Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #20

Laki-Laki di Stasiun

Ada hal yang belum pernah diajarkan buku sastra kepada Luna: bahwa kepercayaan, seperti otot, bisa keseleo kalau terlalu cepat dipakai.

Kak Jasmin menikah pada bulan April, tepat sebelum musim hujan berakhir. Acaranya sederhana seperti yang dijanjikan: ruang tamu rumah orang tuanya di Bandung, kursi plastik putih berjejer, aroma melati dari rangkaian bunga buatan sendiri. Luna datang dengan blus krem yang baru dibeli dari marketplace dan perasaan yang sudah dia siapkan berhari-hari: aku akan baik-baik saja.

Dan memang, dia baik-baik saja.

Yang tidak dia siapkan adalah telepon tiga bulan kemudian, suara Kak Jasmin lembut tapi jelas. "Lun, mas Doni dapat penempatan di Makassar. Kami pindah bulan depan."

Luna duduk di lantai kamar kos, punggung bersandar ke tepi tempat tidur, menatap langit-langit yang kusam.

Dua hal itu bisa sama-sama benar, kata Kak Jasmin dulu di kantin.

Tapi tidak ada yang bilang bahwa dua hal yang sama-sama benar tidak bisa sama-sama menyakitkan.

*

Semester lima, Luna mulai berbisnis. Idenya sederhana: tidak minta uang dari orang tua. Jasa fotografi Ayah sudah tidak laku di zaman serba digital. Luna tahu dari nada suara Ibu di telepon bahwa rumah sedang kekurangan uang belanja.

Jadi Luna membuka lapak kecil di marketplace. Jilbab printing, totebag, pernak-pernik meja belajar. Cukup untuk menutup uang makan dan fotokopi modul yang harganya tidak masuk akal.

Masalahnya bukan di sana.

Masalahnya adalah bahwa Luna, sejak Kak Jasmin mengajarkan bahwa orang lain layak dipercaya dan membuka diri bukan kelemahan, mulai menerapkan pelajaran itu dengan cara yang, kalau dipikir sekarang, agak terlalu... harfiah.

Seperti saat supplier mukena minta transfer uang muka ratusan ribu. Luna transfer malam itu juga. Suppliernya tidak pernah ada, termasuk secara spiritual.

Ada yang menawarkan suplemen kesehatan dengan harga early bird. Luna beli dua kotak karena kasihan. Rasanya seperti tepung beras dicampur gula. Ada teman sekelas yang menjual lilin aromaterapi handmade dengan presentasi sangat menyentuh tentang UKM lokal dan pemberdayaan perempuan. Luna beli enam. Lilinnya meleleh dalam dua jam pertama pemakaian, meninggalkan noda di meja yang sampai sekarang masih ada.

Bukan Luna tidak tahu. Dia tahu. Tapi di kepalanya ada suara yang selalu berbisik: kalau kamu percaya mereka, setidaknya kamu sudah melakukan bagianmu.

Bagiannya, ternyata, cukup mahal.

Di akhir semester enam, tabungan yang dikumpulkan hampir dua tahun lenyap. Bukan sekaligus, tapi satu per satu, seperti air yang merembes dari retak yang kecil tapi konsisten. Luna tidak menceritakan ini kepada siapa pun. Kak Jasmin sedang hamil muda di Makassar. Tidak pantas menambah beban orang yang sedang bahagia.

*

Pelajaran kedua dari Kak Jasmin datang lewat telepon, dua minggu sebelum kepindahan.

"Kamu tahu gak, Lun, aku punya kebiasaan aneh. Kalau aku lagi di tempat umum dan ngerasa sesak, aku anggap orang-orang di sekitarku kayak buku harian. Aku ceritain hal-hal kecil ke mereka. Sopir taksi, kasir minimarket, ibu-ibu yang duduk di sebelahku di bis. Mereka gak harus nyimpen ceritaku. Tapi aku udah nulis, dan itu cukup."

Luna mendengarkan dari halte dekat kampus, angin sore menggerakkan kertas-kertas di tasnya.

"Coba deh," kata Kak Jasmin. "Kamu yang suka nulis, pasti ngerti rasanya."

Lihat selengkapnya