Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #46

Keranjang Kucing

Luna datang ke kampus itu lagi. Kali ini, dengan keranjang.

Bukan keranjang belanja, bukan tas biasa. Keranjang khusus berwarna biru tua dengan ventilasi kecil di sisinya dan tiga kunci pengaman yang Luna beli dari toko hewan peliharaan di Jalan Braga. Tiga kunci karena Keti pernah kabur dari keranjang lama yang hanya punya satu, dan menghabiskan empat jam di atas lemari pakaian sambil menolak turun dengan ekspresi seseorang yang sedang melakukan protes diam.

Di dalamnya, Keti duduk dengan posisi yang sudah dia sempurnakan selama bertahun-tahun: kaki dilipat rapi ke bawah tubuh, ekor melingkar, mata satu yang masih bisa melihat menatap ke luar lewat celah ventilasi dengan ekspresi seekor kucing yang sudah terlalu tua untuk terkejut dengan apa pun.

Raven melihat keranjang itu sebelum melihat Luna.

Mereka sudah sepakat bertemu di bangku taman kecil di sudut kampus, tempat yang Raven pilih sendiri lewat pesan singkat kemarin. Luna tidak bertanya kenapa di sana. Dia hanya datang.

"Kamu bawa kucing," kata Raven.

"Ini Keti." Luna meletakkan keranjang di bangku di antara mereka. "Dia mau ketemu kamu."

Raven menatap keranjang itu. Di balik ventilasi, mata Keti yang satu menatap balik dengan intens, seperti sedang melakukan penilaian kredit.

"Kucing ini yang memutuskan?"

"Aku yang memutuskan. Tapi aku rasa dia setuju."

Ada masa ketika tangannya selalu bergerak untuk mengambil jawaban yang belum diberi, cerita yang belum diizinkan, akses ke pintu yang belum siap dibuka. Kali ini tangannya bergerak untuk hal yang berlawanan.

Membuka kunci. Bukan untuk masuk. Untuk melepaskan.

Klik pertama terdengar dari kunci keranjang itu. Klik kedua. Klik ketiga yang sedikit macet dan harus diputar dua kali.

Keti tidak langsung keluar. Dia mengendus udara dulu, mempertimbangkan situasi dengan serius, lalu melangkah keluar dan duduk tepat di tengah-tengah bangku di antara mereka berdua, seperti sedang memimpin rapat yang tidak diminta siapa pun tapi tidak bisa ditolak.

Luna mengelus pipinya. Keti menerima itu sebagai haknya.

"Boleh?" tanya Raven, menunjuk ke arah Keti.

Luna mengangguk.

Raven mengulurkan tangan dari bawah, pelan, cara yang benar untuk mendekati kucing yang tidak dikenal. Keti mengendus ujung jarinya. Menimbang cukup lama, lebih lama dari yang nyaman untuk ditunggu. Lalu menggesekkan pipinya ke telapak tangan Raven dengan gerakan tegas dan tidak meminta pendapat siapa pun.

Raven tersenyum. Bukan senyum kecil yang biasanya. Ini senyum yang lebih penuh, yang sampai ke matanya.

Luna melihat itu dan menyimpannya diam-diam.

Lihat selengkapnya