Ada tujuh ekor kucing yang langsung mengerubungi laki-laki tua itu. Salah satunya si Belang. Luna kangen sekali dengan si Belang. Yang lainnya belum Luna hafal nama-namanya.
Ada yang bercorak seperti sapi. Ada yang oranye dengan bulu-bulu lebat seperti Simba. Dia hamil, terlihat dari perutnya yang buncit dan cara jalannya yang seperti membawa ember. Ada juga yang bulunya hitam seluruh badan, hanya menyisakan tanda putih di mulut.
“Dia kayak Zorro,” gumam Luna. Sepertinya Pak Wanca tidak akan keberatan kalau kucing itu dipanggil Zorro.
"Eh, sabar. Satu-satu," kata lelaki itu sambil mengeluarkan daun singkong berisi ikan pepes.
Sejak tadi, Luna bersembunyi di balik pagar. Persis Simba yang dulu memperhatikannya diam-diam dari balik pot bunga.
Lalu Pak Wanca tiba-tiba menoleh. "Kamu mau ngintip sampai magrib?"
Luna terkejut. Ketahuan. Dia pelan-pelan keluar dari balik pagar. Pak Wanca tidak marah. Malah menggeser bangku kosong di sebelahnya. "Duduk."
Luna ragu sebentar. Lalu duduk juga.
Seekor kucing oranye langsung melompat ke pangkuan Pak Wanca. Beberapa kucing lain menggerayangi kaki Luna. Mereka mencium sepatunya, menggosokkan kepala ke betisnya. Satu yang lebih berani langsung naik ke atas kaki Luna dan duduk di sana seolah sudah membuat reservasi.
"Kucing Baba banyak." Luna berkomentar. "Lebih banyak dari terakhir kali aku ke sini."
"Ada yang baru lahir lima," kata Pak Wanca. “Dua sudah diambil anak-anak di lapangan. Mereka mau pelihara." Dia mengelus kepala kucing oranye di pangkuannya. "Sebenarnya kucing-kucing ini juga bukan punya Baba. Kebetulan sering ke sini aja."
"Kok ngasih makan?"
"Mereka lapar."
Sesederhana itu. Luna menunduk. Dadanya masih sesak ternyata, meski sudah lebih dari seminggu. Teringat Simba, yang dulu juga hanya lapar.
"Kucingku mati," cerita Luna pelan, ke arah sepatunya.
Pak Wanca berhenti mengelus. "Oh."
Hanya itu. Luna melirik. Hanya 'oh'? Mungkin Pak Wanca sudah terlalu sering mengubur kucing di pekarangannya. Mungkin kehilangan satu di antara puluhan bukan hal besar baginya. Luna menggeser ujung sepatunya ke tanah. "Aku bikin boneka mirip dia."
Pak Wanca menoleh.
Luna mengeluarkan boneka rajut dari sakunya. Boneka berwarna oranye kecokelatan dengan telinga yang tidak rata dan bekas cakar di perutnya. "Ini bonekanya. Bagus, nggak?"
Pak Wanca mengangkat alis dan meraih boneka itu. Memeriksanya.
"Aku tadinya mau simpan di tas. Malu kalau ada yang lihat."
"Kenapa?" Pak Wanca mengembalikan boneka itu ke tangan Luna. "Memang ada yang harus disembunyikan?" Mulutnya seperti mengulum sesuatu, seperti biasa.
"Takut dibilang aneh,” aku Luna sambil mengangkat bahu.
Ia lalu menaruhnya kembali di saku. "Kayaknya kucing-kucing di sini bakal suka kalau aku kasih mainan kayak gini."
Pak Wanca mengangkat jempol.
*
Laki-laki itu lalu beranjak dari kursi. Pelan-pelan, dengan kehati-hatian seseorang yang sudah hafal batas kemampuan lututnya sendiri, dia memindahkan kursi ke satu titik tertentu yang Luna tidak langsung mengerti tujuannya.
Pemandangan itu seperti video slow motion yang disengaja. Luna menahan kursi itu dari bawah sambil memegangi kedua kaki Pak Wanca yang berdiri tidak seimbang di atasnya.