Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #33

Sketsa dari Balik Jeruji

Sebuah kiriman datang tanpa pemberitahuan.

Bukan amplop cokelat seperti milik Bu Riaga. Ini amplop putih dengan perangko yang sedikit terkelupas, seolah pengirimnya juga ragu-ragu di detik terakhir. Ada nama Luna dan Zorro ditulis tangan dengan spidol hitam. Tegak, sedikit miring ke kanan, terlalu besar untuk ukuran amplop itu.

Di pojok kiri atas: stempel lembaga permasyarakatan.

Luna tidak langsung membukanya.

Dia menaruh amplop itu di meja belajar. Lalu dipindahkan ke laci. Lalu kembali ke meja. Selama dua hari, amplop itu berpindah-pindah tempat seperti benda yang tidak jelas kategorinya, bukan surat, bukan bom, tapi diperlakukan mendekati keduanya.

Zorro duduk di atas amplop itu di hari kedua. Cara kucing menyatakan pendapat.

"Iya, iya," kata Luna, menggesernya. "Aku buka nanti."

Zorro pindah ke atas amplop lagi. Lebih mantap dari sebelumnya.

*

Di tempat lain, di waktu yang lain, seekor kucing bermata satu melakukan hal yang persis sama.

Surat itu baru saja diletakkan di meja. Keti mendekatinya, menciumnya sekali, lalu duduk di atasnya tanpa ragu. Seluruh tubuhnya menutup tulisan di amplop itu. Luna menariknya pelan. Keti menggeser mengikuti, masih duduk. Luna melepaskan. Keti mendengkur.

Beberapa hal rupanya tidak perlu diajarkan.

*

Pada hari ketiga, Luna membukanya. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas. Bukan surat. Tidak ada kata-kata. Hanya sketsa.

Sketsa pertama: teras rumah bergaya kolonial. Seseorang duduk di kursi rotan. Dua cangkir teh di meja kecil. Seekor kucing tidur di bawah bangku. Dan di sisi kanan, siluet anak kecil menunduk ke arah buku, menggenggam pensil.

Luna yakin itu dirinya.

Sketsa kedua: halaman belakang. Jemuran yang bergoyang. Kucing-kucing berbaris menunggu makanan dengan ekspresi pegawai yang sudah hafal jadwal makan siang. Dan di tengah semuanya, seorang anak perempuan kecil dengan tangan terangkat, seperti sedang menjelaskan sesuatu yang sangat penting kepada makhluk-makhluk yang tidak akan pernah membalasnya.

Luna hampir tersenyum di situ.

Sketsa ketiga: ruang tamu yang berantakan. Kanvas bersandar di dinding. Cat berceceran. Di sofa tua itu, dua sosok membelakangi satu sama lain, sibuk dengan urusannya masing-masing. Seorang tua dengan kacamata besar. Seorang anak perempuan dengan buku di tangan. Tidak saling menatap. Tapi duduk dalam jarak yang nyaman. Cukup dekat untuk mendengar. Cukup jauh untuk bernapas.

Luna meletakkan sketsa itu. Tangannya gemetar.

Di bagian bawah sketsa terakhir, satu kalimat kecil dengan tulisan tangan yang sama: Murid terbaik yang pernah Baba punya. Terima kasih sudah mengisi kanvasmu sendiri.

Zorro melompat ke ranjang dan duduk tepat di samping Luna, yang sedang diam menatap kalimat itu.

"Kamu bisa baca tulisan ini?" tanya Luna.

Lihat selengkapnya