Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #39

Batas yang Dilanggar

Pagi itu, Bima sedang meracik sesuatu yang berbau seperti apotek versi romantis. Jahe, kayu manis, entah apa lagi. Luna duduk di kursi pendek dekat kompor dengan lutut ditarik ke dada, memeluk lututnya sendiri seperti orang yang sedang bersiap untuk badai.

"Aku udah bilang sesuatu yang jahat," kata Luna.

"I know." Bima mengaduk tanpa menoleh. "Kamu udah cerita soal itu tiga kali."

"Karena aku gak bisa berhenti mikirin dia."

"Iya, aku tahu itu juga." Bima meletakkan sendok, menoleh. "Tapi ada yang belum kamu ceritain sampai hari ini."

Luna menatapnya.

“Sebenarnya apa yang kamu mau dari dia?”

Luna berpikir sekejap lalu mendapatkan jawaban setelah memandang jendela dapur. “Koneksi setara. Kayak teman pada umumnya. Bukan aku terus yang penasaran dia kenapa.”

“Gak bisa kamu berhenti penasaran?”

“Bima.”

Bima mengangguk. Tanpa komentar, tanpa muka hakim. Seperti orang yang menerima struk belanja tanpa memeriksa itemnya satu per satu. "Udah minta maaf?"

"Udah. Gak dibalas."

"Berarti beres." Dia kembali mengaduk. "Sisanya bukan di tanganmu."

"Tapi apa iya aku udah kelewat batas?”

"Luna." Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk menghentikan kalimat itu di tengah jalan. "Gak semua pintu yang kamu ketuk akan dibuka. Bukan karena kamu gak layak masuk. Tapi karena orang di dalamnya belum siap."

Luna menatap lantai.

"Aku pernah di posisi itu," kata Luna pelan. "Waktu masih dirawat. Ada seseorang yang datang dan aku gak mau dibuka." Dia berhenti. "Kak Jasmin nunggu di luar berbulan-bulan."

"Iya," kata Bima. "Dia nunggu."

"Tapi aku gak tahu apa Raven butuh yang nunggu atau yang pergi." Luna sedikit kesal.

“Gak semua orang butuh diselamatkan kayak kamu.”

Luna terkekeh, lalu memijat-mijat pelipisnya. “Mungkin bukan dianya. Mungkin aku yang ngelihat diri aku ada di dia. Dan aku butuh diselamatkan.”

“Tapi dia enggak, kan.”

Luna mengangguk, menghela napas berat. "Yang aku heran, dia tuh sangat membingungkan. Kadang buka diri. Kadang tiba-tiba nutup diri. Dan sekarang aku tau kalau dia lagi ngadepin masalah berat.”

“Tau dari?”

“Nataya,” kata Luna pendek. Kata-katanya mengambang setelah itu. “Bukan dari dia sendiri."

"Mungkin emang masalahnya besar dan dia punya alasan buat gak cerita."

Bima menaruh dua gelas di meja. Duduk di seberang. Minumannya mengepul.

"Nataya juga ternyata punya alasan sendiri waktu mihak orang-orang yang nyakitin kamu."

Luna menatapnya datar. "Kamu lagi ngebela pembully daripada istri sendiri."

"Bukan gitu."

"Kamu ngebela pembully."

"Luna—"

"Pembully, Bima."

Bima menghela napas panjang seperti orang yang sudah memperhitungkan risiko sebelum berbicara tapi tetap saja tidak cukup. "Aku cuma pengen kamu damai tanpa terlalu banyak ngeribetin diri sendiri."

"Aku ribet?"

"Iya."

Luna melotot.

"Kamu ribet," Bima menambahkan cepat, "tapi bikin aku jatuh cinta."

Luna menyipitkan mata. Ujung bibirnya bergerak sedikit ke atas meski dia tidak mengizinkannya. "Gak mempan."

Bima tersenyum. "Mempan."

Luna tidak menjawab. Dia mengambil gelas di depannya, menyesap, lalu mengernyitkan seluruh wajah. Pahit. Panas. Ada sesuatu yang tidak bisa dia identifikasi. "Ini apa?"

"Jahe, kayu manis, cengkeh, sedikit lada."

"Lada?"

Lihat selengkapnya