Pernikahan mereka dijadwalkan pada hari Sabtu, dua pekan lagi.
Undangan sudah dicetak. Katering sudah dipesan.
Dan Luna masih tidak percaya bahwa dirinya akan membangun sesuatu bernama: keluarga.
Rasanya baru kemarin dia mengangguk di hari wisuda itu, dengan toga yang berat di bahu dan kucing bermata satu yang menatapnya seperti sedang menilai apakah dia layak dipercaya. Satu tahun bertunangan berlalu dengan cara yang tidak Luna bayangkan sebelumnya: pelan, tenang, dan sebagian besar menyenangkan.
Sebagian besar.
*
Bima mengajaknya ke gym milik ibunya pada hari Kamis sore. Biar kamu kenal tempatku, katanya. Biar kamu tahu ke mana aku pergi setiap pagi.
Tempat itu lebih besar dari yang Luna bayangkan. Bersih, terang, berbau karet dan cairan antiseptik. Treadmill berjejer rapi. Di sudut, rak barbel disusun dari yang paling kecil ke yang paling besar, seperti keluarga yang tertib.
Bima masih berbicara dengan instruktur di belakang, menjelaskan jadwal bulan depan. Luna berjalan pelan menyusuri dinding.
Dan berhenti di depan poster-poster itu.
Perempuan-perempuan dengan postur sempurna, bahu terdefinisi, kulit yang tampak seperti tidak pernah mengalami sesuatu yang buruk.
Luna berdiri di sana lebih lama dari yang dia rencanakan.
Di kepalanya, sesuatu yang lama bergerak. Gambar-gambar yang tidak ingin dia ingat. Kamar yang pintunya tidak bisa dibuka dari dalam.
Tangannya dingin tiba-tiba.
*
Bima muncul dengan dua gelas plastik. Matanya langsung membaca sesuatu di wajah Luna yang Luna sendiri tidak sadar sedang ditampilkan.
"Duduk dulu," kata Luna sebelum dia sempat bertanya.
Mereka duduk di kursi rotan dekat treadmill yang sedang tidak dipakai. Luna menerima gelas es teh, meletakkannya di meja tanpa diminum.
Di cermin besar di depan mereka, Luna bergidik melihat pantulan dirinya sendiri. Rambut dikuncir asal, kemeja yang terlalu besar.
"Kamu takut apa?" tanya Bima.
Langsung ke sana. Tanpa bertanya kenapa kamu diam atau ada apa. Luna tidak tahu sejak kapan Bima belajar bertanya seperti itu.
Luna menatap gelasnya. Embun di permukaan plastik mengalir turun pelan, membentuk jalur kecil yang tidak lurus.
"Aku merasa," katanya, "aku belum cukup layak buat seseorang." Suaranya tidak bergetar, tapi justru karena itu terdengar lebih berat. "Ada banyak hal yang kamu tidak tahu. Yang aku tidak bisa ceritakan sekarang. Dan mungkin, kalau kamu tahu, ini akan menyiksa kamu."
Bima tidak langsung menjawab. Dia mengambil gelasnya, meminumnya sedikit, meletakkannya kembali.
"Aku yakin," katanya pendek.
"Kamu belum tahu semuanya."
"Aku tahu cukup."
"Itu beda." Luna menggeleng. "Tahu cukup artinya kamu memutuskan berdasarkan yang kamu lihat. Bukan berdasarkan yang sebenarnya ada."