Luna tidak merencanakan untuk membuntuti Raven.
Atau mungkin merencanakan, tapi tidak mau mengakuinya bahkan kepada dirinya sendiri.
Yang terjadi adalah: Jumat sore, Raven pulang lebih awal. Luna melihatnya dari jendela, jaket abu-abu, tas di bahu kiri, langkah yang seperti biasa terlihat tahu ke mana pergi. Luna menutup laptopnya. Mengambil tasnya. Memberitahu rekan di sebelah bahwa dia ada urusan.
Urusan apa, dia tidak spesifikan.
Naik angkot yang sama. Turun di pemberhentian yang sama. Berjalan di trotoar yang sama dengan jarak yang cukup untuk tidak terlihat, tidak cukup untuk kehilangan. Seperti agen rahasia, hanya tanpa pelatihan apa pun dan dengan tas kantor yang agak terlalu besar untuk menyamar.
Raven belok ke kiri di perempatan, lalu masuk ke jalan yang lebih sepi dan lebih hijau. Rumah-rumah di sini lebih besar, pagarnya lebih tinggi. Ada pohon-pohon yang tampaknya sudah tumbuh lebih lama dari usia Luna.
Lalu Raven berhenti di depan sebuah pagar besi dengan tanaman merambat yang tidak sepenuhnya rapi, ada bagian yang sudah menjalar ke sisi yang tidak diminta. Di baliknya, sebuah rumah yang kata yang tepat untuk menyebutnya bukan mewah, tapi hangat. Lampu teras sudah menyala meski langit belum sepenuhnya gelap. Ada pot-pot bunga di tangga. Ada suara dari dalam yang terdengar samar, tawa atau televisi atau keduanya.
Raven membuka pagar. Dan di detik yang sama, menoleh.
Mata mereka bertemu.
Luna berdiri di trotoar dengan ekspresi seseorang yang tertangkap basah dan tidak punya penjelasan yang masuk akal. Tasnya masih di bahu. Satu kakinya masih setengah melangkah.
Raven menatapnya tiga detik. Lima. Tujuh.
Luna sudah menyiapkan mental untuk versi terburuk.
Tapi yang terjadi adalah Raven menghela napas panjang. Lalu membuka pagarnya lebih lebar. "Masuk."
Bukan hangat. Bukan dingin. Hanya lelah yang sudah memutuskan bahwa perlawanan tidak selalu sepadan dengan energi yang dikeluarkan.
Luna masuk sebelum Raven berubah pikiran.
*
Ruang tamu rumah itu terlihat seperti milik seseorang yang tahu cara tinggal, bukan sekadar menempati. Ada rak buku yang punya logika sendiri meski tidak disusun berdasarkan warna atau ukuran. Ada selimut rajut di sofa yang sudah berbentuk sesuai dengan tempat yang paling sering diduduki. Ada foto-foto di dinding, tidak banyak, tapi yang ada dipilih dengan serius.
Luna belum sempat memperhatikan foto-foto itu karena seseorang sudah turun dari tangga.
"Siapa ini?"
Perempuan itu turun dengan langkah cepat dan senyum yang tidak membutuhkan konteks, sudah menyala sebelum tahu siapa yang datang. Wajahnya mirip Raven tapi versi yang berbeda, seperti lagu yang sama dimainkan dengan instrumen berbeda. Lebih ekspresif. Lebih besar kehadirannya di ruangan meski tubuhnya kurus. Rambutnya digelung ke belakang.
Luna langsung tahu ini Kak Rachel.
"Teman kantor," kata Raven dari dapur.
"Oh, teman kantor," gumam Rachel, menatap Luna dengan cara yang terasa sangat jeli, seperti seseorang yang sudah terbiasa membaca situasi lebih cepat dari yang diceritakan kepadanya.
"Aku Luna."
"Rachel." Perempuan itu mengulurkan tangan. "Maaf rumahnya berantakan. Adik saya jarang punya tamu dan tidak pernah bilang mau ada tamu."
"Ini bukan tamu yang diundang," kata Raven dari dapur.
"Tetap tamu." Rachel mengabaikan itu dengan cara yang terlalu terlatih untuk tidak terlatih. "Mau minum apa, Luna?"
"Oh, gak usah repot—"
Tapi Raven sudah menyiapkan jahe hangat tanpa ditanya. Luna memperhatikannya dari sofa, melihat Raven membuka kulkas, lalu berhenti.
"Kak Rachel." Suaranya naik sedikit. "Makanan semalam belum disentuh?"
"Lupa," jawab Rachel dari ruang tamu, nada seseorang yang tidak terlalu menyesal.