Surat itu kembali lagi.
Luna sudah tidak terkejut. Amplop putih dengan tulisan tangannya sendiri, cap Return to Sender tercetak miring di pojok kanan. Dia meletakkannya di laci bersama yang lain tanpa menghitung. Menghitung sudah terasa seperti bentuk lain dari harapan yang tidak mau mati.
Tujuh hari. Tidak ada email. Tidak ada kabar. Tidak ada Raven.
*
Pagi itu, Nataya mampir ke meja konsultasi mereka di lantai empat dengan gaya seseorang yang kebetulan lewat, padahal jelas tidak kebetulan.
"Kak Rachel udah berangkat ke Belanda," kata Nataya tanpa basa-basi.
Luna mengangkat kepala dari dokumennya. "Kapan?"
"Minggu lalu."
"Kok gak ngasih kabar?"
Nataya mengangkat bahu dengan ekspresi seseorang yang tahu lebih banyak dari yang akan dia katakan. "Ada hal-hal yang susah buat dikabari." Dia berdiri. "Tunggu sampai kamu tahu sendiri. Dan kalau udah tahu, jangan desak Raven buat cerita."
Luna menatap punggung Nataya yang berjalan pergi. Lalu menatap layar laptopnya. Lalu kembali menatap punggung Nataya yang sudah menghilang di balik pintu.
Jangan desak Raven buat cerita.
Kalimat itu menempel sebentar ke kalimat lain yang jauh lebih lama tinggal di kepalanya. Untuk sepersekian detik, ada yang nyaris lucu dari semua ini. Persis yang selalu dia benci dari Ibu. Bukan larangannya. Tapi cara menyimpan sesuatu dan berharap orang lain cukup sabar menunggu tanpa bertanya.
Aku bukan Ibu, pikirnya cepat. Aku cuma khawatir.
Seperti terhipnotis, Luna segera mengetik: Rachella Helga.
Ada akun yang aktif, foto dari berbagai kota, nama yang sering muncul. Dia menggulir. Di antara postingan lama, ada satu yang ditandai orang lain dan di situ tertulis: bon voyage!
Dan dari situ Luna masuk ke foto bandara.
Di foto itu, Raven berdiri sedikit menunduk. Ada tangan seseorang yang menepuk rambutnya dengan cara yang terasa seperti kebiasaan lama. Seseorang di sebelah Raven tersenyum dengan mata berkaca. Seperti perpisahan yang tidak ingin diulang tapi harus tetap dilakukan.
Luna menggulir lebih jauh. Koper di konveyor bandara. Pelukan singkat di depan pintu keberangkatan. Tag lokasi: Amsterdam Schiphol Airport.
Dia membuka akun lain. Lebih sunyi, lebih jarang aktif. Menggulir ke bawah. Terus ke bawah.
Lalu berhenti.
Foto itu tidak besar. Tidak ramai. Sebuah taman di Belanda. Dua perempuan tertawa di depan kanal. Rachel. Dan Kak Sandra, perempuan berambut pendek yang pernah Luna temui di hotel.