Ibu datang tanpa pemberitahuan panjang. Hanya satu pesan singkat pagi itu: Ibu mau ke sana. Boleh?
Dan Luna, yang sedang menyeduh kopi sambil membaca berita di dapur, mengetik boleh sebelum sempat berpikir terlalu lama. Bima sudah berangkat ke gym sejak subuh. Rumah terasa lebih lapang, dengan cahaya pagi yang masuk dari jendela dapur. Segalanya terlihat lebih hangat dari cuaca sebenarnya.
Ibu tiba pukul sepuluh lewat sedikit, dengan tas kain yang selalu sama, bermotif batik cokelat dengan tali yang sudah pudar di bagian tengah karena terlalu sering dipakai. Luna sudah hafal isinya bahkan sebelum dibuka: toples kecil berisi rempeyek, beberapa amplop yang entah berisi apa, dan satu atau dua benda kecil yang Ibu sebut oleh-oleh meskipun perjalanannya hanya dua jam.
"Kamu udah makan?" tanya Ibu sebelum duduk.
"Udah."
"Makan apa?"
"Roti."
Ibu mengeluarkan rempeyek dari tasnya dengan ekspresi seseorang yang tidak menyalahkan tapi jelas tidak setuju. "Roti bukan sarapan."
Luna menerima toples itu. "Makasih, Bu."
*
Mereka duduk di ruang tamu. Teh sudah di meja. Ibu memegang cangkirnya dengan kedua tangan, jari-jari melingkari permukaannya, menyerap hangatnya sebelum meminumnya. Kebiasaan yang tidak pernah berubah.
Luna menatap tangan itu.
Tangan yang sama yang dulu menepuk pundaknya di rumah sakit. Yang melempar handuk ke arahnya setelah mandi dan beringsut pergi tanpa kata-kata. Yang menuangkan nasi dari bakul dengan gerakan yang selalu sama, selalu tepat, selalu ada meskipun tidak selalu cukup.
"Kamu kelihatan lebih baik," kata Ibu.
"Ibu juga."
Ibu tersenyum kecil. Menatap cangkirnya. "Ayah titip salam."
Luna mengambil rempeyek dari toples. Meletakkannya lagi tanpa dimakan. Mengambil lagi. Menggigit sedikit.
Di luar jendela, motor lewat. Tetangga memanggil seseorang. Dunia yang terus berjalan dengan kecepatan yang tidak peduli pada percakapan kecil di ruang tamu ini.
"Dia sehat?" tanya Luna akhirnya.
"Sehat. Tambah tua." Ibu menyesap tehnya. "Rambutnya udah putih semua sekarang."
Luna tidak menjawab. Di tangannya, rempeyek itu sudah remuk separuh tanpa disadari.
"Dia minta maaf," kata Ibu. Lebih pelan. "Bukan Ibu yang minta maaf. Ayah yang minta Ibu sampaikan. Kakinya udah gak kuat buat perjalanan jauh."