Sudah lama Luna tidak menulis surat dengan tangan. Sudah lama dia tidak memberi tahu orang lain tentang apa saja yang dia simpan.
Dulu, sebelum semua orang lebih memilih mengetik, ia selalu membawa beberapa lembar kertas lipat di dalam tas. Bukan untuk tugas sekolah. Bukan juga untuk permainan origami.
Untuk menulis surat kepada Kak Jasmin, kakak favoritnya.
Kak Jasmin adalah orang kedua setelah Baba yang membuat Luna percaya bahwa kata-kata yang ditulis bisa sampai ke hati seseorang, bahkan ketika suara gagal melakukannya.
Karena itu, ketika harus memilih jurusan kuliah, Luna teringat satu kalimat yang pernah diucapkan Kak Jasmin.
"Kamu suka nulis, kan? Kenapa gak diseriusin?"
Maka ia memilih sastra.
Dan entah bagaimana takdir mempertemukan mereka di kampus yang sama, beda gedung. Hanya saja, Luna tidak menyadari bahwa Kak Jasmin juga punya kakak favorit yang kelak membuat Luna harus siap kehilangan.
*
Kantin kampus siang itu ramai. Bau kopi murah dan gorengan bercampur dengan obrolan mahasiswa yang menggema dari segala penjuru. Luna duduk di pojok favoritnya, dekat jendela, dengan novel Bumi Manusia terbuka di depannya tapi belum benar-benar dibaca sejak dua puluh menit lalu.
Dia lebih sibuk memperhatikan seorang mahasiswa di meja seberang yang sudah mencoba membuka tutup botol minumnya selama yang kira-kira sama lamanya.
"Eh, ada yang nungguin nih dari tadi." Kak Jasmin tiba-tiba duduk di seberangnya, membawa nampan nasi dan teh tawar, masih mengenakan jas almamater dosen keperawatan yang kancingnya satu tidak terpasang dengan benar.
"Aku baru selesai kelas." Luna menutup bukunya. "Kancing Kakak."
Kak Jasmin melihat ke bawah, memperbaiki kancingnya tanpa ekspresi malu sedikit pun.
"Aku mau cerita sesuatu hari ini," kata Kak Jasmin tiba-tiba, mengaduk tehnya pelan. Matanya tidak menatap Luna langsung.
Luna mengangkat alis. Ini baru. Biasanya Kak Jasmin yang jadi pendengar, yang mengajukan pertanyaan kecil sampai Luna mau bercerita sendiri tanpa sadar.
"Aku akan menikah."