Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #40

Kalau Tidak Ada ...

Bima mengetuk pintu dua kali. Tidak ada jawaban.

Ia masuk, melihat Luna masih berbaring dengan selimut ditarik sampai hidung, lalu keluar lagi dan menutup pintu pelan.

Di dapur, ada suara wajan. Suara kulkas dibuka. Suara Bima yang berbicara sendiri dengan nada rendah, "Telurnya dua atau tiga..."

Luna mendengar semua itu dari balik pintu. Rumah yang tetap berjalan tanpa dirinya. Ternyata bumi memang tidak berhenti berputar.

Dia menarik selimut lebih tinggi.

*

Luna duduk di lantai kamar. Punggungnya merapat ke tepi tempat tidur dengan lutut ditarik ke dada. Di mejanya ada dua hal. Pertama, kotak P3K terbuka yang menunjukkan obat masuk angin. Kedua, buku harian yang belum dibuka sejak lama.

Luna menatap keduanya bergantian seperti orang yang belum memutuskan mau mulai dari mana.

Akhirnya dia tidak memilih keduanya. Dia berbaring di lantai, menatap langit-langit.

Langit-langit tidak punya jawaban. Tapi setidaknya diam.

Lalu dari balik pintu, ada suara.

Meong.

Luna tidak bergerak.

Meong.

Pintu terbuka sendiri, pelan, dari celah yang memang sengaja tidak dikunci. Muncul kepala kecil bermata satu.

Keti masuk dengan gaya seorang inspektur. Tidak langsung mendekat. Ia berdiri di tengah kamar, mengendus udara, menilai situasi dengan serius. Lalu berjalan ke Luna yang terbaring di lantai, duduk di sampingnya, dan tidak mengeong lagi.

Hanya duduk. Seperti agenda hariannya memang: menemani orang yang rebahan di lantai.

Luna menatapnya lama. Keti menguap lebar sekali, memperlihatkan seluruh giginya, lalu merebahkan diri di samping kaki Luna dengan berat yang tidak proporsional dengan ukuran tubuhnya.

Kamu kira kamu yang paling capek, pikir Luna.

Lihat selengkapnya