Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #45

Dua Cangkir Kopi

Luna menemukannya lewat cara yang terasa terlalu sederhana untuk situasi yang sudah terasa begitu besar.

Nama lengkap. Jurusan. Magister. Kampus. Informasi yang tersimpan rapi di database publik yang tidak pernah dirancang untuk menyembunyikan siapa pun. Hanya tidak pernah ada yang mencari dengan sungguh-sungguh.

Luna mencarinya dengan sungguh-sungguh. Tiga malam, dua belas tab browser, dan satu sesi di mana Bima masuk ke kamar dan bertanya kamu ngapain lalu Luna menutup laptopnya terlalu cepat.

Ravensa Helga. S2. Komunikasi.

*

Kampus itu ramai dengan cara yang khas. Mahasiswa yang berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat, tidak ada yang sedang, semua sedang menuju ke suatu tempat atau baru saja meninggalkan suatu tempat.

Luna menunggu di dekat kantin kecil di lantai dasar. Tidak di depan ruang kelas karena itu terlalu seperti seseorang yang sedang mengepung. Kursi di pojok, kopi yang tidak dia minum, ponsel yang dia pegang tapi tidak dia lihat.

Empat puluh menit berlalu.

Luna memeriksa ponselnya. Meletakkannya. Mengambilnya lagi. Meletakkan lagi. Memindahkan cangkir kopinya dua sentimeter ke kiri tanpa alasan yang jelas. Memindahkannya kembali.

Lalu, dari arah tangga, Raven.

Luna mengenalinya sebelum benar-benar melihat wajahnya. Cara berjalan itu. Bahu yang selalu sedikit lebih rendah dari orang-orang di sekitarnya. Tas di satu sisi.

Dia berdiri. Terlalu cepat. Kursinya bergeser dengan bunyi yang sangat mencolok untuk kantin yang ramai. Satu atau dua orang menoleh. Luna pura-pura tidak mendengar.

"Raven."

Raven berhenti.

Mata mereka bertemu.

Luna tersenyum, atau mencoba tersenyum, tidak yakin hasilnya seperti apa. Tangannya sudah setengah terangkat, refleks lama, dorongan untuk memeluk seseorang yang sudah terlalu lama tidak ada.

Raven mundur satu langkah.

Tasnya bergeser. Sebuah buku tipis jatuh. Lalu pena. Lalu selembar kertas terlipat yang melayang ke lantai dengan cara yang terlalu pelan dan terlalu dramatis untuk situasi ini.

Raven membungkuk mengambilnya. Pena menggelinding. Raven mengejarnya dua langkah. Kertas hampir terinjak seseorang yang lewat. Luna otomatis menginjaknya dengan ujung sepatu untuk menghentikannya, lalu menyodorkannya ke Raven yang baru berdiri tegak lagi.

Mereka berdiri berhadapan dengan pena, buku, dan kertas yang sudah terkumpul kembali.

"Maaf, Raven," kata Luna.

Raven menatapnya. Ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa Luna baca.

Lalu Raven tertawa. Bukan tawa besar. Lebih seperti bunyi yang keluar ketika seseorang tidak tahu respons apa yang seharusnya diberikan dan tubuhnya memilih tawa sebagai jalan keluar paling tidak berbahaya.

"Kamu ini," kata Raven. Tidak dilanjutkan.

Luna menunggu.

Raven menggeleng kecil, menyerah pada sesuatu, lalu menoleh ke arah kasir. "Kopi?"

Lihat selengkapnya