Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #30

Seragam Polisi

Setelah teriakan yang amat sangat kencang sampai menyakitkan telinganya sendiri, secercah cahaya matahari menyambar masuk menelusup ke celah-celah kamar mandi. Tubuh Luna masih kaku. Di luar rumah, suara burung terdengar. Luna mendengar langkah kaki. Lebih ringan. Lebih banyak.

“Siapa yang terjebak di dalam?” Suara tetangga perempuan. Untungnya, pintu rumah tidak menghadap jalan raya sehingga dengungan suara-suara berisik tidak membungkam permintaan tolong dari seorang gadis yang merasa terancam.

Luna tidak langsung menyahut. Lidahnya kelu setelah sekuat tenaga berteriak tadi, seakan ruhnya juga ikut keluar. Dia hanya sanggup menunggu.

Rumah bergaya kolonial itu sebenarnya berhimpitan dengan rumah-rumah lain di sisi kiri dan kanan. Area yang padat penduduk. Jadi, jika tidak ada bising motor yang kebetulan lewat jalan setapak atau barisan domba-domba ribut yang digembalakan pemiliknya di ladang, para penduduk di situ bisa saling berbagi rahasia tanpa harus keluar rumah.

Luna masih meminggirkan kepalanya, menghindar dari mulut Pak Wanca yang mengucapkan sesuatu dengan berat di telinganya. “Aku cuma gak mau kamu pergi.” Hening panjang lalu muncul suara lagi. Lebih pelan dan berguncang. “Orang yang pergi… selalu bikin aku sendiri lagi.”

“A-aku gak akan pergi… Baba.” Suara Luna tidak terdengar seperti janji. Lebih seperti cara bertahan hidup. “Aku gak akan pergi.”

Suara pintu rumah terbuka paksa. Beberapa langkah kaki mengetuk lantai dengan cepat. Luna mendengar, “Di mana?” Lalu muncul gedoran di pintu kamar mandi. Lebih keras dan intens. “Ada orang di dalam?”

Luna belum bisa menjawab pertanyaan sederhana. Sekarang, fokusnya masih pada igauan kakek tua di hadapannya. Kepalanya terkunci di antara deru napas Pak Wanca. Tenggorokannya seperti tidak punya izin bicara. Hening sekejap. Lalu muncul suara lagi, “Jangan takut. Kami di sini.”

BRAK!

Pintu kamar mandi akhirnya dibuka. Daun pintu bergoyang perlahan. Sedangkan, cahaya masuk terlalu cepat, menyakiti pandangan. Luna mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak langsung bergerak. Dia menggelosor ke bawah. Tangannya memeluk lutut. Napasnya tersengal.

Sejak pintu sudah terbuka, Luna masih meringkuk. Tidak langsung keluar. Seorang petugas keamanan mendekat. “Nona, kamu aman sekarang.” Dia, petugas itu, belum menanyakan nama dan alamat tempat tinggal.

Luna mengangguk kecil. Tapi tubuhnya tidak ikut setuju. Masih menggigil. “Aku gak…” Suaranya pecah, “…ngerti ini tadi apa.”

Petugas keamanan itu diam. Tidak memaksa kalimat selesai.

Entah bagaimana mulanya, tahu-tahu Luna duduk di ranjang rumah orang lain. Ranjang milik anak perempuan. Selimut diberikan. Air minum ditaruh di meja. Tapi ia tidak minum. Tidak tidur.

Lihat selengkapnya