Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #38

Resign

Sudah dua bulan sejak Luna mengajukan surat resign.

Pak Hendra sempat membujuknya bertahan. Luna mendengarkan, mengangguk, lalu tetap resign.

Penggantinya belajar terlalu cepat. Belum hafal nama klien tapi sudah disukai semua orang. Menyebalkan. Dan karena itulah Luna sedikit takut, bahwa ia benar-benar bisa pergi, dan semuanya akan baik-baik saja tanpa dirinya.

Di hari terakhirnya bekerja, meja Raven kosong.

Luna memilih untuk tidak perlu tahu alasannya. Tapi ada yang menyusup pelan di dadanya, pertanyaan yang tidak ia rencanakan untuk muncul: bagaimana kalau aku yang duluan ditinggalkan?

Padahal justru itulah rencananya dari awal. Meninggalkan lebih dulu, supaya tidak terlalu sakit. Tapi rupanya Raven ikut berkompetisi.

Luna benar-benar tidak habis pikir.

*

Nataya berjalan ke arahnya membawa goodie bag.

"Makanan kesukaan kamu," katanya, "sejak kita satu sekolah."

Luna mengintip isinya. Kerupuk udang. Oleh-oleh dari Semarang.

"Beneran mau resign?"

Luna mengangguk.

"Soal Raven," kata Nataya. "Dia lagi ngadepin masalah besar di keluarganya. Kemarin dia minta ketemu, butuh ditemenin." Ia berhenti sebentar. "Gak biasanya dia sesedih itu dan seterbuka itu. Kayaknya butuh waktu sekitar tiga bulan."

Luna mengunyah satu kerupuk supaya mulutnya ada kerjaan selain bicara.

"Aku bilang gini karena peduli sama dia, dan juga kamu. Tapi aku gak diizinin cerita ke siapa-siapa. Gak usah nanya-nanya ke dia."

Luna mengambil kerupuk kedua.

"Aku tahu hidup kamu susah sejak ada dia di kantor ini." Nataya berujar enteng, seperti bisa menembus kehidupannya begitu saja. Luna menatapnya. "Bima yang cerita. Di gym."

Nataya melanjutkan, suaranya sedikit berubah. "Dulu aku pernah dekat sama seseorang yang punya masalah besar. Aku pikir kalau aku cukup sabar, cukup ada, cukup usaha, semuanya akan baik-baik saja." Ia menarik napas. "Setahun lebih aku lakukan itu. Sampai suatu hari Raven bilang ke aku, 'Kak Nat, dari mana mau nuangin sesuatu kalau gelasnya sendiri udah kosong?'"

Luna tidak berkedip.

"Aku marah waktu itu. Tapi yang terjadi adalah aku udah terlalu capek untuk benar-benar hadir. Ada secara fisik, tapi gak punya apa-apa lagi yang bisa diberikan. Dan orang yang aku jaga itu bisa merasakan bedanya."

Nataya mengangkat bahu. "Aku gak bilang kamu harus melakukan apa-apa."

Lihat selengkapnya