Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #35

Tak Bisa Bicara Apa-Apa

Luna tidak benar-benar tidur malam itu. Matanya terbuka, tapi tidak melihat apa-apa. Di kepalanya, suara-suara lama kembali datang. Bukan suara orang lain. Tapi suaranya sendiri.

Aku merusak semuanya.

Tangannya gemetar saat memegang benda-benda di kamar. Semua terasa seperti ‘kesalahan’ yang bisa disentuh. Radio. Lemari. Cermin buram. Buku-buku. Luna menarik tangannya lagi, tidak jadi menyentuh benda-benda itu. Ia berdiri. Lalu duduk lagi. Lalu berdiri lagi, seakan tubuhnya tidak sepakat dengan pikirannya.

Tidak semuanya harus diceritakan. Seharusnya, aku tahu dari dulu.

Seharusnya, pria baik itu dikirimi ribuan bunga saat meninggal dunia.

Luna menutup telinga. Tapi dia sudah tidak sanggup mempersenjatai diri. Hanya bisa mengulang dan menggumamkan kalimat-kalimat yang familiar di kepalanya.

Di lantai, ada satu kaos kaki yang tidak ada pasangannya. Luna memandanginya cukup lama. Entah kenapa benda itu terasa seperti metafora, tapi dia terlalu lelah untuk memikirkan metafora apa.

Luna berjalan ke pintu kamar. Membukanya sedikit.

Terlihat rumah dan pekarangan sunyi. Hanya suara kipas yang berputar pelan di ruang tengah dan dengkuran kucing yang tidak jelas dari mana asalnya. Luna menutup pintu. Duduk di lantai.

Hanya keheningan yang terlalu panjang untuk ditanggung seorang diri.

*

Kak Jasmin sempat menengok Luna di rumah dan menyarankan pada keluarganya agar Luna segala berobat ke psikiater sebelum sesuatu yang mengancam nyawa terjadi lagi. Luna hanya melihatnya sekilas karena tidak tahu harus berbuat apa. Sewaktu Kak Jasmin sudah tidak ada di ruang tamu dan hanya menitipkan sekeranjang buah-buahan, Ayah dan Ibu berdebat.

Ayah mondar-mandir di ruang tamu. Tangannya di belakang punggung. Cara bergerak yang Luna hafal, yang selalu membuat sesuatu di dalam dirinya berhenti bernapas sebentar.

“Kau mau Luna masuk rumah sakit jiwa?” tanya Ayah gusar. Ayah tidak pernah tahu bahwa Ibu juga pernah berjuang melawan dirinya saat dulu Ayah menghilang. “Apa kata orang-orang nanti kalau mereka tahu anak kita cacat mental?”

Lihat selengkapnya