Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #28

Buku Harian

Buku itu tidak pernah benar-benar disebut buku harian oleh Pak Wanca.

"Kalau disebut buku harian, orang jadi sibuk nulis kejadian," katanya suatu sore. "Padahal yang paling penting justru yang gak kelihatan."

Jadi, setiap kali Luna datang, Pak Wanca hanya akan menyodorkan buku bersampul cokelat yang sudut-sudutnya mulai aus, lalu berkata, "Tulis apa yang gak sanggup kamu ucapin hari ini."

Awalnya Luna bingung. Kadang satu halaman hanya berisi satu kalimat. Kadang cuma gambar awan, tangan, atau seekor kucing yang tidur di bawah meja. Pak Wanca tidak pernah mengoreksi. Tidak pernah bertanya maksudnya. Ia hanya membaca sebentar, menutup bukunya lagi, lalu tersenyum kecil seolah berkata bahwa semua itu sudah cukup.

Dari situlah Luna belajar bahwa sebuah buku bisa menjadi tempat paling aman untuk jujur, bahkan sebelum ia berani jujur kepada dirinya sendiri.

*

Luna sudah sering bolak-balik ke rumah Pak Wanca. Bahkan kalau sudah terlalu malam, dia menginap di sana. Tidur di kasur kapuk tanpa seprai milik Pak Wanca, sementara Pak Wanca sendiri tidur di sofa bersama kucing-kucingnya, menyelimuti diri dengan kain yang ditarik dari gorden jendela.

Kain-kain lain seperti baju, taplak meja, dan serbet bertebaran di lantai dengan noda cat berbagai warna. Pak Wanca masih terlalu malas mencucinya. Luna sudah berhenti berkomentar soal itu.

Panggung pertunjukan teater di sudut rumah itu sudah lama dijadikan kandang ayam. Baunya menyengat. Luna membersihkannya hampir setiap kali datang. Bukan karena diminta, tapi karena kalau tidak dibersihkan, baunya sampai ke ruang tamu dan Pak Wanca tidak pernah menyadarinya.

Setiap pulang ke rumah dengan Zorro dan sepatu dijinjing, Ibu tidak pernah bertanya Luna dari mana. Ayah mengunci kamarnya. Barang-barangnya sudah terlalu sering jadi korban. Burung beo dijadikan pengawas di ruang tengah. Ayah sudah membeli tape VCD baru, lebih modern, dengan tumpukan kaset kepingan yang sebagian disembunyikan dan sebagian dibiarkan tergeletak karena lupa.

Kadang Luna diam-diam menggunakan VCD itu untuk menonton Tom and Jerry bersama Zorro.

Zorro tidak tertarik dengan Tom. Hanya dengan Jerry. Mata Zorro mengikuti tikus itu ke kiri dan ke kanan dengan konsentrasi seorang pemburu profesional yang lupa bahwa dirinya sedang menonton layar kaca.

Kalau kedapatan sedang menonton kartun, Luna diusir Ayah. Ibu tidak membela. Ibu menyetel lagu dan pura-pura sibuk.

Begitu juga siang itu. Padahal Luna baru selesai mencuci piring dan baju. Zorro juga kena pukul.

Luna tidak punya tempat lain.

Di bawah payung, bersama Zorro yang diselipkan di sisi jaket, Luna mengetuk pintu Pak Wanca.

*

Gerimis turun pelan. Suara atap seng seperti orang yang sedang berbisik tentang sesuatu yang tidak terlalu penting.

Di ruang tamu, Luna duduk bersila, menggosok-gosokkan lengan untuk mengusir dingin, lalu menerima teh panas dari tangan Pak Wanca yang sedikit gemetar saat menuangnya.

Kucing-kucing lain langsung mengerubungi Zorro, mencium hidungnya, mengendus punggungnya. Satu yang lebih lancang langsung menepuk kepala Zorro dengan cakar depan. Zorro menerima semuanya dengan ekspresi seorang tamu yang sudah hafal cara kerja reuni keluarga.

Pak Wanca duduk di kursi rotan, mengamati kucing-kucingnya dengan tatapan seorang direktur yang sedang mengecek kehadiran staf.

"Yang belang itu mood-nya lagi jelek," katanya tiba-tiba.

Luna menoleh. "Hah?"

"Si Belang." Pak Wanca menunjuk dengan dagunya. "Telinganya miring ke kiri. Artinya dia lagi gak mau diganggu."

Luna menatap si Belang. Telinganya memang miring ke kiri.

"Kalau kucing hitam itu…" Pak Wanca menunjuk Zorro, "kalau ekornya tegak berarti dia mau cerita sesuatu. Tapi gak ada yang mau dengar."

Luna hampir menyemburkan tehnya. "Baba tahu dari mana?"

"Dari lama kenal mereka." Pak Wanca menjawab seperti itu pertanyaan yang jawabannya sudah jelas. "Seperti orang. Kalau sudah lama kenal, gak perlu tanya kabar. Sudah tahu."

Luna menatap Pak Wanca sebentar. Laki-laki tua dengan kacamata besar yang miring, yang tidur di sofa dengan gorden sebagai selimut, yang hafal suasana hati kucing dari posisi telinga. Lalu Luna tertawa kecil tanpa suara.

Bukan karena lucu. Tapi karena tidak menyangka.

*

Di meja di depan Luna, ada buku tulis baru. Masih kosong. Halaman pertamanya terlalu putih untuk sesuatu yang akan menyimpan banyak hal yang kotor dari dalam kepala manusia.

Pak Wanca tidak memaksa Luna bicara. Tidak menatap terlalu lama. Hanya ada.

"Kenapa harus nulis?" tanya Luna pelan. "Di situ?"

Pak Wanca tidak menjawab langsung. Dia menaruh kuas, memandang Luna sebentar. Dia memandang dari buku ke tangan ke wajah. Lalu dia mengambil kuasnya lagi dan melanjutkan melukis.

Dia tidak pernah meminta Luna diam saat Luna mendongeng untuk kucing-kucingnya. Tentang tikus yang membangun kerajaan di bawah lantai dapur. Tentang pohon kersen yang sebetulnya pintu ke dunia lain. Tentang Zorro yang bisa berbicara tapi memilih tidak karena manusia terlalu berisik untuk diajak berdiskusi.

Pak Wanca hanya mendengarkan. Sesekali tangannya berhenti di atas kanvas, tanpa Luna sadari.

"Raka dulu gak suka gambar orang," katanya suatu sore, pelan, seperti berbicara sendiri. "Maunya gambar gedung aja."

Luna tidak tahu harus merespons apa. Beberapa kali ia sudah mendengar nama itu di sesi-sesi latihan menggambar. Sepertinya, dia orang penting. Saat Luna hendak bertanya, Pak Wanca sudah kembali melukis.

Sesaat kemudian, tanpa diminta, Pak Wanca menunjuk jidat Luna dengan ujung kuasnya. Masih ada cat merah di sana, sedikit. "Karena kalau kamu simpan semua di kepala, kamu bakal sesak napas. Kayak ketindih batu. Jadi, lemparin aja batu itu biar kepalamu enteng."

Luna mengelap jidatnya. Ada bekas cat merah kecil di punggung tangannya sekarang.

Pak Wanca tidak menyadarinya. Atau menyadari tapi memilih tidak berkomentar.

Lihat selengkapnya