia mendekat sekali lagi. Kali ini, lebih dekat dari sebelumnya. Hidungnya menyentuh tangan Luna, minta dielus-elus. Luna bergerak sedikit. Tangannya gemetar.
Simba tidak mundur atau mencakar. Tidak juga kabur. Lalu perlahan ia berbalik. Berjalan beberapa langkah. Berhenti. Menoleh sekali lagi.
Luna berdiri. "Simba, tunggu—"
Tapi kucing itu hanya… pergi.
*
Beberapa hari setelahnya, nasi hangat dan ikan segar masih diletakkan. Tapi tidak tersentuh. Panggilan masih ada. Tapi tidak dijawab.
Luna duduk di teras lebih lama dari biasanya, mendekap buku gambarnya yang belum sepenuhnya terisi. Padahal, ia hendak mewarnai gambar-gambarnya tempo lalu dengan pensil warna pemberian Ibu.
Luna hanya bisa menunggu eraman makhluk kecil yang tidak pernah kembali. "Simba…" Suara itu keluar tanpa sadar. Namun, tetap tidak ada yang muncul.
Hari ketiga.
Hari kelima.
Hari kesepuluh.
Luna berhenti menaruh makanan. Bukan karena lupa. Tapi karena yakin tidak ada lagi yang perlu dipanggil.
Ia mulai makan sedikit di meja makan bersama Ayah. Tapi tidak merasa lapar. Ia tidur lebih lama. Tapi tidak merasa istirahat. Ibu sampai khawatir dan bertanya kenapa. Luna tidak menjawab.
Luna tidak bisa menerangkan betapa kosong hatinya dan betapa kesepiannya terasa makin lama makin mencekik leher.
*
Pintu diketuk dua kali.