"Pembunuh."
Satu kata. Pelan. Tapi cukup untuk membuat pisau Ayah berhenti sedetik di atas talenan.
Ayah mendongak. Luna sudah berbalik badan.
Dan dari sangkar di sudut ruang tengah, burung beo peliharaan Ayah yang baru seminggu ada di rumah ini, yang belum hafal nama siapa pun tapi sudah sangat mahir meniru nada, mengulang dengan semangat: "Pembunuh! Pembunuh!"
Ayah tertawa. Keras. Tawa orang yang belum tahu bahwa di belakang rumahnya, drum sampah sedang menunggu beberapa kaset koleksinya.
*
Luna melakukannya dengan sistematis.
Pertama, kaset-kaset pemberian Ayah dikeluarkan dari laci kamarnya satu per satu. Dikumpulkan. Dibawa ke drum di belakang rumah. Luna tidak melemparnya. Dia meletakkannya dengan tenang, seperti orang yang sedang membereskan sesuatu yang tidak lagi diperlukan.
Kedua, dan ini bagian yang paling memuaskan, Luna mengambil kaset dari radio milik Ayah di ruang tengah. Membukanya. Menarik pitanya.
Pita kaset itu panjang sekali. Lebih panjang dari yang Luna bayangkan. Luna menariknya terus, satu lengan, dua lengan, tiga. Seperti sulap yang tidak ada habisnya. Sampai akhirnya dia berdiri di tengah ruangan dengan tumpukan pita mengkilat yang bergulung-gulung di kakinya seperti mie keriting raksasa.
Luna menggulung-gulungnya secara acak. Sekusut mungkin. Dengan dedikasi seorang seniman.
Begini rasanya, pikir Luna, kalau ketenangan seseorang dicabik-cabik.
Lalu dia menaruhnya kembali di tempatnya, rapi, seolah tidak terjadi apa-apa.
*
"Anakmu bicara apa, Santini?"
Ayah berteriak dari arah sumur ke arah dapur dengan nada seseorang yang belum tahu radionya rusak. Dia mengangkat kapak, memisahkan kepala ikan dari badannya dengan satu ayunan yang terlalu percaya diri untuk seseorang yang sedang diam-diam dalam masalah.
"Dia bilang aku pembunuh?" Ayah tergelak. "Cuma karena potong ikan buat makan siang?"
"Habis nonton film horor di tivi," jawab Ibu dari kursi pendeknya, membantu menyisit ikan dengan pisau kecil, tanpa menoleh.
Luna mengintip dari sudut pintu. Tampak drum sampah sudah berasap. Tipis, naik pelan ke langit yang terlalu cerah untuk hari seperti ini.
Selesai, pikir Luna.
Lalu Ayah mengayunkan kapaknya lagi. Luna tanpa sengaja melihat perut ikan terbelah di tangan Ibu, dan langsung memalingkan muka karena tiba-tiba seluruh pikirannya pergi ke tempat yang tidak mau dia kunjungi.