Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #32

Dua Kebenaran

Kabar itu datang lewat mulut tetangga, seperti kabar-kabar lain di desa ini.

Katanya, ada nenek tua yang mengetuk pintu rumah Luna dua hari setelah Raka pergi. Nenek tua dengan tas kulit cokelat di lengannya dan kerudung yang dilipat rapi sampai ke dagu. Wajahnya tidak asing bagi orang-orang yang masih mengingat pertunjukan teater paling ramai dan sanggar terkenal di desa itu.

Dia adalah mantan istri Pak Wanca.

Bu Riaga.

*

Luna sedang menjemur pakaian saat Ibu memanggilnya dari dalam dengan teriakan. Nada yang hanya dipakai Ibu untuk dua situasi: tamu penting, atau masalah besar.

Luna masuk dengan tangan masih basah bekas kain yang diperas.

Nenek tua itu sudah duduk di kursi tamu. Tasnya di pangkuan, rapi. Lehernya bergelayut perhiasan sederhana. Bibirnya bergincu merah tua yang tidak berlebihan. Masih terdapat bekas kecantikan di wajah itu. Dan Luna tahu persis seperti apa kecantikan itu waktu mudanya, karena pernah melihatnya di kanvas-kanvas yang dipajang Pak Wanca di dinding. Anggun seperti burung bangau yang menari di danau.

Zorro, yang rupanya sudah masuk rumah tanpa izin dan sedang duduk di bawah kursi tamu, mengangkat kepalanya dan menatap tamu baru itu dengan ekspresi seorang penjaga keamanan yang sedang mempertimbangkan apakah situasi ini perlu ditangani.

Bu Riaga menatap Zorro. Zorro menatap Bu Riaga.

Lalu Zorro memutuskan tidak ada yang perlu dilakukan dan kembali menunduk.

"Kamu Luna?" tanya Bu Riaga.

Luna mengangguk.

"Kenalkan, saya Riaga." Dia tidak menambahkan istri Pak Wanca atau keterangan apa pun. Seakan namanya saja sudah cukup menerangkan segalanya. "Boleh kita bicara?"

Ibu berdiri di dekat dapur, ragu apakah harus ikut duduk atau pergi. Luna meliriknya sebentar. Ibu memilih masuk ke dapur dan menutup pintu tidak sepenuhnya. 

Mereka berdua duduk berhadapan.

Di bawah kursi, Zorro pindah posisi, dari bawah kursi tamu ke bawah kursi Luna. Langkahnya pelan, seperti seseorang yang berpindah tempat duduk di bioskop tanpa mau ketahuan.

*

"Saya minta maaf," kata Bu Riaga langsung.

Tidak ada basa-basi. Kalimat itu keluar seperti sesuatu yang sudah diucapkan berkali-kali dalam kepala sebelum akhirnya sampai ke sini. "Atas apa yang dilakukan suami saya sama kamu."

Luna tidak langsung menjawab. Kata maaf dari mulut orang lain selalu terasa seperti benda yang tidak tahu harus ditaruh di mana.

"Kamu gak perlu bingung," lanjut Bu Riaga, seolah mengerti. "Saya ke sini bukan untuk minta kamu memaafkan dia. Saya ke sini karena kamu berhak tahu sesuatu."

Luna menunggu.

Bu Riaga membuka tasnya. Dikeluarkannya sebuah amplop cokelat yang sudah agak lusuh di ujungnya. Di dalamnya, beberapa lembar kertas. Dia tidak langsung menyerahkannya. Hanya menaruhnya di meja di antara mereka.

"Wanca sakit," katanya pelan. "Sudah lama. Jauh sebelum kamu mengenalnya."

Diagnosisnya sudah ada sejak dua puluh tahun lalu. Bipolar dengan episode psikotik yang tidak terprediksi. Pada fase tertentu, di luar kesadarannya sendiri, Pak Wanca bisa mundur jauh ke dalam dirinya yang lain. Bukan seperti orang dewasa yang lupa diri, tapi seperti seseorang yang benar-benar percaya bahwa dirinya masih sangat kecil. Masih balita. Masih di dunia yang hanya ada dia dan ibunya.

"Umi," kata Luna pelan. "Itu yang Baba sebut-sebut.”

Bu Riaga mengangguk. "Itu sebutan buat ibunya. Umi meninggal sewaktu Wanca berumur empat tahun. Tenggelam di sungai belakang rumah." Dia menatap meja. "Dia gak pernah benar-benar selesai dengan itu."

Luna teringat suara Pak Wanca di dalam kamar mandi. Umi. Jangan dulu pergi. Sesuatu di dadanya terasa seperti tanah yang longsor pelan-pelan.

"Itu bukan alasan," kata Bu Riaga cepat, seolah membaca pikiran Luna. "Saya gak ke sini buat membela dia. Sakitnya gak membuat apa yang dia lakukan menjadi benar. Gak pernah." Suaranya stabil, tapi ada retakan kecil di ujungnya. "Tapi saya pikir kamu perlu tahu bahwa ada sesuatu yang rusak di dalam dirinya sejak lama. Jauh sebelum kamu ada di hidupnya."

Luna menatap amplop itu. "Kenapa catatan ini gak ditunjukkan saat itu? Diajukan sebagai bukti, atau—"

"Karena saya yang menyembunyikannya." Bu Riaga memotong. Dingin. Rapi. Seperti fakta yang tidak perlu dihias. "Hanya saya yang tahu keadaan suami saya."

Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Di bawah kursi Luna, Zorro mengeong sekali. Sangat pelan, nyaris tidak terdengar. Bukan minta makan. Lebih seperti orang yang duduk di samping seseorang di ruang tunggu rumah sakit dan tidak punya kata-kata, tapi tidak mau pergi juga.

Bu Riaga menaruh tangannya di atas amplop itu. Tangannya tidak gemetar. "Saya tahu itu terdengar kejam. Mungkin memang kejam."

Lihat selengkapnya