Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #29

Kamar Mandi

Rumah Pak Wanca terasa makin sempit setiap matahari terbit. Lampu lorong redup. Jika dimatikan, lorong itu terlalu gelap untuk dilewati. Suara televisi di ruang depan terdengar samar, seperti berasal dari dunia lain.

Pak Wanca masih tertidur dengan mulutnya yang mangap dan selimutnya yang acak-acakan. Suara dengkurnya berlomba dengan suara televisi.

Luna berdiri di kamar mandi yang bau pesing itu sambil mencubit hidungnya. Dia nyaris muntah.

Semua alat mandi di sana sudah rusak dan hampir habis isinya. Sikat gigi rombeng. Gagang cukur patah. Gayung yang sudah berjamur. Gelas dengan belasan kuas yang tidak seharusnya ditaruh di situ. Sabun yang lebih banyak campuran airnya. 

Luna mengganti semua alat-alat mandi di sana. Masing-masing dia beli dua. Termasuk sampo dan pasta gigi. Juga handuk bersih.

Kloset duduk yang keraknya kecokelatan dia sikat sekuat tenaga setelah menyiramnya dengan cairan biru. Kloset itu menjadi kinclong dan wangi. Banyak kecoak yang berhamburan ketika dia memindahkan batu bata di pojokan yang mengganjal pintu.

Luna berniat menggosok seluruh lantai kamar mandi sampai Pak Wanca terkejut dan betah berlama-lama di kamar mandi.

Luna tak meminta izin untuk sesuatu yang Luna yakin seratus persen takkan ditolak.

Pak Wanca terlalu enggan melakukan sesuatu selain hobinya melukis, termasuk membersihkan rumah yang sudah dirambati tanaman liar di beberapa sudut. Dia memang laki-laki pemalas. Persis Ayah.

Tapi, seperti juga semua orang, Pak Wanca jelas akan tersenyum senang ketika melihat sebuah ruangan paling pribadi yang tak lagi menjadi sarang kecoak.

Sebenarnya, Luna punya alasan cukup krusial kenapa dia mau repot-repot membersihkan kamar mandi pagi itu sebelum ruangan lain.

Dia baru bisa mandi jika sudah memastikan kamar mandi itu tidak menyimpan kuman—yang membuat badannya terasa masih kotor meski sudah mandi. Luna memang seniat itu untuk tinggal bersama Pak Wanca selama beberapa hari ke depan. Dia sudah membawa ransel berisi seragam biru sekolahnya.

Dalam balutan handuknya, saat Luna bersiap untuk mandi setelah berkeringat karena aktivitas bersih-bersih, pintu baru saja ditutup dari luar oleh seseorang. Tidak bisa dibuka dari dalam.

"Ada apa ini?" Suara Luna naik sedikit. "Baba?" Tidak ada jawaban langsung. Hanya langkah kaki pelan menjauh… lalu berhenti.

"Baba?" Luna mengetuk pintu.

"Sebentar. Sebentar." Suara Pak Wanca terengah-engah di luar. Lebih berat dari biasanya. Terlalu asing. Luna mulai tidak nyaman. Pak Wanca berjalan menjauh menyusuri lorong sambil meraba-raba dinding dengan hati-hati.

"Baba, ada aku. Aku masih di dalam!" teriak Luna. Sepertinya, Pak Wanca tidak menyadari ada orang di dalam. Telinganya pasti melemah, pikir Luna.

Lihat selengkapnya