Tiga hari setelah berobat ke psikiater, ponsel Luna berbunyi. Bukan dari siapa-siapa yang penting. Nataya, menanyakan progres salah satu klien lama.
Luna membalas soal klien itu. Singkat dan formal. Lalu, sebelum mengirim, jarinya menambahkan satu baris lagi.
Btw, Raven gimana kabarnya? Cuma nanya aja, gak maksud apa-apa.
Luna menatap kalimat itu. Ingat perkataannya sendiri. Besok, cerita ke aku. Tentang kamu. Apapun. Dan bagaimana dia sudah berjanji, sungguh-sungguh, untuk berhenti mengejar.
Ini beda, pikirnya sekali lagi. Ini cuma nanya kabar. Wajar, kan, nanya kabar rekan kerja lama.
Terkirim.
Nataya membalas satu kalimat pendek: Kenapa gak tanya dia langsung?
Luna tidak membalas itu. Tapi malam itu dia membuka email, mengetik subjek baru, dan tidak berhenti selama berminggu-minggu ke depan.
*
Sudah empat belas kali.
Luna tahu karena dia menghitungnya, tanpa sengaja, tapi tetap dihitung. Empat belas kali membuka email yang sama. Empat belas kali layar menampilkan hal yang persis sama. Empat belas kali jarinya menutup tab itu, lalu kembali dalam hitungan menit.
Status: Delivered.
Tidak lebih.
Di seberang meja, Bima menandatangani dokumen tanpa mengangkat kepala. Klien mereka sedang pergi ke belakang, mengambil sesuatu. Luna menutup laptop, membukanya lagi. Menutup.
"Coba minum dulu," kata Bima.
"Aku gak haus."
"Bukan soal haus."
Luna mengambil gelas air di sisinya. Meminumnya sedikit, lalu meletakkannya sedikit lebih keras dari yang dia rencanakan.
Bima tidak berkomentar. Dia membalik halaman dokumennya.
*
Pertemuan itu terjadi di lorong minuman. Bukan di kantor, bukan di tempat yang pernah Luna bayangkan. Di antara rak-rak botol air dan jus kemasan, Raven berdiri dengan keranjang belanja yang hampir kosong. Hanya satu botol air mineral dan satu kotak susu. Rambutnya sedikit lebih panjang. Bajunya bukan pakaian kantor.
Luna berhenti. Jarak di antara mereka cukup untuk pura-pura tidak melihat.
Tapi Raven menoleh duluan.
"Luna."
Bukan pertanyaan. Semacam konfirmasi atas sesuatu yang sudah dia duga.
"Hei." Luna melangkah mendekat, perlahan. "Kamu baik-baik aja?"
Raven diam. Satu detik. Dua.
"Nggak terlalu."
Luna tidak menyangka itu. Dia sudah siap untuk ya yang pendek, atau tatapan yang melewatinya begitu saja. Bukan dua kata yang terasa seperti celah di dinding beton.
Mereka berdiri di lorong itu lebih lama dari yang wajar. Raven mengambil botol air kedua dari rak, meletakkannya di keranjang. Tidak pergi. Tapi juga tidak membuka percakapan.
Luna yang bicara duluan. "Aku kerja di sekitar sini sekarang. Konsultasi pajak. Nemenin suami."
"Oh." Raven mengangguk. Matanya sebentar melirik ke arah pintu keluar, lalu kembali. "Aku pergi dulu."
"Iya." Luna membiarkan. Satu langkah, dua, tiga.
"Aku kirim beberapa email. Gak apa-apa kalau kamu gak mau balas."
Raven berhenti.
Punggungnya diam. Tidak menoleh.
"Aku baca."
Dan dia pergi.
*
Malam itu Luna membuka laptop sebelum Bima selesai menggosok gigi. Keti melompat naik ke pangkuannya tanpa diundang, berjalan dua langkah, lalu meringkuk dengan berat, lebih berat dari ukuran tubuhnya.
From: luna.mikaila@gmail.com
To: ravensahelga22@gmail.com
Subject: Kucingku Minta Nomor HP Kamu
Date: Senin, 14 Oktober, 21.47
Hai Raven,
Ini agak gila tapi Keti (kucing abu-abuku yang beratnya kayak karung beras) tadi duduk di depan laptop dan menatap foto profil emailmu selama dua menit penuh tanpa berkedip.
Aku gak tahu apa artinya ini secara ilmiah. Tapi menurut dia, sepertinya kamu perlu dihubungi.
Jadi ini dia. Email dari Keti. Aku cuma mengetik.
—Luna dan Keti
Dia tatap kalimat itu tiga puluh detik penuh. Bodoh. Terlalu kecil. Terlalu—
Kirim.
Bima keluar dari kamar mandi, melihat ekspresi istrinya, lalu melihat layarnya. "Kamu kirim apa?"
"Gak tahu. Keti yang kirim."
Dia berdiri sebentar di ambang pintu, menyesal telah bertanya. "Oke." Lalu mematikan lampu sisi mejanya dan berbaring.
Luna masih menatap layar. Delivered.
"Sayang."
"Iya."