Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #47

Keti Berpindah Tangan

Keranjang biru itu ada di antara mereka.

Keti sudah kembali ke dalamnya sendiri, melingkar di sudut dengan ekor menutupi hidungnya, mata satunya terpejam, mendengkur dengan ritme yang tidak peduli pada apa pun yang sedang terjadi di sekitarnya. Sesekali telinganya bergerak, menangkap suara yang tidak ada kepentingannya untuk ditanggapi, lalu berhenti lagi.

Luna menatapnya lama.

"Raven," katanya. "Mau gak kamu urus Keti?"

Raven menoleh. "Aku?"

"Aku kewalahan." Luna menunjuk keranjang itu. "Makannya banyak. Tidurnya di mana-mana. Kemarin dia duduk di atas laptop aku selama dua jam dan aku gak tega ngusir dia."

Raven menatap Keti. Keti mendengkur lebih keras, seolah membenarkan.

"Aku serius," kata Luna. Tangannya membuka tutup botol minumnya. Menutupnya lagi.

"Kamu serius mau nitip kucing ke orang yang bahkan gak punya tanaman hias?"

"Tanaman hias beda."

"Sama-sama bisa mati kalau aku yang jaga."

Luna membuka tutup botolnya lagi. Menutupnya. "Tapi sebelum kamu jawab, tanyain aja semuanya ke dia. Gimana caranya jadi perempuan yang gak mandiri-mandiri banget biar butuh suami. Dia pasti tahu."

Raven menatapnya dengan ekspresi datar. "Kamu buka tutup botol itu tiga kali tapi gak diminum sama sekali."

Luna menatap botolnya. Lalu meminumnya, satu tegukan pendek, hanya untuk membuktikan sesuatu. "Keti udah berpengalaman. Bertahun-tahun dia hidup sama aku. Dia udah menyaksikan semua cara manusia mempersulit hal-hal yang sebetulnya sederhana. Termasuk cara menerima bantuan orang lain tanpa merasa berhutang."

Raven menatapnya. Lalu menatap Keti. Keti masih mendengkur, tidak berkomentar.

"Tapi awas," Luna mengangkat satu jari, "kalau kamu paksa dia jawab sebelum dia siap, nanti kena cakar."

"Aku belum setuju."

Luna melanjutkan seperti tidak mendengar. "Udah, urus aja sama Naufal. Kalian keliatan cocok buat jadi sepasang suami istri yang punya kucing."

Teriakan Raven keluar lebih keras dari yang dia rencanakan.

Beberapa mahasiswa yang lewat menoleh. Satu di antara mereka hampir tersandung karena menoleh terlalu lama.

Wajah Raven memerah, naik dari leher ke pipi dengan kecepatan yang tidak bisa disembunyikan oleh ekspresi datar mana pun. Matanya bergerak cepat ke arah Naufal yang berdiri tidak jauh, sedang membuka ponselnya, tapi jelas masih dalam jangkauan suara.

"Kamu ini," Raven menurunkan suaranya drastis, "bawel sama semua orang atau bawel sama aku doang?"

"Bawel sama semua orang. Tapi sama kamu lebih bawel."

"Jangan ngomong kencang-kencang depan orangnya. Aku malu." Raven meletakkan telunjuknya di bibir. "Aku belum jawab tawaran dia."

"Dia gak denger."

"Dia denger."

"Gak apa-apa kalau dia denger."

Raven menutup matanya sebentar. Satu tarikan napas panjang. Pipinya masih merah.

Di pangkuannya, Keti membuka mata satunya, memeriksa situasi dengan serius, memutuskan ini bukan urusannya, lalu menutupnya lagi.

Luna memutar tutup botolnya pelan. Membukanya. Menutupnya.

Raven melirik ke botol itu. "Kamu masih melakukan itu."

"Kebiasaan."

"Mengganggu."

"Maaf." Luna meletakkan botolnya di bangku. Tangannya sekarang tidak tahu harus di mana.

*

Hening sebentar.

Luna menatap tangan Raven yang ada di punggung Keti, tidak mengelus, hanya diletakkan di sana. Seperti seseorang yang tidak sadar tangannya sudah menemukan tempat yang wajar untuk berada.

"Kamu serius?" tanya Raven akhirnya. Lebih pelan. "Soal Keti?"

Luna mengangguk.

"Aku gak tahu cara merawat kucing…" tolak Raven.

"Keti gak butuh banyak." Luna menatap kucing tua itu. "Dia cuma butuh ada orang yang pulang ke tempat yang sama setiap hari."

Raven diam.

Naufal belum kembali.

Keti sudah melingkar di pangkuan Raven, diam. Suara kampus terus berjalan di sekitar mereka. Langkah, bel, seseorang yang tertawa terlalu keras di lorong seberang. Tapi di bangku itu, semuanya seperti sedikit lebih lambat.

Luna yang bicara duluan.

Lihat selengkapnya