Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #21

Pelanggan Nomor Satu

Bima tidak pernah berhenti menghubungi Luna.

Awalnya masuk akal. Dia pelanggan. Luna pebisnis. Ada transaksi di antara mereka, ada alasan yang bisa dijelaskan dengan kalimat pendek dan logis.

Awalnya, komplain soal rasa. "Taste-nya kali ini beda, ya?"

Lalu soal pengiriman. Lalu soal stok. Satu per satu, masih bisa Luna masukkan ke dalam kategori: urusan biasa. Tapi lama-lama polanya terasa aneh. Terlalu konsisten untuk sekadar pelanggan.

"Luna, kamu lagi di mana?"

"Luna, lihat sosmed kamu, kayaknya kamu suka kucing, ya? Aku juga!"

"Luna, kamu udah makan belum?"

Luna menatap layar ponselnya setiap kali notifikasi itu muncul. Lalu membalas seperlunya. Singkat. Profesional. Cukup dekat untuk tidak terlihat dingin, cukup jauh untuk tidak perlu kehilangan.

Sampai suatu hari Bima komplain soal warna susunya yang terlalu pucat setelah diaduk, dan Luna sudah menyiapkan jawaban sebelum dia selesai bicara.

"Aku bukan produsen susu protein dan gak tahu cara menyelesaikan masalah kamu."

"Iya, maaf," kata Bima. "Aku cuma mau ngobrol."

Luna terdiam.

"Lain kali bilang itu dari awal," katanya, dengan nada yang berusaha terdengar kesal tapi tidak terlalu berhasil.

"Kalau aku bilang dari awal, kamu mungkin gak angkat."

Luna tidak menjawab. Karena itu benar, dan mereka berdua tahu itu benar.

*

Ponselnya berdering malam itu, seperti biasa.

"Luna."

"Apa?"

"Aku mau ngomong serius."

Tangannya yang memegang ponsel mengencang sedikit tanpa disuruh.

"Kalau kamu sibuk, nanti aja—"

"Gak. Sekarang."

Hening sebentar. Hening seseorang yang sedang menyusun kalimat dengan hati-hati karena kalimat itu penting.

Di seberang sana, Bima berdiri di dapur yang gelap. Satu tangannya memegang ponsel, satu tangannya memegang gelas yang sudah kosong sejak tadi.

Dia tidak takut ditolak. Itu yang aneh. Orang-orang selalu bilang takut ditolak adalah hal yang wajar, tapi yang Bima rasakan bukan itu.

Yang dia takutkan adalah sesuatu yang lebih spesifik: bahwa suatu hari Luna akan berhenti mengangkat teleponnya. Dan dia tidak akan pernah tahu apakah itu karena sesuatu yang dia lakukan, atau karena memang begitulah cara Luna menutup pintu pelan-pelan. Tanpa suara, sehingga tidak ada yang mendengar sampai pintunya sudah tertutup rapat.

Bima tidak tahu bagaimana caranya mencegah itu. Jadi dia melakukan satu-satunya yang dia bisa: terus menelepon.

Lihat selengkapnya