Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #34

Nama-Nama yang Tertulis

Entah kenapa setiap memandang Zorro, pipinya jadi deras hujan air mata tiba-tiba. Luna memberanikan diri menengok Pak Wanca di penjara.

Ruang besuk itu sempit, dengan meja panjang yang membelah dua sisi. Bau disinfektan bercampur lembap. Luna duduk dengan tangan terkepal di pangkuan, menatap pintu besi tempat para tahanan akan muncul.

Di sebelahnya, seorang ibu-ibu menunggu dengan tentengan kantong plastik penuh jeruk. Jeruknya banyak sekali. Cukup untuk satu RT. Luna menatap kantong itu sebentar, lalu kembali ke pintu besi.

Saat Pak Wanca dibawa keluar, Luna hampir tidak mengenalinya. Tubuhnya lebih kecil. Kacamatanya sudah diganti yang lebih sederhana. Tapi begitu mata mereka bertemu, Pak Wanca tersenyum. Giginya ompong. Senyum yang sama dengan yang dulu menyambutnya di teras rumah penuh kucing.

Tapi senyum itu sedikit lebih miring. Pipi kanannya bengkak keunguan.

Narapidana lain bersiul saat Pak Wanca duduk.

"Luna." Suaranya masih hangat, seolah tidak ada belasan tahun dan tembok yang memisahkan mereka.

Luna meletakkan paperbag di meja, nasi hangat dan ikan-ikan. Lalu keranjang kucing yang penghuninya segera dia keluarkan.

"Ya ampun. Kamu bawa Zorro?"

Zorro langsung melompat ke leher Pak Wanca, mendorong moncongnya minta dikecup, tidak peduli ini ruang besuk atau bukan. Petugas di sudut ruangan menatap ke arah mereka dengan ekspresi seseorang yang tidak tahu apakah ini melanggar peraturan atau tidak, lalu memutuskan untuk tidak tahu.

Pak Wanca menggaruk perut Zorro, lalu memintanya duduk. Zorro, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, manut.

"Baba kangen sekali sama kucing ini. Yang lain tidak kelaparan?"

"Kak Raka yang mengadopsi sisanya."

Pak Wanca berkaca-kaca mendengar nama anaknya, tapi segera mengalihkan topik. "Buku kamu sudah penuh? Tetap menulis?"

Luna menjawab satu per satu. Mereka bicara tentang hal-hal kecil. Warna langit saat senja. Kucing-kucing yang dulu berebut makanan. Gradasi biru-ungu yang pernah mereka lukis bersama.

Untuk beberapa menit, Luna bisa pura-pura bahwa dunia ini sederhana saja.

Tapi setiap kali Pak Wanca tersenyum, sesuatu di dalam dada Luna runtuh. Punggungnya lebih bungkuk. Rambutnya dicukur asal. Pipi kanannya yang bengkak.

"Baba," kata Luna, suaranya bergetar. "Maaf."

Pak Wanca menatapnya lama. Lalu menggeleng pelan. "Kamu udah bilang itu di suratmu."

"Tapi aku—"

"Luna." Pak Wanca memotong, lembut. "Kamu masih ingat apa yang Baba bilang soal menulis?"

Luna mengangguk.

"Itu masih berlaku. Untuk apa pun yang kamu rasain sekarang, menulislah. Kalau kamu sudah berhasil menciptakan keindahan dari apa yang kamu rasakan, kamu akan mensyukurinya. Gak ada yang perlu disesali."

*

Pak Wanca tersenyum dengan mulut lebar tanpa gigi. Tulang pipinya menonjol. Luna menunduk. Tidak sanggup menatap senyum itu terlalu lama.

Di pangkuannya, Zorro diam saja. Tidak mencakar. Tidak mengeong. Hanya berat kecil yang hangat, seperti ia tahu ini bukan saatnya minta perhatian.

Waktu besuk habis lebih cepat dari yang Luna kira. Pak Wanca dipanggil masuk, diborgol kembali. Petugas mendorong kepalanya keras sambil tertawa saat berjalan ke balik pintu besi. Siulan susul menyusul dari narapidana lain.

Pak Wanca tidak memedulikannya. Menoleh sekali. Melambai kecil. Masih dengan senyum yang sama, sebelum akhirnya terseret masuk ke selnya yang gelap.

Luna duduk sendirian sampai seorang petugas menepuk pundaknya.

Lihat selengkapnya