Penangkapan Pak Wanca tidak membuat desa menjadi tenang.
Justru sebaliknya.
Seolah ada batu besar yang dilempar ke tengah kolam. Riak pertamanya keras dan menghantam, tapi yang lebih berbahaya adalah gelombang-gelombang kecil yang terus menjalar, menyentuh tepian yang bahkan tidak ada hubungannya dengan pusat benturan itu.
Luna melihatnya sendiri dari balik jendela kamarnya.
Tiga hari setelah berita itu tersebar, ibu-ibu pengajian yang biasanya lewat depan rumah sambil melambaikan tangan kini berjalan lebih cepat, kepala sedikit menunduk. Seolah rumah keluarga Luna adalah sesuatu yang tidak boleh terlalu lama dipandang.
Korban kejahatan seksual.
Kata itu sekarang menempel di belakang namanya seperti bayangan yang tidak bisa dilepas.
Luna menarik tirai. Menutup jendela rapat-rapat.
*
Sejak kasus itu mencuat, hidup Luna berubah total. Bukan hanya keluarganya yang menjadi sorotan. Nama desa menjadi sorotan.
Putra Pak Wanca, Raka, yang saat itu sedang kuliah semester sebelas, ikut menanggung akibatnya. Di kampus, orang-orang mulai mengenalnya bukan sebagai mahasiswa aktivis yang memperjuangkan hak-hak kaum lemah, melainkan sebagai anak pelaku pelecehan. Begitulah orang-orang menyebutnya. Pesan-pesan tetap mengalir, lelucon-lelucon tetap dibagikan, tapi tidak ada satu pun yang ditujukan padanya. Ia ada, tapi seolah tidak ada.
Beberapa minggu kemudian, Raka berhenti kuliah.
Luna pertama kali melihatnya di belakang rumah Pak Wanca, tiga hari setelah penangkapan. Ia sedang mengangkut kardus-kardus keluar dari gudang sendirian. Tubuhnya cukup tinggi, tapi cara bergeraknya terlihat seperti seseorang yang terlalu berhati-hati untuk mengambil ruang.
Luna berdiri di balik pagar. Tidak sengaja melewati jalan itu, atau mungkin tidak sepenuhnya tidak sengaja. Ada bagian kecil dari dirinya yang ingin tahu seperti apa rupa orang-orang yang juga ikut tenggelam karena ombak yang ia mulai.
Raka tidak melihatnya.
Dan Luna tidak berhenti. Ia terus berjalan, membawa rasa bersalah yang belum ia beri nama.
Di warung, orang-orang kasak-kusuk saat melihat Luna.
"Saya tidak percaya," kata salah seorang mantan murid Pak Wanca. "Dua puluh tahun saya kenal beliau. Dua puluh tahun."
"Baru dituduh langsung ditangkap. Memangnya di mana asas praduga tak bersalah?"
Di sudut warung, ada juga yang diam. Seorang ibu yang bertahun-tahun menitipkan anaknya belajar seni pada Pak Wanca. Ia sendiri yang mengantarkan. Ia sendiri yang memuji-muji Pak Wanca di hadapan anak-anaknya: Beliau orang baik. Belajarlah sungguh-sungguh.
Sekarang ia tidak bisa menyelesaikan kopinya. Ia meletakkan uang di meja dan pergi tanpa berpamitan.