Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #37

Sejenis Kebahagiaan

Luna menggenggam pensil warna itu sekali lagi. Begitu membuang satu helaan napas, ia membukanya satu per satu. Perlahan. Seperti takut patah. Tiga puluh enam warna. Raven mengingatnya. Padahal Bima juga mengingat banyak hal tentang dirinya.

Bedanya...

Entah kenapa hadiah dari Raven terasa seperti kemenangan.

Luna langsung menutup kotaknya. "Kenapa aku seneng banget cuma gara-gara beginian?"

*

"Mamaku ulang tahun," kata Raven pagi-pagi begitu Luna sampai di kantor. "Kak Rachel pengen kalian hadir."

Kartu itu diletakkan di sudut meja Luna. Bukan diserahkan langsung, hanya ditaruh, seperti menaruh berkas yang tidak terlalu penting. Raven sudah berputar badan sebelum Luna sempat membuka mulut.

"Kalian siapa?" tanya Luna.

Raven berhenti. Tidak menoleh sepenuhnya. "Kamu sama Nataya."

Luna menunggu kalimat berikutnya. Tidak ada.

Dia mengambil kartu itu. Pop up berbentuk kue ulang tahun, dibuat dengan tangan. Luna bisa melihat dari lipatan-lipatannya yang tidak sempurna. Dia membolak-baliknya.

"Nataya juga?"

"Ya."

Raven sudah berjalan menjauh.

Luna menatap punggung itu sampai menghilang di balik partisi. Lalu menatap kartu di tangannya lagi. Jarinya menyentuh lipatan yang tidak rapi di sudut kiri. Seseorang membuat ini dengan sabar, di waktu yang tidak sebentar.

Dia tidak tahu harus menyimpulkan apa dari itu.

Jadi dia tidak menyimpulkan apa-apa. Hanya meletakkan kartu itu di samping keyboard, menghadap ke atas.

*

Hotel itu mewah dengan lobi yang dipenuhi lampu kristal. Luna dan Nataya sudah tiba, membawa kue red velvet kecil yang sudah dihias dengan tulisan "Happy Birthday, Mama" dalam krim putih, dan satu kado dibungkus kertas kraft polos pilihan Raven. Katanya, karena pita dan kertas kado warna-warni terlalu mencolok.

Mereka kelihatan sibuk sekali. Luna membantu Raven menyelipkan sebuah kartu di atas kado, sementara Nataya memberi instruksi pada petugas hotel.

"Kamu masih kayak dulu," kata Nataya pelan sambil menata lilin di atas kue, di ruang tunggu kecil dekat ballroom. "Detail-oriented."

Luna tidak menjawab. Jarinya menyentuh sisi kue, memeriksa hiasan krim yang sudah rapi sejak tadi.

Nataya meletakkan lilin terakhir. "Aku minta maaf."

"Buat apa?"

"Kamu tau buat apa."

Luna mengangkat pandangannya sebentar, lalu turun lagi ke kue. "Iya."

Tidak ada yang bicara. Di luar ruang tunggu, suara tamu mulai ramai.

Lihat selengkapnya